Logo

Cegah Obesitas Anak, Asupan Gizi Harus Diimbangi Aktivitas Fisik

Reporter:,Editor:

Jumat, 19 June 2026 11:30 UTC

Cegah Obesitas Anak, Asupan Gizi Harus Diimbangi Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik anak memengaruhi tumbuh kembangnya. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya – Memberikan makanan bergizi kepada anak menjadi salah satu perhatian orang tua dalam mendukung tumbuh kembang. Namun, pemenuhan nutrisi saja dinilai belum cukup jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dan stimulasi yang sesuai.

Dokter Spesialis Anak, dr. Atika Nurmalitasari, mengatakan keseimbangan antara asupan gizi dan aktivitas fisik menjadi kunci agar pertumbuhan anak berjalan optimal sekaligus mencegah risiko obesitas sejak dini.

Hal tersebut disampaikan dalam kampanye “Temani Langkahmu, Kini dan Nanti” yang digelar Frisian Flag Indonesia di Atrium Tunjungan Plaza 6 Surabaya, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut Atika, susu dapat menjadi salah satu sumber nutrisi penting bagi anak. Namun, asupan nutrisi harus disertai kebiasaan hidup aktif agar tubuh anak berkembang secara seimbang.

“Selain susu untuk pemenuhan nutrisi, aktivitas fisik dan stimulasi yang baik untuk tumbuh kembang anak juga harus optimal. Karena kalau cuma makan saja, tapi kehidupannya sedentary, hanya duduk atau rebahan sepanjang hari, perkembangannya jadi tidak maksimal,” kata Atika.

Ia menjelaskan, kurangnya aktivitas fisik pada anak dapat berdampak pada perkembangan motorik, pertumbuhan tinggi badan, hingga meningkatkan risiko kelebihan berat badan.

“Tinggi badan tidak maksimal, berat badan bisa berlebih sehingga menjadi obesitas. Itu juga tidak baik. Jadi, aktivitas fisik penting banget,” ujarnya.

Atika menyebut, kebiasaan hidup sehat perlu dibangun sejak anak masih kecil. Dalam hal ini, orang tua memiliki peran besar karena menjadi contoh utama bagi anak dalam menerapkan pola makan, aktivitas, dan penggunaan gawai.

“Peran orang tua yang paling penting adalah mencontohkan bagaimana habit yang baik. Makan yang baik, aktivitas fisik yang baik, kemudian memberikan aktivitas fisik yang sesuai. Jadi jangan cuma dikasih handphone saja,” tuturnya.

Ia mendorong orang tua memberikan ruang bagi anak untuk bergerak dan bermain sesuai usianya. Untuk anak usia balita, aktivitas seperti bermain di luar rumah, berlari, bermain bola, hingga berinteraksi dengan teman sebaya dapat membantu perkembangan fisik dan sosial.

“Kalau misalnya sudah toddler, diajak main keluar, bermain dengan teman-teman sebaya, lari-lari, main bola, panjat-panjat, itu sangat baik untuk tumbuh kembangnya,” ujar Atika.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya perhatian pada masa emas perkembangan anak atau golden age, yakni sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Golden age itu dari masa kandungan sampai usia dua tahun. Jadi 1.000 hari pertama kehidupan. Itu adalah fase paling kritis untuk perkembangan otak anak. Setelah itu anak tetap berkembang, tetapi tidak sepesat dua tahun pertama kehidupannya,” katanya.

Sementara itu, Marketing Director Frisian Flag Indonesia, Intan Ayu Kartika, mengatakan edukasi mengenai nutrisi dan gaya hidup sehat menjadi bagian dari upaya mendukung keluarga Indonesia.

Menurutnya, keluarga membutuhkan pemahaman bahwa tumbuh kembang anak tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan.

“Kami percaya bahwa nutrisi yang baik seperti susu adalah fondasi yang penting agar keluarga tetap sehat, semangat, dan optimistis,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diajak belajar mengenai proses produksi susu sekaligus mengikuti aktivitas kreatif yang melatih motorik dan rasa ingin tahu.

Kombinasi antara pemenuhan gizi, aktivitas fisik, serta stimulasi yang tepat diharapkan dapat membantu anak tumbuh sehat dan terhindar dari berbagai risiko kesehatan, termasuk obesitas.