Sabtu, 04 July 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Berburu Kenangan Lama. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Barang jadul kembali mendapat perhatian di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Kaset pita, kamera analog, konsol permainan lawas, hingga komik cetak kini tidak hanya dikoleksi oleh generasi Milenial, tetapi juga mulai diminati oleh Gen Z.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa nostalgia tidak selalu berkaitan dengan usia, melainkan juga tentang pengalaman, identitas, dan keinginan memiliki sesuatu yang terasa lebih personal.
Di Indonesia, ketertarikan terhadap barang lawas tumbuh bersamaan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 mencatat jumlah pengguna internet mencapai 221,56 juta jiwa atau sekitar 79,5 persen populasi nasional.
Media sosial kemudian menjadi ruang utama bagi komunitas kolektor untuk memperkenalkan kembali berbagai benda yang pernah populer puluhan tahun lalu kepada generasi yang lebih muda.
Di Surabaya, geliat ini terlihat melalui pasar barang antik, komunitas kamera analog, kolektor piringan hitam, hingga berbagai bazar kreatif yang rutin menghadirkan produk-produk vintage.
Barang lama tidak lagi dipandang sebagai benda usang, melainkan bagian dari gaya hidup yang memiliki nilai cerita.
Nilai Emosional Lebih Tinggi daripada Nilai Material
Salah satu alasan barang jadul tetap diminati adalah ikatan emosional yang melekat di dalamnya. Sebuah radio tua, kaset lagu masa kecil, atau konsol permainan generasi awal sering kali mengingatkan seseorang pada pengalaman bersama keluarga maupun teman.
Berbeda dengan produk modern yang diproduksi dalam jumlah sangat besar, banyak barang lama memiliki karakter unik. Bekas pemakaian, desain khas zamannya, hingga keterbatasan teknologi justru menjadi daya tarik tersendiri.
Fenomena tersebut juga didukung berbagai penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa nostalgia mampu meningkatkan perasaan terhubung dengan pengalaman positif di masa lalu. Karena itulah, benda-benda lama sering dipandang memiliki makna lebih dalam dibandingkan sekadar fungsi praktisnya.
Generasi Z Turut Menghidupkan Tren Vintage
Menariknya, penggemar barang jadul kini tidak hanya berasal dari mereka yang pernah menggunakan benda tersebut. Banyak anggota Gen Z justru mengenalnya melalui media sosial, film, musik, atau rekomendasi komunitas.
Kamera analog, misalnya, kembali populer karena menghasilkan karakter foto yang berbeda dengan kamera digital modern. Demikian pula pemutar piringan hitam, mesin tik, hingga konsol gim klasik yang kini sering dijadikan bagian dari dekorasi maupun hobi koleksi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Gen Z merupakan sekitar 27,94 persen dari total penduduk Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020. Besarnya jumlah generasi ini ikut mendorong lahirnya tren konsumsi baru, termasuk meningkatnya minat terhadap produk vintage sebagai bagian dari ekspresi gaya hidup.
Di Surabaya, tidak sedikit anak muda yang mengunjungi toko barang bekas berkualitas, mengikuti pameran koleksi, maupun berburu barang antik di pasar akhir pekan. Aktivitas tersebut juga menjadi ruang bertemu bagi komunitas dengan minat yang sama.
Barang Lama Mendukung Gaya Hidup Berkelanjutan
Selain faktor nostalgia, penggunaan kembali barang lama juga sejalan dengan konsep keberlanjutan. Memanfaatkan produk yang masih layak pakai dapat membantu memperpanjang usia penggunaan suatu barang sehingga mengurangi kebutuhan membeli produk baru.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) berulang kali menekankan pentingnya pola konsumsi yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dan limbah.
Karena itu, membeli kamera bekas yang masih berfungsi, menggunakan furnitur vintage, atau mengoleksi buku lama bukan hanya soal selera, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Banyak pelaku usaha kreatif kini turut memadukan konsep tersebut dengan menghadirkan toko bergaya retro yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern.
Nostalgia Menjadi Investasi Cerita
Tidak semua barang lama memiliki harga tinggi. Namun hampir semua barang yang mampu bertahan puluhan tahun menyimpan cerita yang membuatnya terasa istimewa.
Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak cepat, kehadiran barang jadul mengingatkan bahwa kualitas, kenangan, dan nilai emosional sering kali lebih bertahan lama daripada tren sesaat.
Bagi masyarakat Surabaya maupun kota-kota lain di Indonesia, berburu barang vintage kini bukan sekadar mencari benda lama. Aktivitas tersebut menjadi cara menikmati sejarah, mengenang perjalanan hidup, sekaligus menghargai karya yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Barang jadul akan selalu memiliki tempat di hati banyak orang karena setiap benda membawa kisah yang tidak dapat diproduksi ulang. Nilai itulah yang membuat nostalgia tetap hidup, bahkan di tengah dunia yang semakin modern.
