Logo

Banyak Anak Muda Mulai Menikmati Jalan Kaki

Kadang perjalanan yang paling sederhana justru memberi ruang untuk menikmati kota dengan cara yang berbeda.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 27 June 2026 01:00 UTC

Banyak Anak Muda Mulai Menikmati Jalan Kaki

Ilustrasi: Langkah di Kota. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Budaya jalan kaki perlahan kembali mendapat perhatian di kalangan anak muda perkotaan. Aktivitas yang dulu sering dianggap sebagai pilihan terakhir kini mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih sehat, hemat, dan menyenangkan.

 

Di berbagai kota besar, termasuk Surabaya, semakin banyak orang memilih berjalan kaki untuk jarak pendek. Bukan sekadar untuk berolahraga, tetapi juga untuk menikmati suasana kota, mengurangi ketergantungan pada kendaraan, hingga mencari jeda dari rutinitas digital yang serba cepat.

 

Fenomena ini menarik karena muncul di tengah budaya mobilitas yang selama bertahun-tahun lebih mengandalkan kendaraan bermotor. Di saat yang sama, berbagai penelitian menunjukkan bahwa berjalan kaki memiliki manfaat yang jauh melampaui sekadar aktivitas fisik ringan.

 

 

Jalan Kaki Masih Menjadi Tantangan di Indonesia

 

Meskipun terlihat sederhana, berjalan kaki belum menjadi kebiasaan dominan di Indonesia. Data yang banyak dirujuk dari penelitian Stanford University menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia hanya berjalan sekitar 3.513 langkah per hari.

 

Angka ini termasuk salah satu yang terendah dalam studi global tersebut. Kementerian Kesehatan juga mengategorikan jumlah langkah di bawah 5.000 per hari sebagai kelompok kurang bergerak. 

 

Sementara itu, laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 31 persen orang dewasa di dunia belum mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan untuk menjaga kesehatan. Tren kurang bergerak ini bahkan terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. 

 

Kondisi tersebut membuat jalan kaki menjadi topik yang semakin relevan. Ketika banyak aktivitas berpindah ke layar digital, kesempatan bergerak secara alami justru semakin berkurang.

 

 

Kota yang Nyaman Membentuk Kebiasaan Berjalan

 

Kebiasaan berjalan kaki tidak hanya ditentukan oleh niat individu. Lingkungan kota juga memiliki pengaruh besar. Penelitian yang menggunakan data Indonesia Family Life Survey menemukan bahwa kualitas lingkungan perkotaan dan tata ruang memiliki hubungan langsung dengan tingkat aktivitas fisik masyarakat.

 

Infrastruktur yang kurang ramah pejalan kaki dapat menurunkan minat masyarakat untuk berjalan.  Hal serupa ditemukan dalam berbagai studi mengenai kota-kota Indonesia. Trotoar yang tidak nyaman, parkir liar, jalur pedestrian yang terputus, serta faktor keamanan menjadi hambatan utama bagi pejalan kaki. 

 

Di Surabaya, pembangunan koridor pedestrian dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah pengalaman berjalan kaki di pusat kota. Kawasan seperti Jalan Tunjungan, Balai Pemuda, hingga beberapa taman kota menunjukkan bahwa ruang publik yang nyaman dapat mendorong masyarakat lebih sering berjalan.

 

Ketika berjalan terasa aman dan menyenangkan, aktivitas ini tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan bagian dari pengalaman menikmati kota.

 

 

Generasi Muda Mulai Melihat Jalan Kaki Secara Berbeda

 

Menariknya, kebangkitan budaya jalan kaki tidak selalu didorong alasan kesehatan. Banyak anak muda mulai berjalan kaki untuk mengeksplorasi kawasan kota, mencari tempat makan baru, membuat konten fotografi, atau sekadar menikmati suasana sore.

 

Aktivitas ini terasa lebih personal dibanding berpindah dari satu titik ke titik lain menggunakan kendaraan. Muncul pula tren urban walking di berbagai kota. Konsepnya sederhana: menikmati lingkungan sekitar dengan langkah santai sambil mengamati detail yang sering terlewat ketika berkendara.

 

Secara ekonomi, jalan kaki juga menjadi pilihan yang rasional. Di tengah biaya transportasi yang terus meningkat, berjalan untuk jarak pendek membantu mengurangi pengeluaran harian tanpa mengorbankan mobilitas.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya jalan kaki tidak lagi identik dengan keterbatasan. Sebaliknya, ia mulai dipandang sebagai pilihan gaya hidup yang sadar, efisien, dan relevan dengan kebutuhan perkotaan modern.

 

 

Manfaatnya Lebih Besar dari yang Banyak Orang Bayangkan

 

Banyak orang masih beranggapan bahwa manfaat kesehatan hanya bisa diperoleh melalui olahraga berat. Padahal penelitian menunjukkan aktivitas sederhana seperti berjalan kaki memiliki dampak yang signifikan.

 

WHO merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu. Berjalan kaki termasuk salah satu cara termudah untuk memenuhi rekomendasi tersebut. 

 

Penelitian lain menunjukkan bahwa satu dari empat orang dewasa di dunia masih kurang aktif secara fisik, padahal peningkatan aktivitas fisik berpotensi mencegah hingga lima juta kematian setiap tahun secara global. 

 

Menariknya lagi, sejumlah studi terbaru menemukan bahwa manfaat kesehatan sudah mulai terlihat bahkan pada kisaran 4.000 hingga 7.000 langkah per hari. Dengan kata lain, perubahan kecil dalam kebiasaan harian sudah mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan jangka panjang. 

 

Karena itu, budaya jalan kaki tidak harus dimulai dengan target ekstrem. Konsistensi justru menjadi faktor yang lebih penting dibanding angka langkah yang terlalu tinggi.

 

Berjalan kaki mungkin terlihat sederhana di tengah berbagai tren gaya hidup modern. Namun justru kesederhanaannya membuat aktivitas ini mudah dilakukan oleh hampir semua orang.

 

Di kota-kota yang semakin padat dan serba cepat, budaya jalan kaki menawarkan sesuatu yang sering hilang dari kehidupan sehari-hari: kesempatan untuk bergerak, memperhatikan sekitar, dan menikmati perjalanan tanpa terburu-buru.

 

Bagi banyak anak muda, langkah kecil itu ternyata menjadi cara baru untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan kota tempat mereka tinggal.