Ada Dahlan Iskan dan Gatot Nurmantyo di Kampanye Prabowo

Baehaqi Almutoif

Jumat, 12 April 2019 - 18:46

JATIMNET.COM, Surabaya - Sejumlah tokoh tampak menghadiri kampanye terbuka Prabowo Subianto yang diisi dengan pidato kebangsaan "Indonesia Menang" di Gedung Dyandra Surabaya, Jumat 12 April 2019. Di antaranya tampak mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Kehadiran dua tokoh ini cukup mengejutkan. Pasalnya, Dahlan pada pilpres lima tahun lalu berada di belakang gerbong Capres petahana Joko Widodo. Sedangkan Gatot Nurmantyo merupakan panglima TNI di awal-awal Joko Widodo menjabat presiden.

Dahlan Iskan menyampaikan, berbeloknya arah dukungan ini bukan karena nasib dirinya tidak dipakai Joko Widodo. Tetapi karena melihat capaian selama lima tahun kepimpinan capres petahana itu.

BACA JUGA: Dituding Tidak Inklusif, Begini Jawaban Prabowo

"Hari ini saya dukung Pak Prabowo bukan karena gara-gara nasib saya lima tahun lalu," ujar Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan menguraikan, lima tahun yang lalu saya mengadakan deklarasi dukung Capres Joko Widodo karena berharap banyak akan programnya. Capres nomor urut 01 itu dinilai punya program besar yang disebut revolusi mental dan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Menurut hitungannya, selama lima tahun menjabat pendapatan perkapita capai USD 7 ribu. Kemudian lima tahun berikutnya bisa capai USD 9 ribu. Target itu dianggap wajar karena lima tahun sebelum Joko Widodo menjabat, pendapatan perkapita telah USD 5 ribu.

"Tapi tidak terlaksana. Makanya kalau lima tahun lalu pimpinan dahlanis Indonesia sudah berkumpul, saya petung (nego) agar dukung Jokowi. Sekarang saya pimpin langsung dukung Prabowo," ungkapnya.

Sementara Gatot Nurmantyo menuturkan, kehadirannya di Surabaya tidak lain karena merah putih, bangsa dan negara memanggil. "Pak Prabowo meminta saya hadir," kata Gatot dalam sambutannya.

BACA JUGA: Perdengarkan Orasi Bung Tomo, Prabowo: Ngapain Pakai Kartu Ini-itu

Di kesempatan tersebut, dia memberikan pidato penguatan tentang kebangsaan. Salah satunya tentang mewaspadai penduduk global yang tidak bicara kebangsaan.

"Ini kalau dibiarkan bisa hilang kebangsaan. Karena siapapun bisa masuk ke negara lain, yang penting punya uang dan izin," ungkapnya.

Ia pun berpesan agar semua pihak menjaga jangan sampai tidak punya tanah air. Karena terdesak penduduk global yang seolah menganggap kebangsaan sebagai penghambat. "Jangan sampai tidak punya tanah air," tandasnya.

Baca Juga

loading...