Kamis, 18 June 2026 02:00 UTC

Para peserta pelatihan sedang mengikuti praktik operator wheel loader yang digelar Disnaker Kabupaten Gresik. Foto: Agus Salim
JATIMNET.COM, Gresik – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Salah satunya melalui pelatihan operator wheel loader yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Gresik.
Sebanyak 16 peserta mengikuti ujian praktik akhir usai menjalani pelatihan selama 28 hari di Balai Latihan Kerja (BLK) Disnaker Gresik, mulai 14 Mei hingga 18 Juni 2026.
Program yang menggandeng LPK Abadi Edu Pratama tersebut menjadi salah satu upaya menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri, khususnya sektor alat berat.
Kepala Disnaker Gresik Zainul Arifin mengatakan bahwa minat masyarakat terhadap pelatihan ini cukup tinggi.
Dari 305 orang yang mendaftar, hanya 16 peserta yang lolos setelah melalui tahapan seleksi administrasi, Computer Assisted Test (CAT), dan wawancara.
“Ujian praktik ini untuk mengukur kemampuan peserta dalam mengoperasikan wheel loader sesuai standar kompetensi. Harapannya, mereka siap masuk dunia kerja,” ujar Zainul, Kamis 18 Juni 2026.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendapat materi pengoperasian alat berat. Namun, juga dibekali pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perawatan alat, hingga praktik langsung di lapangan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik Zainul Arifin saat diwawancarai wartawan. Foto: Agus Salim.
Zainul menyebut program pelatihan di BLK Disnaker Gresik telah menunjukkan hasil positif. Sejumlah peserta pelatihan periode sebelumnya pada 2024-2025 disebut telah terserap ke dunia kerja.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Masyarakat Kadin Gresik Suhartini menjelaskan pelatihan dirancang dengan porsi lebih banyak praktik dibanding teori. Sebanyak 70 persen kegiatan berupa praktik, sedangkan 30 persen sisanya teori.
“Peserta diharapkan mampu mengoperasikan wheel loader dengan aman dan profesional sesuai kebutuhan perusahaan,” katanya.
Salah satu peserta, Ahmad Sihabuddin Zarkasyi, warga Kecamatan Bungah, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Menurutnya, pelatihan operator alat berat secara mandiri membutuhkan biaya cukup besar.
“Kalau ikut pelatihan sendiri biayanya bisa belasan juta rupiah. Program ini memberi kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang kerja,” ujarnya.
Ahmad berharap sertifikat kompetensi yang diperoleh bisa menjadi modal untuk meniti karier sebagai operator alat berat.
Melalui program yang dibiayai DBHCHT 2026 tersebut, Pemkab Gresik berupaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan kerja sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. (adv/inforial)
