Logo
Krisis Air Bersih di Kabupaten Mojokerto

Warga Kunjorowesi Bertahan Mandi Sekali Sehari, Air Bersih Diprioritaskan untuk Memasak

Reporter:,Editor:

Rabu, 22 July 2026 08:47 UTC

Warga Kunjorowesi Bertahan Mandi Sekali Sehari, Air Bersih Diprioritaskan untuk Memasak

Seorang warga di Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro membawa sejumlah galon untuk mengantre saat mengambil air bersih, Rabu Siang, 22 Juli 2026. Foto: Wanto

JATIMNET.COM, Mojokerto – Musim kemarau kembali memicu krisis air bersih di Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Kondisi tersebut memaksa warga mengubah kebiasaan sehari-hari, termasuk mengurangi frekuensi mandi menjadi hanya sekali dalam sehari agar persediaan air tetap mencukupi.

Warga mengutamakan air bersih yang diperoleh dari bantuan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak, seperti memasak, mencuci pakaian, serta keperluan rumah tangga lainnya. Sementara itu, penggunaan air untuk mandi dan berwudu dilakukan sehemat mungkin agar stok air dapat bertahan hingga distribusi bantuan berikutnya.

Salah seorang warga, Sarfin, mengaku keluarganya harus beradaptasi setiap kali musim kemarau datang. Kebiasaan mandi dua kali sehari pun terpaksa ditinggalkan demi menghemat air yang tersedia.

BACA: Kemarau Ekstrem Tingkatkan Risiko Kebakaran, Jatim Perkuat Relawan Damkar 

"Kalau musim kemarau mandi cuma sekali sehari. Airnya lebih diprioritaskan untuk memasak dan mencuci. Wudu pakai ceret supaya hemat. Walaupun air sedikit, tetap dipakai untuk salat," ujarnya, saat ditemui Jatimnet.com, Rabu, 22 Juli 2026.

Untuk mendistribusikan bantuan air bersih, warga Dusun Telogo dibagi ke dalam lima kelompok. Setiap truk tangki datang, masyarakat dipersilakan mengambil air sesuai kebutuhan tanpa pembatasan kuota. Namun, tingginya kebutuhan membuat pasokan air biasanya habis dalam waktu singkat.

Sarfin menuturkan, persoalan kekurangan air bersih bukanlah masalah baru. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan selalu berulang setiap musim kemarau.

Ia menjelaskan, warga sebenarnya memiliki penampungan air hujan sebagai cadangan. Namun, sebagian besar fasilitas tersebut kini mengalami kerusakan dan kebocoran sehingga tidak lagi mampu menampung air secara optimal.

BACA: Empat Warga Purworejo Mojokerto Terserang DBD 

"Sudah dari dulu seperti ini. Penampungan air hujan ada, tapi bocor dan belum diperbaiki. Kalau kemarau ya menunggu bantuan air bersih datang," katanya.

Hingga kini, masyarakat Dusun Telogo masih bergantung pada bantuan dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.

Warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih atau perbaikan sarana penampungan air, agar krisis yang terus berulang tersebut dapat segera teratasi.