Logo

Deforestasi Ancam Keanekaragaman Hayati dan Picu Bencana Lingkungan

Reporter:,Editor:

Senin, 26 October 2026 07:56 UTC

Deforestasi Ancam Keanekaragaman Hayati dan Picu Bencana Lingkungan

Salah satu deforestasi yang terjadi di Kalimantan Utara pada 2024 silam, berdasarkan temuan Auriga Nusantara. Foto: Auriga Nusantara

JATIMNET.COM – Deforestasi menghilangkan habitat flora dan fauna sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem. Perubahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, atau permukiman dapat menghapus tutupan vegetasi secara permanen dan mengurangi fungsi ekologis hutan.

Ahli Entomologi IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa hutan berperan penting sebagai tempat hidup berbagai spesies, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim.

“Hutan memiliki peran utama sebagai habitat flora dan fauna, penyeimbang siklus air, serta pengatur iklim. Ketika hutan hilang, seluruh fungsi tersebut ikut lenyap,” ujar Prof. Upik.

Ia menilai hilangnya habitat alami menjadi salah satu dampak serius deforestasi, terutama bagi spesies endemik yang bergantung pada ekosistem tertentu. Jika kerusakan berlangsung terus-menerus, sejumlah spesies berisiko mengalami kepunahan.

“Dampak paling serius dari kondisi tersebut adalah hilangnya habitat alami flora dan fauna, terutama spesies endemik. Deforestasi yang terus berlanjut dapat menyebabkan kepunahan berbagai jenis makhluk hidup yang tidak dapat dihindari,” lanjutnya.

Deforestasi juga mengganggu siklus air karena berkurangnya vegetasi dan kemampuan kawasan hutan menyerap serta menyimpan air. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Di sisi lain, hilangnya tutupan hutan mengurangi kemampuan alam menyerap karbon. Akibatnya, emisi gas rumah kaca dapat meningkat dan memperburuk perubahan iklim serta pemanasan global.

Untuk menekan dampak tersebut, Prof. Upik menekankan pentingnya reboisasi dan penghijauan, pengawasan hutan dengan dukungan aparat serta teknologi satelit, dan penegakan hukum. Edukasi masyarakat serta pemanfaatan sumber daya hutan secara bijak juga diperlukan untuk mendukung pelestarian lingkungan.

Kerusakan hutan tidak hanya berdampak pada keanekaragaman hayati dan lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesehatan manusia. Menurut Prof. Upik, perubahan habitat akibat deforestasi dapat memengaruhi perilaku nyamuk dan meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama di kawasan bekas hutan yang menjadi permukiman.