Aksi Selasa Kliwonan, Jadi Tradisi Tolak Tambang Tumpang Pitu

Ahmad Suudi

Selasa, 26 Maret 2019 - 23:45

JATIMNET.COM, Banyuwangi – Penolakan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi terus mengemuka. Aksi penolakan tersebut menjadi sebuah tradisi setiap Selasa Kliwon di depan Kantor Bupati Banyuwangi.

Pada Selasa Kliwon, 27 Maret 2019 kali ini, warga penolak tambang emas Tumpang Pitu membawa dua keranda yang dibungkus kain hitam. Satu keranda tertulis Bupati Banyuwangi, keranda satu lagi dituliskan DPRD Banyuwangi.

Tumpeng lengkap dengan ubo rampe-nya diletakkan di tengah keranda untuk dimakan bersama setelah sebelumnya dibacakan doa-doa. Semua peserta aksi yang duduk melingkari tumpeng dan dua keranda mengamini dengan khidmat doa yang dibacakan.

“Aksi setiap Selasa Kliwon diambil karena hari itu dinilai sakral di penanggalan Jawa. Ini juga bentuk penyampaian aspirasi melalui tradisi yang hidup di tengah masyarakat,” kata Koordinator aksi Usaman, Selasa 27 Maret 2019.

BACA JUGA: Jalan Panjang Budi Pego Mencari Keadilan

Menurutnya, Bupati Banyuwangi telah menjual potensi pariwisata dengan modal tradisional, tapi tidak pernah melihat kultur di masyarakat secara substansial.

Mereka juga menyampaikan tuntutan agar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mencabut izin tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI) di Gunung Tumpang Pitu dan izin eksplorasi tambang Gunung Salak yang juga berada di Kecamatan Pesanggaran, yang dipegang PT Damai Suksesindo (DSI).

Tak hanya itu, masyarakat juga menuntut Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berani merekomendasikan penutupan pertambangan Tumpang Pitu. Sebab, Pemkab dulu juga berani merekomendasikan penurunan status kawasan itu dari hutan lindung menjadi hutan produksi hingga bisa ditambang secara terbuka (open pit).

Sejak kehadiran tambang emas di Tumpang Pitu, kata Usman, banyak kerugian yang diderita warga. Salah satunya ikan laut yang sensitif terhadap getaran yang disebabkan aktivitas pertambangan semakin menjauh hingga nelayan semakin sulit menangkapnya.

BACA JUGA: BSI Targetkan Produksi Dua Kali Lipat Tahun Depan

"Gunung Tumpang Pitu bukan persoalan komersialisasi atau persoalan uang saja. Hari ini nelayan yang mencari ikan, dulu butuh waktu beberapa jam (dekat), sekarang sudah mulai jauh. Itu dampak yang sudah dirasakan, dan itu tidak bisa dikalkulasikan dengan CSR maupun saham," kata Usman lagi.

Menurut Suti (70), salah satu warga Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, yang ikut dalam aksi ini mengaku, dulu terbiasa mencari rumput ke Gunung Tumpang Pitu. Namun saat ini akses sangat dibatasi karena ada aktivitas tambang dan setelah menjadi Obyek Vital Nasional (Obvitnas) sejak awal 2016, dia tidak lagi bisa mencari rumput di Gunung Tumpang Pitu untuk 7 kambingnya.

Suti juga bercerita kalau dulu bisa bebas mencari rebung ke atas Tumpang Pitu naik sepeda dan mendapatkan 2 hingga 3 karung untuk dijual, namun sekarang tidak bisa lagi.

"Saya cari rebung naik ke Tumpang Pitu pakai uklik (sepeda angin), sekarang tidak boleh, mau kerja apa," keluhnya di sela aksi.

Baca Juga

loading...