Logo

Budaya Minuman Manis: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Kesehatan

Yang terasa sepele setiap hari sering memberi dampak terbesar dalam jangka panjang.
Reporter:,Editor:

Rabu, 27 May 2026 05:00 UTC

Budaya Minuman Manis: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Kesehatan

Ilustrasi manis dalam rutinitas. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Minuman manis sudah menjadi bagian gaya hidup modern. Banyak orang memulai pagi dengan kopi susu, menemani siang dengan teh kemasan, lalu menutup hari dengan minuman kekinian favorit. Kebiasaan ini terasa normal karena dilakukan jutaan orang setiap hari dan sering dianggap tidak berbeda dengan sekadar minum kopi atau teh biasa.

 

Namun di balik tren tersebut, para ahli kesehatan terus mengingatkan bahwa konsumsi gula cair memiliki dampak yang berbeda dibanding makanan padat. Kalori dari minuman lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa menimbulkan rasa kenyang yang cukup. Akibatnya, asupan gula harian sering melampaui batas yang direkomendasikan tanpa disadari.

 

Fenomena ini menjadi perhatian global seiring meningkatnya kasus obesitas, diabetes tipe 2, dan berbagai gangguan metabolik. Indonesia pun menghadapi tantangan serupa. Di tengah menjamurnya kedai kopi, minuman boba, teh kekinian, hingga produk siap minum di minimarket, konsumsi gula menjadi isu kesehatan yang semakin relevan bagi generasi muda.

 

 

Minuman Manis Menjadi Bagian dari Rutinitas Harian

 

Dalam satu dekade terakhir, minuman tidak lagi sekadar pelepas dahaga. Banyak produk diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup, simbol produktivitas, hingga sarana bersosialisasi.

 

Budaya nongkrong di kafe, bekerja dari coffee shop, dan tren minuman viral di media sosial membuat konsumsi minuman berpemanis semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang membeli lebih dari satu minuman manis dalam sehari tanpa merasa sedang mengonsumsi gula berlebihan.

 

Masalahnya, kandungan gula dalam satu gelas minuman bisa cukup tinggi. Banyak produk minuman komersial mengandung gula dalam jumlah yang mendekati atau bahkan melampaui batas konsumsi harian yang direkomendasikan jika dikonsumsi sekaligus.

 

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga kurang dari 10 persen total energi harian. Untuk manfaat kesehatan yang lebih baik, WHO menyarankan pengurangan hingga di bawah 5 persen kebutuhan energi atau sekitar 25 gram gula per hari bagi orang dewasa.

 

Dengan kata lain, satu atau dua minuman manis dalam sehari dapat menyumbang sebagian besar kebutuhan gula harian seseorang.

 

 

Indonesia Menghadapi Beban Diabetes yang Terus Naik

 

Kekhawatiran terhadap konsumsi gula tidak muncul tanpa alasan. Berbagai data menunjukkan bahwa diabetes terus menjadi tantangan kesehatan besar di Indonesia.

 

Menurut International Diabetes Federation (IDF), Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta orang dewasa usia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes pada 2024. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.

 

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 73,2 persen kasus diabetes di Indonesia diperkirakan belum terdiagnosis. Artinya, jutaan orang mungkin hidup dengan kadar gula darah tinggi tanpa menyadari kondisinya.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diabetes bukan lagi isu yang hanya berkaitan dengan kelompok usia lanjut. Penyakit ini semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif yang aktif bekerja dan menjalani gaya hidup perkotaan.

 

Meski diabetes tidak hanya disebabkan oleh konsumsi gula, pola makan tinggi kalori dan konsumsi minuman berpemanis yang berlebihan termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 apabila berlangsung dalam jangka panjang.

 

 

Kenapa Gula Cair Lebih Sulit Disadari?

 

Salah satu alasan minuman manis menjadi perhatian adalah sifatnya yang mudah dikonsumsi.

 

Ketika seseorang menghabiskan sepotong kue besar, tubuh biasanya memberikan sinyal kenyang yang cukup jelas. Sebaliknya, segelas minuman manis dapat diminum hanya dalam beberapa menit tanpa mengurangi keinginan untuk makan setelahnya.

 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kalori dari minuman sering tidak dikompensasi dengan pengurangan konsumsi makanan pada waktu berikutnya. Akibatnya, total asupan energi harian menjadi lebih tinggi.

 

Selain itu, minuman berpemanis tersedia hampir di semua tempat. Dari mesin penjual otomatis, minimarket, restoran cepat saji, hingga aplikasi pesan antar, akses terhadap minuman manis menjadi sangat mudah.

 

Dalam kondisi seperti itu, konsumsi gula tidak lagi terjadi hanya saat momen tertentu. Ia berubah menjadi kebiasaan harian yang berlangsung terus-menerus.

 

 

Tidak Harus Berhenti Total, Tetapi Perlu Lebih Sadar

 

Membahas minuman manis bukan berarti semua orang harus menghilangkan gula sepenuhnya dari kehidupannya.

 

Pendekatan yang lebih realistis adalah meningkatkan kesadaran terhadap jumlah konsumsi harian. Banyak orang baru mengetahui tingginya kandungan gula suatu produk setelah membaca informasi gizi pada kemasan.

 

Mengurangi ukuran porsi, memilih tingkat gula lebih rendah, memperbanyak air putih, serta membatasi konsumsi minuman berpemanis sebagai konsumsi sesekali dapat menjadi langkah sederhana yang lebih mudah dijalankan dalam jangka panjang.

 

Kebiasaan kecil seperti membawa botol minum sendiri, memilih kopi tanpa tambahan gula berlebihan, atau mengurangi frekuensi membeli minuman manis beberapa kali dalam seminggu juga dapat memberikan perubahan yang berarti.

 

Yang terpenting bukanlah mengejar pola hidup yang sempurna, melainkan membangun kebiasaan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

 

Budaya minuman manis kemungkinan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan modern. Namun semakin banyak orang memahami kandungan dan dampaknya, semakin besar pula peluang untuk menikmati tren tersebut secara lebih bijak tanpa mengorbankan kesehatan di masa depan.