Logo

Desil Naik, Pedagang Kerupuk di Mojokerto Kehilangan Bansos

Reporter:,Editor:

Jumat, 11 September 2026 04:00 UTC

Desil Naik, Pedagang Kerupuk di Mojokerto Kehilangan Bansos

Syaichuddin warga Kradenan, Kelurahan Kauman, Kota Mojokerto tak terima bansos karena desil naik. Foto: Wanto.

JATIMNET.COM, Mojokerto - Perubahan desil atau sistem pembagian masyarakat menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan memicu polemik.

Sebab, peluang bagi sebagian warga kurang mampu menerima bantuan semakin kecil. Kekhawatiran itu seperti yang dirasakan Syaichuddin, 44 tahun, warga Kradenan, Kelurahan Kauman, Kota Mojokerto.

Pria yang saban hari bekerja sebagai pedagang kerupuk keliling itu kini masuk desil 6 hingga 10 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Perubahan tersebut membuatnya tak lagi menjadi prioritas utama penerima bantuan sosial pemerintah.

Padahal, kondisi ekonominya tidak banyak berubah. Setiap hari Syaichuddin masih berkeliling menjajakan kerupuk dengan omzet sekitar Rp40 ribu. Setelah dikurangi biaya bensin, uang yang dibawa pulang hanya sekitar Rp35 ribu lebih.

Sebelumnya, kondisi serupa masih membuat Syaichuddin tercatat dalam desil 3. Ia bahkan sempat menerima bantuan melalui Kantor Pos sekitar Rp900 ribu serta bantuan kebutuhan pokok berupa beras dan minyak.

Persoalan itu baru terasa ketika bantuan kembali disalurkan. Syaichuddin melihat sejumlah tetangganya masih menerima bantuan, sedangkan dirinya tidak lagi mendapatkannya.

Ia kemudian mengecek data dirinya di kelurahan. Dari pengecekan tersebut, ia mengetahui status desilnya telah berubah dari desil 3 menjadi berada di kisaran desil 6 hingga 10.

“Awalnya desil 3. Saya pernah dapat bantuan. Tapi setelah dicek di kelurahan, ternyata desil saya naik jadi 6 sampai 10,” ungkap Syaichuddin.

Perubahan tersebut membuatnya khawatir. Sebab, penghasilan dari berjualan kerupuk keliling harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga bersama seorang anaknya.

Syaichuddin memang tinggal di rumah milik sendiri. Namun, rumah tersebut merupakan peninggalan orang tuanya. Baginya, kepemilikan rumah itu tidak serta-merta menggambarkan kondisi ekonominya saat ini.

Karena itu, ia berharap perubahan data desil dapat ditinjau kembali apabila tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya. Menurutnya, memiliki pekerjaan dan memperoleh penghasilan setiap hari bukan berarti kehidupannya sudah berkecukupan.

“Saya berharap sepantasnya penghasilan saya itu sebanding dengan pekerjaan yang saya lakukan,” ujarnya.

Kini, Syaichuddin datang untuk mengurus sekaligus mencari tahu apakah data desilnya masih dapat diperbarui. Ia juga berharap ada penjelasan yang jelas mengenai dasar perubahan status ekonominya tersebut.

Bagi Syaichuddin, perubahan desil bukan sekadar perubahan angka dalam data. Status tersebut berkaitan langsung dengan peluangnya mendapatkan bantuan yang sebelumnya pernah ia terima.

Pengalamannya menunjukkan bahwa akurasi pendataan menjadi penting dalam menentukan penerima bantuan. Sebab, bagi warga dengan penghasilan pas-pasan, perubahan status kesejahteraan dalam data dapat berdampak langsung pada kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari.