Kamis, 18 June 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Liburan hemat Surabaya. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Liburan singkat semakin menjadi pilihan banyak anak muda, mahasiswa, hingga pekerja muda yang ingin beristirahat tanpa harus menghabiskan banyak uang. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, konsep wisata akhir pekan dengan anggaran terbatas justru semakin relevan.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2024 mencapai sekitar 1,02 miliar perjalanan, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut meningkat lebih dari 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar perjalanan dilakukan di dalam negeri dengan durasi relatif singkat sehingga konsep liburan hemat semakin populer.
Menariknya, Jawa Timur menjadi salah satu tujuan utama wisata domestik. Pada akhir 2024, sekitar 20 persen perjalanan wisata nusantara tercatat menuju Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa destinasi yang dekat, terjangkau, dan mudah dijangkau masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.
Menentukan Tujuan Sebelum Menentukan Anggaran
Kesalahan yang sering terjadi adalah menentukan anggaran terlebih dahulu tanpa mengetahui tujuan perjalanan. Akibatnya, banyak orang akhirnya mengeluarkan biaya di luar rencana karena kebutuhan selama perjalanan tidak diperhitungkan sejak awal.
Pendekatan yang lebih efektif adalah memilih destinasi terlebih dahulu berdasarkan jarak, akses transportasi, dan lama perjalanan. Untuk warga Surabaya misalnya, pilihan seperti Malang, Batu, Mojokerto, Pasuruan, Lamongan, atau Gresik bisa menjadi alternatif liburan akhir pekan tanpa perlu mengeluarkan biaya transportasi besar.
Destinasi yang dapat ditempuh dalam waktu satu hingga tiga jam biasanya lebih ekonomis. Selain menghemat biaya perjalanan, waktu liburan juga menjadi lebih optimal karena tidak banyak terbuang di perjalanan.
Cara ini membantu wisatawan mengendalikan pengeluaran sejak awal dan mengurangi risiko pemborosan selama perjalanan berlangsung.
Membuat Anggaran Berdasarkan Komponen Pengeluaran
Banyak orang mengira biaya wisata terbesar berasal dari tiket masuk tempat wisata. Faktanya tidak selalu demikian. Berdasarkan data BPS mengenai wisatawan nusantara tahun 2024, komponen pengeluaran terbesar justru berasal dari transportasi dengan rata-rata sekitar Rp513 ribu per perjalanan.
Posisi berikutnya ditempati akomodasi dengan rata-rata hampir Rp489 ribu per perjalanan. Data tersebut memberikan pelajaran penting. Jika ingin menekan biaya liburan, fokus utama sebaiknya berada pada efisiensi transportasi dan penginapan.
Sebagai contoh, perjalanan akhir pekan dari Surabaya ke Batu menggunakan transportasi umum atau kendaraan bersama teman dapat memangkas biaya secara signifikan dibandingkan perjalanan pribadi dengan kendaraan terpisah.
Begitu pula dengan akomodasi. Menginap satu malam di penginapan sederhana sering kali jauh lebih hemat dibandingkan hotel premium yang sebenarnya tidak terlalu banyak digunakan selama liburan.
Memanfaatkan Konsep Short Escape
Dalam beberapa tahun terakhir muncul kebiasaan baru yang dikenal sebagai short escape. Konsep ini mengacu pada liburan singkat selama satu hingga dua hari tanpa mengambil cuti panjang.
Model perjalanan seperti ini sangat cocok bagi mahasiswa maupun pekerja muda. Selain lebih hemat, persiapan yang dibutuhkan juga jauh lebih sederhana.
Surabaya memiliki keuntungan geografis yang mendukung konsep tersebut. Banyak destinasi wisata alam, sejarah, kuliner, hingga wisata pantai yang dapat dijangkau dalam radius kurang dari 150 kilometer.
Dengan durasi perjalanan yang lebih pendek, biaya makan, transportasi, dan akomodasi dapat ditekan secara alami. Wisatawan juga tidak perlu membeli terlalu banyak perlengkapan tambahan.
Yang tidak kalah penting, short escape membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan beristirahat dan tanggung jawab pekerjaan atau perkuliahan.
Menghindari Pengeluaran Kecil yang Tidak Terencana
Salah satu penyebab anggaran liburan membengkak bukan berasal dari biaya utama, melainkan dari pengeluaran kecil yang tidak disadari.
Membeli camilan berlebihan di rest area, menggunakan transportasi daring untuk jarak dekat, atau terlalu sering membeli oleh-oleh menjadi contoh yang sering terjadi.
Karena itu, membuat daftar kebutuhan sebelum berangkat menjadi langkah sederhana yang sangat membantu. Wisatawan dapat menentukan batas pengeluaran harian sehingga lebih mudah mengontrol keuangan selama perjalanan.
Metode ini juga membantu membedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua hal menarik yang ditemui selama liburan harus dibeli.
Semakin disiplin seseorang terhadap anggaran kecil, semakin besar peluang liburan tetap menyenangkan tanpa meninggalkan beban keuangan setelah pulang.
Liburan Murah Bukan Berarti Liburan Murahan
Masih ada anggapan bahwa liburan hemat identik dengan pengalaman yang kurang menyenangkan. Padahal, kualitas perjalanan justru lebih banyak ditentukan oleh perencanaan daripada besarnya anggaran.
Data wisata domestik Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat semakin sering memilih perjalanan dalam negeri yang dekat, praktis, dan terjangkau. Fenomena ini memperlihatkan perubahan pola wisata dari perjalanan mahal menuju pengalaman yang lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Bagi banyak orang, tujuan utama liburan sebenarnya bukan menghabiskan uang sebanyak mungkin. Yang dicari adalah kesempatan untuk beristirahat, mendapatkan suasana baru, dan kembali menjalani aktivitas dengan energi yang lebih segar.
Karena itu, cara merencanakan liburan singkat dengan budget terbatas bukan sekadar soal penghematan. Ini adalah kemampuan mengelola prioritas agar pengalaman berwisata tetap menyenangkan, realistis, dan berkelanjutan dalam kondisi keuangan apa pun.
