Sabtu, 24 October 2026 02:30 UTC

Ilustrasi: Cakap Digital, Bukan Sekadar Online. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Internet sudah menjadi bagian dari keseharian anak muda Indonesia. Namun, kemampuan membuka aplikasi, menonton video, bermain gim, atau aktif di media sosial belum otomatis membuat seseorang benar-benar siap menghadapi dunia digital.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan gambaran yang menarik. Pada 2025, sebanyak 96,50 persen penduduk usia 15–24 tahun tercatat memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi.
Angkanya sangat tinggi dan memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia pada dasarnya telah tumbuh dekat dengan teknologi. Di sisi lain, tantangan berikutnya justru menjadi lebih penting: untuk apa kecakapan digital tersebut digunakan?
Hampir Semua Anak Muda Sudah Melek TIK
Perubahan besar terlihat ketika data generasi muda dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih luas. BPS mencatat proporsi penduduk usia 15–59 tahun yang memiliki keterampilan TIK pada 2025 sebesar 87,14 persen. Pada kelompok 15–24 tahun, angkanya mencapai 96,50 persen.
Artinya, anak muda berada di barisan paling siap dalam urusan keterampilan digital dasar.
Jawa Timur juga mencatat angka tinggi. Sebanyak 97,66 persen penduduk usia 15–24 tahun di provinsi tersebut memiliki keterampilan TIK. Jawa Barat mencapai 97,98 persen, sementara DI Yogyakarta mencapai 99,54 persen.
Namun, angka nasional menyimpan kesenjangan wilayah yang besar. Papua Pegunungan baru mencapai 15,79 persen, Papua Tengah 37,06 persen, dan Papua Selatan 57,49 persen.
Kesenjangan digital karena itu tidak cukup dibicarakan sebagai persoalan siapa mempunyai ponsel. Infrastruktur, kualitas koneksi, pendidikan, kemampuan menggunakan perangkat, dan kesempatan belajar tetap menentukan seberapa jauh teknologi dapat dimanfaatkan.
Punya Internet Belum Tentu Produktif
BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Setahun sebelumnya angkanya 69,21 persen. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk memiliki atau menguasai telepon seluler.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kehidupan digital sudah menjangkau sebagian besar masyarakat. Bagi remaja, internet bahkan semakin sulit dipisahkan dari belajar, hiburan, komunikasi, pertemanan, hingga pencarian informasi. Masalahnya, akses dan produktivitas merupakan dua hal berbeda.
Seseorang dapat menghabiskan berjam-jam di internet tanpa menghasilkan keterampilan baru. Sebaliknya, satu jam menggunakan internet untuk belajar desain, bahasa asing, pengolahan data, pemrograman, pemasaran digital, atau mencari referensi proyek bisa menghasilkan nilai yang jauh lebih panjang.
Karena itu, ukuran literasi digital seharusnya bergerak lebih jauh. Pertanyaannya bukan lagi “apakah anak bisa menggunakan internet?”, melainkan “apa yang mampu ia kerjakan dengan internet?”
Ada Kesenjangan yang Tak Terlihat
Kondisi ekonomi keluarga juga masih berhubungan dengan keterampilan digital. Data BPS 2025 memperlihatkan 92,22 persen kelompok usia 15–24 tahun pada kuintil pengeluaran terendah memiliki keterampilan TIK. Pada kuintil tertinggi, angkanya mencapai 98,87 persen.
Selisih sekitar 6,65 poin persentase itu mungkin terlihat kecil. Namun, ketika diterapkan pada populasi besar, perbedaannya menjadi penting.
Kesenjangan bahkan lebih terasa jika kelompok usia diperluas menjadi 15–59 tahun. Keterampilan TIK pada kuintil pengeluaran terendah berada pada 76,81 persen, sedangkan kelompok tertinggi mencapai 95,67 persen.
Teknologi ternyata tidak otomatis menghapus ketimpangan. Perangkat yang lebih baik, koneksi stabil, lingkungan belajar, kualitas sekolah, pendampingan orang tua, dan kesempatan mengikuti pelatihan tetap berpengaruh terhadap kualitas pengalaman digital seseorang.
Inilah alasan pendidikan digital tidak seharusnya berhenti pada penyediaan komputer atau Wi-Fi. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendorong rasa ingin tahu, eksperimen, kolaborasi, dan keberanian menghasilkan sesuatu.
Tantangan Besarnya Justru Setelah Sekolah
Ada satu angka lain yang perlu mendapat perhatian. BPS mencatat 19,44 persen penduduk Indonesia usia 15–24 tahun pada 2025 berada dalam kategori tidak sedang sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET. Di Jawa Timur angkanya 16,76 persen. Jawa Barat bahkan mencapai 24,84 persen.
Data tersebut tidak berarti kecakapan digital menjadi penyebab kondisi NEET. Namun, dua kelompok data itu memperlihatkan paradoks menarik: keterampilan TIK anak muda sangat tinggi, sementara sebagian cukup besar anak muda belum terhubung dengan pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan. Di sinilah kecakapan digital perlu diterjemahkan menjadi kecakapan hidup.
Anak muda perlu belajar menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah nyata. Mereka dapat membuat portofolio, menjual produk, mempelajari keterampilan baru, membangun komunitas, membuat proyek sosial, menghasilkan karya kreatif, atau mengembangkan usaha kecil.
Kemampuan mencari informasi juga perlu disertai kemampuan memeriksa informasi. Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan perlu disertai kemampuan berpikir. Kemampuan membuat konten harus berjalan bersama tanggung jawab atas isi yang dipublikasikan.
Sekolah Perlu Mengubah Pertanyaannya
Selama bertahun-tahun, teknologi di sekolah sering dibicarakan melalui perangkat: berapa komputer tersedia, apakah laboratorium memadai, atau apakah sekolah memiliki internet. Pertanyaan itu tetap penting, tetapi tidak lagi cukup.
Sekolah sekarang perlu bertanya tentang hasil. Bisakah siswa menggunakan teknologi untuk menemukan masalah di lingkungannya? Bisakah mereka mengolah informasi menjadi keputusan? Bisakah mereka bekerja dalam tim, membuat produk, mempresentasikan gagasan, lalu memperbaikinya berdasarkan umpan balik?
Pembelajaran digital yang matang bahkan tidak harus membuat siswa terus-menerus menatap layar.
Siswa bisa menggunakan internet untuk memetakan persoalan sampah di kampung, lalu turun melakukan observasi. Mereka dapat mengolah datanya di laptop, membuat solusi bersama masyarakat, kemudian mendokumentasikan hasilnya melalui media digital. Teknologi akhirnya kembali pada fungsi dasarnya: alat.
Generasi muda Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. Sebanyak 96,50 persen kelompok usia 15–24 tahun telah memiliki keterampilan TIK. Tantangannya sekarang bukan membuat mereka semakin lama berada di depan layar.
Tantangannya adalah membantu mereka bergerak dari pengguna menjadi pencipta, dari penonton menjadi pelaku, dan dari sekadar terkoneksi menjadi mampu menghasilkan manfaat.
Anak muda makin digital. Tahap berikutnya adalah memastikan mereka juga makin siap berkarya.
