Jumat, 26 June 2026 10:00 UTC

Suasana pengisian BBM di salah satu SPBU. Foto: Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus.
JATIMNET.COM, Surabaya – Pertamina Patra Niaga buka suara terkait antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Biosolar dan Pertalite di sejumlah SPBU wilayah Jawa Timur (Jatim).
Antrean kendaraan bahkan sempat mengular hingga ke badan jalan dan memicu kepadatan lalu lintas.
Salah satunya terjadi di jalur arteri Surabaya–Mojokerto, tepatnya wilayah Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Kamis pagi, 25 Juni 2026. Antrean kendaraan di lokasi tersebut mencapai sekitar tiga kilometer.
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga Ahad Rahedi mengatakan, kondisi antrean tersebut terjadi dalam sepekan terakhir. Ia mengklaim, kondisi ini dampak dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap BBM subsidi.
Menurut dia, peningkatan konsumsi membuat realisasi penyaluran BBM subsidi di Jatim mengalami kenaikan cukup signifikan. Per Juni 2026, realisasi Biosolar tercatat telah melebihi 100 persen dari kuota berjalan, sedangkan Pertalite mencapai 96 persen.
Ahad menjelaskan, kuota merupakan jumlah volume BBM subsidi dalam satuan liter yang ditugaskan pemerintah untuk disalurkan kepada masyarakat melalui Pertamina selama satu tahun, mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2026.
“Pertamina telah berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan paralel melaksanakan mitigasi percepatan pemenuhan penyaluran dengan adanya kondisi peningkatan konsumsi di tengah masyarakat,” ujar Ahad dalam keterangannya, Jumat, 26 Juni 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pertamina melakukan sejumlah langkah, di antaranya memprioritaskan pengiriman dari Terminal BBM supply point. Kemudian, melakukan alih suplai dari Terminal BBM terdekat ke wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan.
Selain itu, Pertamina juga melakukan mitigasi tambahan melalui skema double alih suplai agar jumlah BBM yang dikirim ke masyarakat semakin bertambah.
Mobil tangki juga dimaksimalkan dengan memprioritaskan distribusi ke wilayah yang mengalami kendala pasokan maupun daerah dengan tingkat permintaan tinggi.
“Dengan segala mitigasi ini diharapkan dapat segera mengurai antrean dan kondisi penyaluran kembali normal,” kata Ahad.
