Benarkah Ganja Lebih Aman Dibanding Alkohol, Ini Jawabannya

Rochman Arief

Minggu, 9 undefined 2018 - 11:13

JATIMNET.COM, Michigan – Sebuah penelitian berbasis jajak pendapat tentang larangan alkohol dan ganja di Amerika Serikat cukup mengejutkan. Hasil dari jajak pendapat tersebut untuk mengetahui sejauh mana tingkat bahaya, larangan, dan kebutuhan antara alkohol dan ganja.

Jajak pendapat dilakukan terhadap 1.000 responden dengan hasil 57 persen menyatakan ingin melegalkan ganja dan sisanya memilih alkohol.

Dalam survei tersebut menyebutkan alkohol digunakan untuk bersosialisasi (78,8 persen), perayaan (77,7 persen), dan bersenang-senang (62,3 persen).

Adapun penggunaan ganja jauh lebih bervariasi. Alasan paling umum adalah untuk mengatasi stress (41,1 persen), bersenang-senang (39,1 persen), bersosialisasi (33,9 persen) dan tidur (37,3 persen).

Alkohol lebih sering dipilih daripada ganja untuk bersantai setelah bekerja, sedangkan ganja bertujuan untuk inspirasi kreatif.

Hasil penelitian tersebut kemudian didalami American Addiction Center (Pusat Ketergantungan AS). Hasilnya 25 persen responden menyatakan ganja lebih aman dan jauh lebih efektif dibanding minuman keras. Meskipun rata-rata responden tidak mengonsumsi ganja sama sekali.

Penelitian lain menyebutkan ganja tidak mematikan seperti alkohol. Tetapi memiliki efek yang bisa melemahkan, gangguan ingatan, stabilitas suasana hati, kontrol otot, dan motivasi. Tetapi ganja juga bisa membuat orang menjadi ketagihan.

Hasil penelitian itulah yang membuat Michigan menjadi negara bagian ke-10 yang melegalkan ganja untuk rekreasi. Sementara pada bulan Juni kemarin, Oklahoma menjadi negara bagian ke-30 yang melegalkan ganja untuk kepentingan medis.

Para peneliti menganggap ganja memiliki manfaat klinis, yang berbeda dengan obat terlarang lainnya, dan dianggap mustahil terjadi overdosis.

Berdasarkan penelitian medis menyebutkan alkohol memberi efek mematikan dibanding ganja. Sedikitnya lebih dari 88.000 orang per tahun tewas akibat mengonsumsi alkohol secara berlebihan, yang didominasi perempuan.

Hampir semua orang bertanya alkohol dapat memicu perilaku publik, sangat adiktif, dan dapat mengubah penampilan wajah.

Kepada DailyMail.com Kepala Medis American Addictions Center Dr Lawrence Weinstein mengemukakan bahwa ganja bisa mengubah pikiran atau berdampak pada fungsionalitas korteks prefrontal.

“Secara umum ganja seharusnya tidak dipandang aman dalam hal apapun,” katanya, Jumat 7 November 2018 lalu.

Korteks prefrontal dapat menyebabkan kejadian yang merugikan sebagai akibat penggunaan ganja. Umumnya berdampak pada kerusakan logika atapun pengambilan keputusan.

“Sepertinya ada anggapan umum, bahwa ganja tidak berbahaya. Itu tidak demikian,” tegasnya.

Weinstein menambahkan bahwa jantung seseorang bertambah lebih cepat setelah menggunakan ganja. Lebih dari itu, penggunaan ganja dapat menghasilkan banyak efek yang tidak diinginkan di seluruh tubuh.

Dia membenarkan ketergantungan terhadap ganja tidak berbahaya dan tidak mematikan. Penggunaan ganja tidak sejelas tanda-tanda orang mabuk akibat minuman keras, tetapi memiliki konsekuensi yang hampir sama.

Pada tahun 2015, hampir empat juta orang memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan penggunaan ganja, dan 15 juta orang mengalami gangguan penggunaan alkohol.

“Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kecanduan termasuk lingkungan dan genetika,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...