Jumat, 09 October 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Teknologi yang pernah dekat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kaset dan streaming memperlihatkan betapa cepat teknologi mengubah kebiasaan menikmati musik. Dulu, satu album harus dibeli, dipinjam, atau direkam. Kini jutaan lagu dapat dicari dalam beberapa detik melalui telepon seluler.
Perubahannya bukan hanya pada perangkat. Cara orang menemukan lagu, membagikannya kepada teman, mengulang lagu favorit, hingga membangun hubungan emosional dengan sebuah album ikut berubah.
Transformasi tersebut terjadi bersamaan dengan meluasnya akses digital Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka itu naik dari 69,21 persen pada 2023.
Pada 2024, BPS juga mencatat 68,65 persen penduduk telah memiliki telepon seluler. Perangkat kecil yang dahulu terutama digunakan untuk menelepon dan berkirim pesan kini menjadi pintu masuk utama menuju musik digital.
Ketika Musik Harus Ditunggu
Generasi yang tumbuh bersama kaset mengenal pengalaman mendengarkan musik yang jauh berbeda. Satu kaset umumnya berisi album atau kompilasi tertentu. Pendengar tidak membawa ribuan lagu sekaligus.
Jika ingin mendengar lagu berikutnya, pita harus diputar. Jika ingin mengulang, tombol rewind ditekan dan pendengar menunggu.
Ada pula budaya merekam lagu dari radio.
Pendengar harus mengetahui jadwal acara, menyiapkan kaset kosong, lalu berharap penyiar tidak berbicara ketika lagu dimulai. Keterbatasan teknologi menciptakan ritual.
Sampul kaset dibaca berulang. Lirik dipelajari. Urutan lagu sebuah album menjadi akrab karena pendengar tidak selalu melompati lagu yang kurang disukai.
Bahkan kaset yang kusut menjadi pengalaman tersendiri. Pensil kadang berubah fungsi menjadi alat sederhana untuk memutar kembali gulungan pita.
Hari ini, benda seperti itu terlihat merepotkan. Namun justru kerepotan kecil tersebut menjadi bagian dari kenangan.
Internet Mengubah Cara Musik Ditemukan
Musik digital menghapus banyak batas yang dahulu dianggap biasa. Koneksi internet memungkinkan seseorang menemukan lagu dari daerah atau negara lain tanpa mencari toko rekaman.
Rekomendasi algoritma juga membuat pendengar dapat menemukan musisi yang sebelumnya tidak dikenal. Skala transformasi digital Indonesia terlihat dari angka penggunaan internet.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta orang dari populasi sekitar 278,70 juta jiwa. Tingkat penetrasinya mencapai 79,5 persen.
Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 229,43 juta pengguna pada 2025, dengan penetrasi internet sebesar 80,66 persen dari proyeksi penduduk 284,44 juta jiwa.
Dalam waktu relatif singkat, internet berubah dari fasilitas tambahan menjadi bagian dari rutinitas mayoritas masyarakat. Musik ikut berpindah ke ruang tersebut.
Ponsel Menggantikan Banyak Perangkat Sekaligus
Sebelum telepon pintar mendominasi, seseorang mungkin memiliki radio, pemutar kaset, CD player, pemutar MP3, kamera, dan telepon sebagai perangkat terpisah. Kini sebagian besar fungsi tersebut berada dalam satu benda.
Data BPS menunjukkan 99,08 persen penduduk yang mengakses internet pada 2024 menggunakan telepon seluler sebagai salah satu medianya. Laptop digunakan oleh 11,42 persen pengguna internet, sedangkan komputer desktop hanya 1,32 persen.
Dominasi telepon seluler membantu menjelaskan mengapa pengalaman mendengarkan musik menjadi sangat personal. Musik dapat menemani perjalanan, bekerja, olahraga, belajar, hingga menjelang tidur. Pendengar tidak lagi harus berada di dekat radio atau perangkat audio di rumah. Namun kemudahan itu membawa perubahan lain.
Ketika hampir semua lagu tersedia kapan saja, pilihan menjadi nyaris tidak terbatas. Kita dapat berpindah lagu setelah beberapa detik, membuat playlist baru setiap saat, atau membiarkan sistem rekomendasi menentukan apa yang terdengar berikutnya. Kelimpahan menggantikan keterbatasan.
Koleksi Musik Berubah Bentuk
Dahulu koleksi musik memiliki wujud fisik. Rak berisi kaset atau CD sekaligus menunjukkan selera pemiliknya. Ada album yang dibeli dari uang tabungan, pemberian teman, atau ditemukan ketika bepergian.
Sekarang koleksi lebih sering berbentuk daftar putar, lagu yang disukai, histori pemutaran, atau perpustakaan digital. Perubahan ini mengikuti perkembangan ekonomi digital Indonesia.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada 2025 mencapai 49,76 miliar transaksi, tumbuh 39,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, transaksi melalui aplikasi mobile dan internet banking mencapai 45,89 miliar transaksi. Angka tersebut memang tidak secara khusus menggambarkan konsumsi musik.
Namun, ia menunjukkan seberapa dalam layanan berbasis digital telah masuk ke aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk pembayaran langganan dan pembelian berbagai konten digital.
Kepemilikan pun berubah makna. Dahulu orang membeli benda yang dapat disimpan. Sekarang konsumen semakin terbiasa membayar akses.
Apakah Kaset Benar-Benar Sudah Selesai?
Teknologi lama tidak selalu menghilang ketika teknologi baru datang. Sebagian justru kembali sebagai barang koleksi atau pengalaman alternatif. Kaset, piringan hitam, kamera analog, hingga konsol permainan lama tetap memiliki penggemar meskipun fungsi praktisnya sudah digantikan teknologi baru.
Daya tariknya bukan semata kualitas teknis. Benda fisik memberikan pengalaman yang tidak ditemukan ketika menekan layar. Ada sampul yang bisa disentuh, mekanisme yang bergerak, suara tombol, bahkan ketidaksempurnaan yang membuat setiap penggunaan terasa berbeda.
Kaset juga membawa jejak pemiliknya. Tulisan tangan pada sampul, label yang mulai pudar, atau daftar lagu buatan sendiri dapat mengungkap cerita yang tidak tersimpan dalam file digital. Karena itulah menemukan sekotak kaset lama di rumah terkadang terasa seperti menemukan arsip keluarga.
Teknologi Baru Tidak Harus Menghapus yang Lama
Streaming jelas menawarkan kenyamanan yang sulit ditandingi. Jutaan lagu dapat dibawa ke mana pun tanpa memenuhi satu lemari.
Namun teknologi lama tetap berguna untuk memahami bagaimana kebiasaan manusia berubah.
Kaset mengajarkan pengalaman memilih karena ruang penyimpanan terbatas. Radio mengenalkan kebiasaan menunggu. CD memperkenalkan akses langsung ke lagu tertentu. MP3 membuat koleksi musik mulai kehilangan bentuk fisiknya. Streaming kemudian menjadikan akses hampir tanpa batas sebagai sesuatu yang biasa.
Setiap generasi teknologi bukan sekadar pergantian perangkat. Ia mengubah perilaku. Karena itu, sebelum membuang radio, kaset, telepon lama, atau kamera digital yang ditemukan di rumah, tidak ada salahnya melihat kembali benda tersebut. Mungkin nilainya bukan terletak pada kecanggihan.
Di dalam benda-benda itu tersimpan cerita tentang bagaimana sebuah generasi mencari hiburan, berkomunikasi, dan beradaptasi sebelum satu telepon pintar mengambil alih hampir semuanya.
Dari kaset ke streaming, cara mendengar musik memang berubah. Tetapi kebutuhan manusia untuk menghubungkan lagu dengan kenangan tampaknya tetap sama.
