Logo

Cara Menyimpan Sayur dan Buah agar Lebih Awet  

Kesegaran bahan pangan tidak hanya ditentukan saat membeli, tetapi juga oleh cara menyimpannya setelah sampai di rumah.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 19 September 2026 06:00 UTC

Cara Menyimpan Sayur dan Buah agar Lebih Awet
 

Ilustrasi: Segar Lebih Lama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Sayur dan buah segar sering menjadi bahan yang paling cepat berubah setelah belanja. Daun mulai layu, buah terlalu matang, sementara beberapa bahan justru membusuk sebelum sempat dikonsumsi.

Cara menyimpan sayur dan buah yang tepat dapat membantu mempertahankan kualitas sekaligus mengurangi makanan terbuang. Persoalan ini penting karena kehilangan pangan terjadi dalam jumlah besar, termasuk pada kelompok buah dan sayuran.

Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sekitar 13,2 persen pangan dunia hilang setelah dipanen dan sebelum mencapai tahap ritel. Sementara itu, UNEP memperkirakan 1,05 miliar ton makanan terbuang pada tingkat ritel, layanan makanan, dan rumah tangga sepanjang 2022.

Di rumah, langkah pencegahannya tidak selalu membutuhkan peralatan khusus. Mengenali karakter setiap bahan sering lebih berguna daripada memasukkan seluruh belanjaan ke kulkas dengan perlakuan yang sama.

 

Sayur dan Buah Tidak Selalu Cocok Disatukan

Satu laci besar sering menjadi tempat semua hasil belanja segar. Padahal, beberapa buah menghasilkan gas etilen yang dapat mempercepat proses pematangan bahan lain di sekitarnya.

Apel, pisang, alpukat, pir, dan tomat termasuk bahan yang dapat menghasilkan etilen. Sementara beberapa sayuran lebih sensitif terhadap gas tersebut sehingga kualitasnya dapat menurun lebih cepat.

Karena itu, cara menyimpan sayur dan buah sebaiknya mempertimbangkan karakter masing-masing bahan. Pemisahan sederhana dapat membantu mempertahankan tekstur, warna, dan kesegaran lebih lama.

FDA juga merekomendasikan produk segar yang membutuhkan pendinginan disimpan dalam kulkas bersuhu maksimal 4 derajat Celsius. Buah dan sayuran yang sudah dipotong atau dikupas juga perlu segera didinginkan.

Laci khusus sayur dan buah dapat dimanfaatkan bila tersedia. Selain membuat isi kulkas lebih teratur, kompartemen tersebut biasanya dirancang untuk membantu mengelola kelembapan di sekitar bahan segar.

 

Sayuran Daun Membutuhkan Perlakuan Berbeda

Selada, bayam, sawi, dan berbagai sayuran daun memiliki kandungan air tinggi. Kondisi tersebut membuatnya mudah kehilangan kesegaran, tetapi kelembapan berlebih juga dapat mempercepat kerusakan.

Sayuran yang masih basah setelah dicuci sebaiknya tidak langsung ditumpuk dalam wadah tertutup. Air yang terperangkap dapat menciptakan lingkungan lembap pada permukaan daun.

Jika sayuran dicuci sebelum disimpan, keringkan dengan baik terlebih dahulu. Wadah bersih dengan sirkulasi atau lapisan penyerap kelembapan dapat membantu menjaga kondisinya.

Namun, tidak semua bahan perlu dicuci begitu tiba dari pasar atau supermarket. FDA menyarankan produk segar dicuci menggunakan air mengalir sebelum dikonsumsi, dipotong, atau dimasak. Sabun maupun produk pencuci rumah tangga tidak direkomendasikan untuk mencuci buah dan sayuran.

Kebiasaan ini juga membantu mengurangi pekerjaan berulang. Penghuni rumah dapat menyesuaikan persiapan bahan dengan jadwal memasak tanpa membuat seluruh sayuran mengalami perlakuan yang sebenarnya belum diperlukan.

 

Buah Matang Perlu Dipantau Lebih Sering

Buah memiliki ritme pematangan yang berbeda. Pisang yang masih hijau, misalnya, tidak membutuhkan perlakuan yang sama dengan potongan melon yang sudah siap disantap.

Beberapa buah dapat dibiarkan pada suhu ruang sampai mencapai tingkat kematangan yang diinginkan. Setelah matang, pendinginan dapat membantu memperlambat perubahan kualitas pada sejumlah jenis buah.

Sebaliknya, buah yang sudah dipotong membutuhkan perhatian lebih besar. FDA menyarankan buah dan sayuran yang telah dipotong, dikupas, atau dimasak masuk kulkas dalam waktu dua jam.

Semangka setengah potong, melon, pepaya, atau buah potong sebaiknya disimpan dalam wadah bersih dan tertutup. Cara ini juga mencegah bahan bersentuhan langsung dengan makanan lain di dalam kulkas.

Saat menemukan satu buah mulai membusuk, jangan membiarkannya terlalu lama berada di antara buah lain. Memeriksa persediaan secara rutin membantu bahan yang matang lebih dahulu segera dikonsumsi.

Prinsipnya sederhana: bahan yang paling dekat dengan batas kualitas sebaiknya menjadi prioritas. Kebiasaan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan terus menambah stok baru di depan bahan lama.

 

Membeli Secukupnya Bisa Mengurangi Makanan Terbuang

Penyimpanan yang baik tetap memiliki batas. Sayuran dan buah merupakan produk biologis yang terus mengalami perubahan setelah dipanen.

Karena itu, cara paling sederhana mempertahankan kesegaran justru dimulai sebelum membuka kulkas. Belanja dalam jumlah realistis berdasarkan pola makan rumah tangga dapat mengurangi bahan yang akhirnya terlupakan.

Angkanya cukup besar jika dilihat secara global. UNEP mencatat rumah tangga menyumbang sekitar 631 juta ton dari total makanan yang terbuang pada 2022. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 79 kilogram makanan per orang per tahun pada tingkat rumah tangga.

Indonesia juga memiliki tantangan serius. Kajian Bappenas mengenai food loss and waste memperkirakan timbulan makanan hilang dan terbuang di Indonesia sepanjang 2000–2019 mencapai sekitar 23–48 juta ton per tahun, atau sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun.

Angka tersebut tidak berarti seluruh makanan terbuang berasal dari kulkas rumah tangga. Namun, datanya menunjukkan bahwa pengelolaan pangan setelah dibeli merupakan bagian dari persoalan yang layak mendapat perhatian.

Mulailah dengan kebiasaan sederhana. Periksa isi kulkas sebelum berbelanja, beli sesuai kebutuhan, pisahkan bahan yang cepat matang, dan tempatkan produk lama pada posisi yang mudah terlihat.

Cara menyimpan sayur dan buah pada akhirnya bukan sekadar trik agar belanja mingguan bertahan lebih lama. Kebiasaan tersebut membantu rumah tangga menggunakan bahan pangan secara lebih terencana, aman, dan bertanggung jawab.

Sayuran yang tetap segar dan buah yang dikonsumsi tepat waktu juga berarti lebih sedikit makanan berakhir di tempat sampah. Perubahan kecil di laci kulkas dapat menjadi kebiasaan baik yang terasa manfaatnya setiap hari.