JATIMNET.COM, Banyuwangi – Bantuan dua unit mesin oven uap pengering berkapasitas 500 kilogram dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) sangat bermanfaat bagi petani.

Alat ini menurut sejumlah petani sangat bermanfaat untuk mengelola kopi pasca panen. Sebab mesin ini bisa digunakan untuk mengeringkan biji kopi yang masih red cherry, pada saat memasuki musim hujan di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

“Biasanya kopi mulai memerah dan memasuki masa panen pada bulan April, kemudian puncaknya pada bulan Juli hingga November di mana hujan sering turun. Saat itu petani tidak mendapatkan panas yang cukup ketika membutuhkan uang,” terang Kepala Desa Kalibaru Wetan Muji Purwanto, Kamis 13 Desember 2018.

Akibatnya banyak petani yang menjual kopinya dalam bentuk red cherry kepada tengkulak dengan harga Rp 5 – Rp 6 ribu per kilogram. Padahal saat menjual dalam bentuk green bean bisa mencapai Rp 23 – Rp 25 ribu per kilogram. Bila green bean didapatkan hasil petik merah, harga jual bisa mencapai Rp 28 – 30 ribu per kilogram.

BACA JUGA: Kopi Di Pasar Sritanjung, Rasa Kafe Harga Kaki Lima

“PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII berani membeli green bean petik merah seharga Rp 40 – Rp 45 ribu per kilogram, karena berpotensi ekspor. Umumnya perusahaan tidak mau menerima kopi bau tanah atau dijemur di atas terpal,” lanjutnya.

Mesin ini nantinya akan dikelola Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Kharisma, Desa Kalibaru Wetan dan akan didampingi Dinas Perdagangan Banyuwangi, Kemendes PDTT dan Bank Indonesia Kantor Wilayah Jember.

Sementara itu, petani kopi Kalibaru, Maksun (60) mengatakan bantuan peralatan proses kopi pasca panen itu menghidupkan kembali impiannya. Sebab dia berharap bisa memiliki merek kopi sendiri dari hasil panen kebun yang dikelolanya.

BACA JUGA: Banyuwangi Latih Ratusan Calon Pengusaha Kopi

“Saya sejak lama ingin punya merek kopi sendiri. Kalau dulu selalu dijual ke tengkulak yang datang ke sini, dan ada yang diantar ke Pasar Kalibaru. Ada juga yang pakai cara tebas saat masih di pohon,” urai Maksun.

Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi Sih Wahyudi mengatakan akan melakukan pendampingan terhadap Bumdesma Kharisma, Desa Kalibaru Wetan.

“Masyarakat juga perlu didorong tidak hanya memetik kopi yang telah merah saja. Petani juga bisa mengelola kopi untuk menaikkan nilai jual,” jelasnya.

Desa Kalibaru memiliki luas lahan 2.700 hektare yang dikelola 334 keluarga dengan produksi 3 sampai 4 ton kopi dalam bentuk green bean.