Logo

Khofifah Soroti Keterlambatan Pengiriman dan Penyajian MBG di Sidoarjo

Reporter:,Editor:

Kamis, 03 September 2026 10:29 UTC

Khofifah Soroti Keterlambatan Pengiriman dan Penyajian MBG di Sidoarjo

Gubernur Khofifah saat menjenguk korban keracunan MBG di Sidoarjo, Kamis, 3 September 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyoroti waktu pengiriman dan penyajian makanan dalam kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

Khofifah menyebut adanya dugaan keterlambatan penyajian makanan kepada para santri. Temuan tersebut menjadi salah satu fokus evaluasi kejadian luar biasa (KLB) keracunan yang berkaitan dengan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Diduga ada keterlambatan dalam menyajikan makanan kepada para santri," kata Khofifah saat mengunjungi beberapa korban yang dirawat di RSI Siti Hajar Sidoarjo, Kamis, 3 September 2026.

Evaluasi terhadap 18 lembaga penerima makanan dari SPPG yang sama menunjukkan 17 lembaga berjalan aman, sedangkan satu lokasi mengalami masalah kesehatan. Perbedaan utama yang ditemukan berkaitan dengan waktu pengiriman dan penyajian makanan.

Di lembaga yang aman, makanan selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB, dikirim pukul 07.00 WIB, lalu dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara di lokasi yang mengalami kasus, makanan baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB dan disantap sekitar pukul 12.30-13.00 WIB.

"Jadi yang perlu kita evaluasi adalah time delivery dan time serving-nya. Jangan sampai makanan terlalu lama berada pada suhu ruang sebelum dikonsumsi," ujarnya.

Khofifah mengatakan menu, bahan, dan proses memasak makanan di lokasi tersebut sama dengan makanan yang diterima lembaga lainnya. Karena itu, waktu pengiriman dan penyajian menjadi salah satu fokus pemeriksaan.

Makanan yang terlalu lama berada pada suhu ruang berpotensi mengalami pertumbuhan mikroorganisme atau pembentukan toksin. Meski demikian, penyebab pasti keracunan masih harus dipastikan melalui pemeriksaan dan pengujian pihak berwenang.

Sementara itu, kondisi para santri yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit berangsur membaik. Di RS Siti Hajar, dari 27 pasien yang sebelumnya dirawat, 24 orang telah membaik dan diperbolehkan pulang pada Kamis pagi. Tiga pasien lainnya masih menjalani observasi.

Data sementara per 2 September 2026 mencatat sekitar 551 orang terdampak dalam KLB dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG/SPPG. Data tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan penanganan korban berlangsung.

Selain Ponpes Mambaul Hikam, dugaan keracunan juga dilaporkan terjadi pada penerima makanan dari SPPG Kalitengah, termasuk santri dan siswa di wilayah Tanggulangin.

Khofifah meminta seluruh pihak memperketat pengawasan sejak proses memasak, pengiriman hingga makanan disajikan dan dikonsumsi.

"Yang paling penting adalah memastikan waktu pengiriman dan penyajian benar-benar sesuai dengan ketentuan. Ini harus menjadi evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi," tegas Khofifah.