Rabu, 27 May 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Risiko di usia muda. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Diabetes pada usia muda semakin sering menjadi topik pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu penyakit ini identik dengan orang tua, kini semakin banyak kasus ditemukan pada kelompok usia produktif yang masih aktif bekerja, kuliah, atau membangun karier.
Fenomena tersebut bukan sekadar kesan yang muncul dari media sosial atau cerita viral. Berbagai data kesehatan menunjukkan bahwa jumlah penderita diabetes terus meningkat, sementara pola hidup masyarakat modern mengalami perubahan besar yang ikut memengaruhi kesehatan metabolik.
Akibatnya, banyak orang berusia 20 hingga 40 tahun mulai menghadapi risiko yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia yang lebih tua.
Diabetes memang tetap lebih umum pada usia lanjut, tetapi batas usia yang dianggap "aman" kini semakin kabur.
Jumlah Penderita Diabetes Terus Bertambah
Diabetes menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia saat ini. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa pada 2025 terdapat sekitar 589 juta orang dewasa usia 20–79 tahun hidup dengan diabetes, setara dengan hampir 1 dari 9 orang dewasa di dunia. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.
Indonesia termasuk negara yang menghadapi beban besar. Menurut IDF Diabetes Atlas, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai sekitar 20,4 juta orang dewasa pada 2024, menjadikan Indonesia berada di jajaran negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar secara global.
Yang menarik, peningkatan kasus tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Data nasional menunjukkan diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif yang aktif secara ekonomi dan sosial.
Hal ini menandakan bahwa perubahan lingkungan dan kebiasaan hidup memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk risiko kesehatan masyarakat modern.
Gaya Hidup Modern Membuat Tubuh Lebih Pasif
Salah satu perubahan terbesar dalam beberapa dekade terakhir adalah berkurangnya aktivitas fisik harian. Banyak pekerjaan kini dilakukan di depan komputer selama berjam-jam.
Aktivitas yang dahulu membutuhkan banyak gerakan kini dapat dilakukan melalui aplikasi atau perangkat digital. Bahkan, kebutuhan sehari-hari seperti berbelanja, memesan makanan, hingga membayar tagihan dapat dilakukan tanpa meninggalkan kursi.
Kondisi tersebut menciptakan gaya hidup sedentari atau kurang bergerak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kurang aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2.
Masalahnya bukan hanya soal olahraga yang jarang dilakukan. Banyak orang aktif bekerja tetapi tetap menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan keseimbangan metabolisme tubuh.
Pola Konsumsi Juga Berubah Drastis
Selain aktivitas fisik, pola makan masyarakat juga mengalami transformasi besar. Makanan siap saji, camilan ultra-proses, serta minuman berpemanis kini tersedia hampir tanpa batas.
Pilihan tersebut memang menawarkan kemudahan, tetapi sering kali mengandung kalori, gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi.
WHO merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian, dengan target ideal di bawah 5 persen atau sekitar 25 gram per hari bagi orang dewasa untuk manfaat kesehatan tambahan.
Dalam praktiknya, batas tersebut dapat terlampaui hanya dari beberapa produk yang dikonsumsi sepanjang hari. Secangkir kopi susu, minuman kemasan, atau dessert favorit mungkin terlihat tidak berlebihan jika dikonsumsi secara terpisah. Namun, akumulasi kebiasaan harian itulah yang menjadi perhatian para ahli kesehatan.
Pola konsumsi modern bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Tantangannya terletak pada bagaimana masyarakat mampu menyeimbangkan kenyamanan gaya hidup dengan kebutuhan kesehatan jangka panjang.
Banyak Orang Tidak Menyadari Risikonya
Salah satu alasan diabetes masih sering terlambat terdeteksi adalah karena penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Menurut IDF, sekitar 73,2 persen penderita diabetes di Indonesia diperkirakan belum terdiagnosis. Artinya, sebagian besar penderita belum mengetahui bahwa kadar gula darah mereka telah berada di atas batas normal.
Ketika gejala mulai muncul, keluhannya sering dianggap biasa. Rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, atau penurunan berat badan sering dikaitkan dengan stres, pekerjaan yang padat, atau kurang tidur.
Karena itu, tidak sedikit orang yang baru mengetahui kondisi kesehatannya setelah menjalani pemeriksaan laboratorium atau mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.
Situasi ini memperkuat anggapan bahwa diabetes datang secara tiba-tiba, padahal prosesnya sering berlangsung perlahan selama bertahun-tahun.
Mengubah Persepsi Menjadi Langkah Awal
Pandangan bahwa diabetes hanya menyerang orang tua perlu mulai diperbarui. Risiko penyakit tidak lagi ditentukan oleh usia semata, melainkan oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, pola hidup, dan kebiasaan sehari-hari.
Kesadaran tersebut penting agar kelompok usia muda tidak merasa kebal terhadap penyakit metabolik. Pemeriksaan kesehatan berkala, aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, serta pengelolaan berat badan tetap menjadi langkah pencegahan yang relevan di segala usia.
Di tengah perubahan gaya hidup modern, menjaga kesehatan bukan lagi soal menunggu usia bertambah tua. Justru pada masa produktif inilah banyak keputusan kecil sehari-hari akan menentukan kondisi tubuh di masa depan.
Karena itu, ketika muncul pertanyaan mengapa diabetes bukan lagi penyakit orang tua, jawabannya tidak terletak pada satu faktor tunggal. Ia merupakan cerminan dari cara hidup modern yang berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan tubuh untuk beradaptasi.
