Selasa, 02 June 2026 07:30 UTC

Ilustrasi: Persiapan sebelum berangkat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Keselamatan wisata alam menjadi perhatian penting seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas luar ruang. Mulai dari mendaki gunung, menjelajahi kawasan geopark, hingga berburu matahari terbit di pegunungan, wisata alam kini menjadi bagian dari gaya hidup banyak anak muda Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai lebih dari 1,02 miliar perjalanan sepanjang 2024, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang melakukan perjalanan ke berbagai destinasi, termasuk kawasan alam terbuka.
Namun, meningkatnya aktivitas wisata juga diikuti berbagai risiko yang sering berawal dari kesalahan sederhana. Banyak insiden terjadi bukan semata karena kondisi alam, melainkan akibat kurangnya persiapan dan pengambilan keputusan yang kurang tepat selama perjalanan.
Berikut beberapa kesalahan yang masih sering ditemukan saat wisata alam dan dapat meningkatkan risiko selama berlibur.
Menganggap Semua Destinasi Alam Memiliki Tingkat Risiko yang Sama
Salah satu kekeliruan paling umum adalah menganggap seluruh destinasi alam memiliki tingkat kesulitan yang serupa.
Padahal setiap lokasi memiliki karakter berbeda. Jalur menuju kawah vulkanik tentu berbeda dengan jalur pendakian gunung tinggi atau kawasan hutan tropis. Faktor cuaca, ketinggian, suhu, kondisi jalan, dan akses evakuasi juga sangat bervariasi.
Menurut data resmi Basarnas, sebagian operasi pencarian dan penyelamatan di kawasan wisata alam melibatkan wisatawan yang tersesat akibat kurang memahami medan perjalanan.
Karena itu, mencari informasi resmi mengenai karakter destinasi sebelum berangkat menjadi langkah penting yang sering diabaikan.
Berangkat Tanpa Memperhatikan Kondisi Fisik
Wisata alam sering dipandang sebagai aktivitas rekreasi ringan. Padahal banyak perjalanan membutuhkan stamina yang cukup baik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut orang dewasa idealnya melakukan aktivitas fisik sedang minimal 150 menit per minggu untuk menjaga kebugaran dasar tubuh.
Sayangnya, tidak sedikit wisatawan yang langsung melakukan aktivitas berat setelah menjalani rutinitas sedentari selama berhari-hari. Kondisi ini meningkatkan risiko kelelahan, cedera otot, dehidrasi, hingga gangguan kesehatan lain selama perjalanan.
Pemeriksaan kesehatan sederhana, istirahat yang cukup, dan menjaga asupan cairan sebelum berangkat sering kali jauh lebih penting dibanding membeli perlengkapan baru.
Mengabaikan Cuaca dan Informasi Resmi
Cuaca merupakan faktor utama yang memengaruhi keselamatan wisata alam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin menerbitkan prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dapat diakses masyarakat. Informasi tersebut mencakup hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, hingga potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
Meski demikian, masih banyak wisatawan yang hanya mengandalkan perkiraan cuaca dari aplikasi umum tanpa memeriksa informasi resmi terbaru.
Perubahan cuaca di kawasan pegunungan dapat terjadi sangat cepat. Jalur yang aman pada pagi hari bisa berubah licin dan berbahaya ketika hujan turun beberapa jam kemudian.
Memeriksa prakiraan cuaca resmi sebelum berangkat merupakan kebiasaan sederhana yang dapat mengurangi banyak risiko perjalanan.
Membawa Barang Berlebihan atau Justru Terlalu Sedikit
Kesalahan berikutnya berkaitan dengan perlengkapan. Sebagian wisatawan membawa terlalu banyak barang hingga membebani perjalanan. Sebaliknya, ada pula yang berangkat tanpa perlengkapan dasar seperti jas hujan, senter, obat pribadi, atau air minum yang cukup.
Menurut rekomendasi berbagai organisasi kegiatan luar ruang internasional, perlengkapan dasar perjalanan sebaiknya mencakup kebutuhan navigasi, perlindungan cuaca, pencahayaan, makanan darurat, dan perlengkapan pertolongan pertama.
Perlengkapan yang tepat tidak harus mahal. Yang terpenting adalah sesuai kebutuhan destinasi dan kondisi perjalanan.
Terlalu Fokus Membuat Konten Media Sosial
Media sosial telah menjadi bagian dari pengalaman wisata modern. Namun aktivitas dokumentasi yang berlebihan kadang mengurangi kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
Laporan berbagai otoritas taman nasional di dunia menunjukkan bahwa perilaku mengambil foto di area terlarang atau terlalu dekat dengan tebing masih menjadi penyebab berbagai kecelakaan wisata.
Fenomena ini juga terlihat di berbagai destinasi populer yang menawarkan panorama alam spektakuler. Keinginan mendapatkan sudut foto unik sering membuat sebagian orang mengabaikan batas keamanan yang telah ditetapkan pengelola.
Mengabadikan momen tentu tidak salah. Namun keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama dibanding mengejar konten visual.
Mengabaikan Prinsip Wisata Bertanggung Jawab
Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan aktivitas pariwisata menyumbang sekitar 8 persen emisi gas rumah kaca global jika dihitung dari berbagai aktivitas terkait perjalanan dan konsumsi wisata.
Karena itu, wisata alam modern tidak hanya berbicara tentang keselamatan pribadi, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan.
Masih ditemukan perilaku membuang sampah sembarangan, merusak vegetasi, atau meninggalkan jejak aktivitas di kawasan konservasi.
Prinsip sederhana seperti membawa kembali sampah sendiri, mengikuti jalur resmi, dan menghormati aturan kawasan menjadi bagian penting dari budaya wisata berkelanjutan.
Tidak Menyiapkan Rencana Darurat
Banyak orang merencanakan perjalanan dengan detail, tetapi lupa memikirkan skenario darurat. Padahal, kondisi tak terduga bisa terjadi kapan saja, mulai dari perubahan cuaca, kendaraan bermasalah, kehilangan sinyal komunikasi, hingga gangguan kesehatan.
Menyimpan nomor darurat, memberi tahu keluarga mengenai rute perjalanan, serta memahami titik evakuasi merupakan langkah sederhana yang dapat membantu ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Di berbagai negara, praktik ini menjadi bagian standar dari budaya perjalanan yang aman dan bertanggung jawab. Keselamatan wisata alam pada akhirnya bukan hanya soal perlengkapan atau pengalaman. Faktor terbesar sering berasal dari keputusan kecil yang diambil sebelum dan selama perjalanan.
Semakin baik persiapan dilakukan, semakin besar peluang menikmati keindahan alam tanpa harus menghadapi risiko yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.
