Diguyur Abu Bromo, Siswa SD Ngadisari Tetap Semangat Sekolah

Zulkiflie

Reporter

Zulkiflie

Selasa, 19 Maret 2019 - 15:58

JATIMNET.COM, Probolinggo – Hujan abu vulkanik Gunung Bromo yang mengguyur kawasan Kecamatan Ngadisari tak menyurutkan siswa-siswi SDN Ngadisari 2 untuk tetap belajar ke sekolah.

Mereka tetap semangat berangkat ke sekolah ditengah hujan abu yang mengguyur sejak Senin 18 Maret 2019 malam.

Para siswa tetap asyik beraktivitas seperti biasanya. Bermain di halaman sekolah sebelum jam pelajaran dimulai, dan bersenda gurau. SDN Ngadisari 2, berada di titik terdekat dengan Gunung Bromo dengan jarak sekitar 3,5 kilometer.

Guru kelas SDN Ngadisari 2, Ahmad Samhaji mengatakan, para siswa sudah terbiasa menghadapi guyuran abu vulkanik Bromo. Total siswa di sekolah ini ada 42 orang.

BACA JUGA: Enam Desa di Sukapura Terpapar Abu Vulkanik Gunung Bromo

Menurut Ahmad, para siswanya tidak mempersoalkannya. Apalagi saat ini tengah memasuki masa ujian semester, yang pada hari Selasa jadwal ujian mata pelajaran PKN dan Matematika.

“Untuk aktivitas belajar mengajar tetap normal, meski tengah diguyur hujan abu. Soal pengamanan, para siswa sudah dibagikan masker jadi aman untuk pernafasannya,” jelas Ahmad.

BELAJAR. Suasana belajar mengajar di SDN Ngadisari 2, Kecamatan Sukapura, Selasa 19 Maret 2019. Foto: Zulkiflie

Salah satu siswa kelas 6, Pujiono mengaku tak merasa terganggu meski kondisi di desanya tengah diguyur hujan abu. Ia tetap bersekolah, lantaran mengaku sudah terbiasa dengan erupsi Bromo.

“Tidak apa-apa meski turun abu, tetap ke sekolah soalnya sekarang kan sedang ujian semester,” kaa dia.

Dijelaskan Camat Sukapura, Yulius Christian, aktivitas belajar mengajar di Kecamatan Sukapura tetap berjalan normal, lantaran masyarakat sekitar menilai kondisi masih aman.

BACA JUGA: Tinggi Kolom Abu Vulkanik Bromo Mencapai 1.500 Meter

Menurutnya, meski ada guyuran abu vulkanik warga sudah paham langkah apa yang akan diambil ketika erupsi Gunung Bromo semakin meningkat.

“Sejauh ini tetap normal, masyarakat di sini umumnya sudah paham dan tanggap akan bencana. Jadi meski ada erupsi yang lebih besar, warga sudah tahu langkah apa yang harus diambil,” jelas Yulius.

Baca Juga

loading...