JATIMNET.COM, Surabaya – Tim eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya mengeksekusi seorang buronan kasus korupsi pembebasan lahan proyek Middle East Ring Road (MERR) II-C Surabaya.

Sumargo, dieksekusi, Rabu, 22 Agustus 2018, malam di tempat persembunyiannya Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro. Selanjutnya langsung di bawa ke Surabaya, Kantor Kejari Surabaya guna menjalani adminitrasi, baru dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Eksekusi penangkapan tersebut dibenarkan Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, Tegu Budi Darmawan, tersangka sudah dikirim ke Lapas Porong (Lapas Kelas I Surabaya) untuk menjalani proses penahanan.

“Sudah tiga tahun ini menjadi buronan, Alhamdullillah jam 8 malam tadi, tim esekutor kami berhasil menangkap terpidana kasus korupsi MERR II-C itu setelah kami pantau selama berminggu-minggu,”terang Teguh Budi Darmawan, Rabu, 22 Agustus 2018.

Teguh sendiri menyampaikan, penangkapan terhadap buronan kasus korupsi itu merupakan buah dari kinerja tim Intelijen dan Pidsus Kejari Surabaya. “Eksekusi ini adalah perintah dari putusan Kasasi dan terpidana ini tidak kooperatif saat kami panggil secara patut,” kata.

Kasus korupsi pembebasan lahan MERR II C ini, Sumargo berperan sebagai kordinator pembebasan lahan untuk proyek MERR II-C. Dia ditunjuk sama Olli Faisol sebagai satgas pembebasan lahan yang juga staf PU Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya juga terseret dalam kasus MERR jilid I untuk mengkordinir 40 warga Gunung Anyar yang terimbas pembebasan lahan pada proyek MERR II C tersebut.

Selain mereka, Kasus korupsi yang merugikan egara sebesar puluhan miliar ini juga telah menyeret 5 orang lainnya sebagai tersangka. Mereka adalah Djoko Waluyo selaku Pejabat Pembuat Komitmen dari Dinas Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya, Euis Darliana, staf Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya, Eka Martono selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPKm) Hadri, Abdul Fatah (keduanya kordinator yang juga ditunjuk oleh satgas pembebasan lahan).

Ke 7 terdakwa pada kasus ini divonis berbeda oleh Hakim Pengadilan Tipikor Surabaya, Djoko Waluyo divonis 8 tahun penjara, Olli Faisol divonis 5,5 tahun penjara, Euis Dahlia divonis 16 bulan penjara, Eka Martono dan Abdul Fatah divonis 1 tahun penjara. Sementara Hadri divonis 1 tahun penjara dan Sumargo divonis 3 tahun penjara.