Minggu, 01 February 2026 08:00 UTC

Sejumlah akademisi dari Surabaya ini melakukan diskusi tentang swasembada energi, Minggu,1 Februari 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Program Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari agenda swasembada energi nasional mulai mendapat sokongan kuat dari kalangan akademisi. Dukungan tersebut menguat seiring penunjukan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), yang dinilai mampu mempercepat perumusan sekaligus eksekusi kebijakan energi jangka panjang.
Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ary Bachtiar Krishna Putra, menilai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memiliki keunggulan teknis yang sulit ditandingi sumber energi lain. Menurutnya, nuklir unggul dalam hal efisiensi bahan bakar dan kestabilan pasokan listrik.
“PLTN itu unggul dari sisi densitas energi. Dengan bahan bakar yang sangat kecil, kita bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” kata Ary dalam diskusi bertajuk Swasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi di Surabaya, Minggu, 1 Februari 2026.
Ia menjelaskan, dari sisi lingkungan, PLTN juga masuk kategori energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida selama proses pembangkitan. Kondisi tersebut membuat energi nuklir relevan dengan komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.
“Secara proses, nuklir itu bersih. Tidak ada emisi karbon, yang ada hanya panas untuk memutar turbin,” ujarnya.
Namun, Ary menegaskan bahwa tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia bukan terletak pada aspek teknologi. Ia menyebut penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur, serta integrasi kawasan industri justru menjadi pekerjaan rumah terbesar. Isu-isu tersebut kerap tertutup oleh stigma lama yang melekat pada energi nuklir.
“Teknologi sekarang jauh lebih aman dibanding masa lalu. Sistemnya makin otomatis, kontrolnya ketat, dan ketergantungan pada faktor manusia semakin kecil,” tegasnya.
Pandangan teknis ini menjadi pintu masuk bagi diskusi yang lebih luas, terutama dari sisi ekonomi makro dan dampaknya terhadap fiskal negara.
