Jumat, 21 August 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Workout viral tetap bijak. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Workout TikTok membuat olahraga terasa semakin dekat. Satu video berdurasi pendek bisa memperlihatkan squat, plank, burpee, hingga latihan perut yang tampak mudah dilakukan di ruang tamu.
Di Surabaya, format seperti ini cocok dengan ritme kota yang cepat. Ada orang yang berolahraga selepas kerja, mencoba gerakan di taman, atau mengikuti video pendek sebelum mandi pagi. Masalah mulai muncul ketika layar membuat latihan yang kompleks terlihat sesederhana menekan tombol replay.
Media sosial memang dapat menjadi pintu masuk untuk lebih aktif. Namun, viralnya sebuah gerakan tidak otomatis membuat latihan tersebut sesuai bagi setiap tubuh.
Video Pendek Membuat Olahraga Terlihat Gampang
Daya tarik workout TikTok cukup mudah dipahami. Pengguna tak harus membaca panduan panjang atau menyusun program latihan sendiri. Gerakan sudah diperagakan, musik memberi tempo, bahkan durasinya sering terasa sangat masuk akal.
Kebutuhan untuk bergerak memang besar. World Health Organization (WHO) melaporkan 31 persen orang dewasa di dunia, sekitar 1,8 miliar orang, belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Proporsi tersebut meningkat sekitar 5 poin persentase dibandingkan 2010.
Indonesia juga punya persoalan serupa. Riskesdas 2018 yang dirujuk Kementerian Kesehatan mencatat proporsi penduduk usia di atas 10 tahun dengan aktivitas fisik kurang mencapai 33,5 persen, naik dari 26,1 persen pada 2013.
Jadi, ajakan bergerak dari media sosial sebenarnya memiliki sisi positif. Orang yang sebelumnya enggan berolahraga bisa menemukan latihan sederhana dari ponselnya. Hanya saja, motivasi dan kesiapan fisik adalah dua urusan berbeda.
Tubuh Tidak Mengikuti Kecepatan Algoritma
Scroll beberapa kali, lalu muncul seseorang melakukan puluhan squat jump. Video berikutnya menawarkan latihan perut tujuh menit. Beberapa unggahan kemudian, pengguna bertemu tantangan burpee selama sebulan.
Algoritma bisa berpindah dari latihan pemula ke gerakan berintensitas tinggi dalam hitungan detik. Tubuh manusia tentu tidak bekerja dengan pola serupa.
Seseorang yang lama tidak berolahraga membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap beban. Kekuatan otot, mobilitas sendi, koordinasi gerak, kondisi kesehatan, hingga pengalaman latihan membuat kemampuan setiap orang berbeda.
Gerakan yang tampak ringan juga dapat berubah menjadi berat ketika dilakukan berulang dengan teknik kurang baik. Squat, misalnya, terlihat sederhana di layar. Begitu pula plank atau lunge. Namun posisi tubuh, rentang gerak, keseimbangan, dan kemampuan mempertahankan teknik tetap berpengaruh pada kualitas latihan.
Ada kecenderungan lain yang patut diperhatikan: durasi pendek sering dianggap berarti intensitasnya ringan. Padahal latihan singkat dapat dirancang sangat intens. Maka, “cuma 10 menit” belum tentu berarti mudah untuk pemula.
Targetnya Bukan Menyamai Orang di Layar
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas berat, maupun kombinasi keduanya. Rentang aktivitas intensitas sedang dapat ditingkatkan hingga 300 menit per minggu untuk memperoleh manfaat tambahan.
Pedoman aktivitas fisik yang dirangkum American College of Sports Medicine (ACSM) juga menempatkan kisaran 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang, atau 75–150 menit intensitas berat per minggu, sebagai sasaran untuk manfaat kesehatan yang substansial.
Angka tersebut lebih berguna sebagai gambaran rutinitas mingguan daripada target yang harus dituntaskan sekaligus.
Bagi orang yang baru mulai, berjalan cepat di kawasan tempat tinggal, bersepeda santai, atau latihan dasar di rumah tetap bernilai. WHO menegaskan bahwa aktivitas fisik dalam jumlah tertentu lebih baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali.
Ini penting di tengah kultur konten kebugaran yang sering menampilkan hasil akhir. Kamera memperlihatkan repetisi yang rapi, tubuh yang sudah terlatih, atau sesi intens. Proses adaptasi berminggu-minggu sebelum seseorang mampu melakukannya jarang masuk dalam video berdurasi puluhan detik.
Pengguna akhirnya perlu mengubah cara melihat konten workout: jadikan video sebagai referensi gerakan, bukan standar kemampuan yang harus langsung disamai.
Sebelum Menekan Tombol Save, Periksa Latihannya
Ada beberapa petunjuk sederhana yang bisa digunakan ketika menemukan workout TikTok. Perhatikan apakah kreator menjelaskan level latihan, jumlah repetisi, jeda, alternatif gerakan, dan teknik dasarnya.
Konten yang menyediakan modifikasi biasanya lebih mudah disesuaikan. Jump squat, misalnya, mungkin dapat diganti dengan squat biasa bagi orang yang belum terbiasa dengan gerakan eksplosif. Intensitas juga bisa dikurangi dengan menambah waktu istirahat.
Jangan mengabaikan sensasi tubuh demi menyelesaikan challenge. Napas lebih cepat dan otot terasa bekerja memang lazim saat berolahraga. Namun rasa sakit tajam, pusing, sesak yang tidak wajar, atau keluhan yang mengkhawatirkan bukan sesuatu yang perlu dilawan demi menuntaskan video.
Orang dengan penyakit tertentu, riwayat cedera, sedang hamil, atau memiliki keterbatasan fisik juga perlu lebih hati-hati sebelum mengikuti latihan generik dari internet. Saran tenaga kesehatan atau profesional olahraga yang kompeten lebih relevan daripada mengandalkan popularitas sebuah unggahan.
Yang sering terlupakan justru hal paling sederhana: tidak setiap sesi harus terlihat spektakuler.
Media Sosial Bisa Jadi Pintu Masuk untuk Bergerak
Ada alasan untuk tidak buru-buru memusuhi workout TikTok. Di tengah kebiasaan duduk dan screen time yang panjang, video kebugaran dapat membuat aktivitas fisik terasa lebih mudah diakses.
Kebutuhannya nyata. WHO memperkirakan kurangnya aktivitas fisik dapat membebani sistem layanan kesehatan dunia sekitar US$300 miliar sepanjang 2020–2030, atau kira-kira US$27 miliar per tahun, bila tingkat ketidakaktifan tidak berkurang.
Aktivitas fisik rutin sendiri berkaitan dengan manfaat luas bagi kesehatan fisik dan mental. WHO menyebut aktivitas fisik berperan dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular, sekaligus mendukung kesehatan otak dan kesejahteraan.
Di kota seperti Surabaya, kesempatan bergerak sebenarnya bisa hadir dalam bentuk yang sangat biasa. Jalan kaki pagi sebelum matahari terasa menyengat, olahraga di ruang terbuka, naik tangga, atau latihan singkat sepulang kerja sudah bisa menjadi bagian rutinitas.
Workout TikTok boleh ikut memberi ide. Simpan videonya, pelajari gerakannya, turunkan intensitas bila perlu, lalu beri tubuh kesempatan beradaptasi. Algoritma mungkin menawarkan tantangan baru setiap beberapa detik. Tubuh tidak perlu mengikuti kecepatannya.
