Akademisi Dukung Pemkot Pertahankan Pembangunan Alun-Alun Suroboyo

Khoirotul Lathifiyah

Rabu, 24 April 2019 - 09:55

JATIMNET.COM, Surabaya - Beberapa Akademisi tetap mendukung Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk mempertahankan pembangunan Alun-Alun Suroboyo kendati dalam putusan banding di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jawa Timur kalah dengan PT Maspion.

Pakar Tata Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Haryo Sulistyarso mengatakan dukungannya kepada Pemkot Surabaya untuk membangun ruang publik seperti alun-alun Suroboyo.

"Saya berharap pemkot bisa mempertahankan lahan di Jalan Pemuda 17," kata Haryo dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com, Selasa 23 April 2019 sore.

Menurutnya, aset tersebut jangan sampai ini lepas dari kendali pemkot. Apalagi berdasarkan riwayatnya, wilayah tersebut merupakan aset pemkot.

BACA JUGA: Lawan PT Maspion, Pemkot Surabaya Tak Akan Menyerah

Haryo mengimbau pemkot agar lebih intens ke depannya dalam menjaga aset. Tujuannya, agar tidak ada lagi lahan atau aset pemkot yang menjadi sengketa.

“Aset pemkot memang harus dijaga dan diarsipkan dengan baik, jangan sampai lepas dari tangan kita,” katanya.

Haryo juga berpesan kepada Pemkot Surabaya agar ke depannya lebih bijak lagi menyikapi antara kepentingan aset untuk masyarakat, pengusaha swasta, dan beberapa orang yang punya kepentingan.

“Saya mendukung pembangunan-pembangunan untuk publik space, namun kembali lagi, pemkot harus berjuang mengupayakan itu,” kata Haryo.

Haryo menjelaskan karena aset tersebut akan digunakan untuk ruang publik, pemkot harus mengupayakannya dengan sungguh-sungguh. Ia menegaskan bahwa jalur hukum memang harus ditempuh untuk mempertahankan aset tersebut.

BACA JUGA: Hakim Kabulkan Gugatan Pemkot Surabaya

Dukungan yang sama juga disampaikan oleh Arsitektur dan Perencanaan Wilayah Kota Universitas Kristen Petra Benny Poerbantanoe. Ia mendukung dan bersikap positif terhadap setiap keputusan Pemkot Surabaya, termasuk rencana pembangunan ruang terbuka publik berupa Alun-Alun Suroboyo.

"Kalau bicara arsitektur, alun-alun itu biasanya dikelilingi kantor kabupaten, masjid, penjara, dan tempat belanja,” kata Benny sapaan akrabnya.

Menurutnya, kawasan Balai Pemuda ini dinilai wilayah yang strategis. Berperan sebagai gerbang menuju Kantor Balai Kota, dan menjadi entry poin. Bangunan Balai Pemuda ini dapat mengatur komposisi simetri dan bangunan yang bentuknya laras.

"Jadi di utara ada poros di bagian Jalan Yos Sudarso, kemudian disambut Jalan Panglima Sudirman. Sebuah persimpangan biasanya punya peran khusus, yakni gerbang akan menganut komposisi simetri ada bangunan yang bentuknya laras, dan paling penting tidak kehilangan entry point-nya,” jelasnya.

Tak hanya membahas seputar bentuk dan istilah bangunan, Benny juga mendorong Pemkot Surabaya agar mempertahankan aset pemerintah itu. Langkah hukum harus ditempuh untuk merebut aset yang sudah selayaknya menjadi milik pemkot.

BACA JUGA: Begini Sejarah Dua Alun-alun Lawas di Surabaya

Akan tetapi, jika jalur hukum belum berhasil, Pemkot dan PT Maspion seharusnya mencari jalan tengah agar semuanya tetap berjalan. “Ya lanjutkan jangan mau kalah. Kita harus melanjutkan, jalur hukum tetap ditempuh. Coba direbut, kalau pun tetap buntu, coba kompromi,” kata dia.

Perlu diketahui, setelah kalah banding dengan PT Maspion di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jawa Timur, Pemkot Surabaya akan mengambil upaya hukum untuk tetap mempertahankan aset pemkot di Jalan Pemuda 17, yang nantinya akan digunakan untuk Alun-Alun Suroboyo.

Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu memastikan akan terus menempuh langkah hukum untuk menyelamatkan aset Jalan Pemuda 17 itu. Namun begitu, ia mengaku akan terus berkoordinasi dengan pihak pengacara Pemkot Surabaya dan pengacara negara atau kejaksaan.

“Kita semua berharap permasalahan ini segera selesai, sehingga pembangunan alun-alun itu bisa segera dilakukan dan bisa dinikmati,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...