Kamis, 05 February 2026 06:30 UTC

DJPb Jatim dan DJPPR gelar edukasi investasi obligasi, Kamis, 5 Februari 2026. Foto: Januar.
JATIMNET.COM, Surabaya – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jawa Timur (Kanwil DJPb Jatim) Saiful Islam mengatakan bahwa proporsi investasi sebagai gaya hidup masyarakat dengan potensi investor domestik belum seimbang.
Dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 44 juta jiwa, proporsi gaya hidup investasi masih di bawah 20 persen.
Maka, Saiful mengajak agar kesadaran masyarakat terhadap investasi ditingkatkan, khususnya obligasi negara ritel. Upaya yang dijalankan dengan melakukan edukasi dan literasi secara berkala.
Harapannya, mampu memberikan pemahaman tentang investasi yang tidak harus dimulai dengan nominal besar. Namun, bisa dimulai dengan jumlah yang kecil dan dilakukan secara rutin.
“Secara memilih instrument yang aman dan risikonya dapat dikendalikan. SUN (surat utang negara) merupakan instrument yang relative aman karena dijamin oleh negara,” jelas Saiful, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menyatakannya saat pelaksanaan edukasi pembiayaan APBN serta sosialisasi literasi keuangan mengenai Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029T3 dan ORI029T6 guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam investasi yang aman dan produktif.
Kegiatan itu digelar Kanwil DJPb Jatim bersama Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) di Surabaya.
Saiful menjelaskan bahwa edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya investasi. Salah satu manfaatnya dapat mendukung pembangunan nasional sekaligus memperkenalkan instrumen investasi SUN yang dapat dibeli investor ritel.
“Awal tahun ini Kementerian Keuangan akan menerbitkan SUN seri ORI029 yang dapat dibeli secara ritel oleh investor perorangan melalui perbankan maupun mitra distribusi lainnya,” katanya.
Perwakilan DJPPR, Chandra Wibowo, menjelaskan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel merupakan bagian dari strategi pembiayaan APBN yang dilakukan secara prudent sekaligus memperkuat basis investor domestik.
“Pembiayaan APBN tidak hanya bertujuan menutup defisit, tetapi juga sebagai instrumen manajemen risiko fiskal,” katanya.
“Melalui penerbitan SBN Ritel seperti ORI029, pemerintah memperkuat pembiayaan domestik, memperluas basis investor, serta menjaga stabilitas dan kesinambungan APBN di tengah dinamika ekonomi global,” Chandra menjelaskan.
Ia menambahkan, partisipasi masyarakat dalam SBN Ritel berkontribusi langsung pada pembiayaan belanja negara yang produktif. Hal ini sekaligus memperkuat ketahanan fiskal nasional dalam jangka menengah dan panjang.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, pemerintah juga menargetkan peningkatan partisipasi aparatur sipil negara (ASN) baik di lingkungan pemerintah pusat maupun daerah sebagai investor potensial.
Jatim dinilai memiliki potensi besar karena selama ini kontribusi investor SBN ritel dari provinsi tersebut termasuk tiga besar nasional setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
“Potensi investor di Jawa Timur sangat tinggi sehingga edukasi dan sosialisasi terus dilakukan agar semakin banyak masyarakat, termasuk ASN, berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan melalui investasi yang aman dan menguntungkan,” kata Chandra.
Sementara itu, Analis Keuangan Negara Ahli Muda Direktorat Surat Utang Negara, Bahal Anugrah Pranata, memaparkan karakteristik ORI029T3 dan ORI029T6 sebagai instrumen investasi yang aman, terjangkau, dan memberikan imbal hasil tetap.
“ORI029 menawarkan kupon tetap, dijamin oleh negara, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Dengan pilihan tenor tiga dan enam tahun, masyarakat memiliki fleksibilitas menyesuaikan investasi dengan tujuan keuangan masing-masing,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa investasi pada ORI tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga menjadi bentuk partisipasi langsung masyarakat dalam pembiayaan APBN dan pembangunan nasional.
