Senin, 05 October 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Rumah Ringkas, Hidup Praktis. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Rumah praktis semakin relevan ketika aktivitas keluarga berubah. Rumah sekarang bukan sekadar tempat tidur, makan, dan berkumpul. Sebagian aktivitas bekerja, belajar, berbelanja, menikmati hiburan, bahkan mengakses layanan publik dapat berlangsung dari ruang yang sama.
Perubahan itu terlihat dari data digital Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, naik dari 69,21 persen pada 2023. Di antara penduduk yang mengakses internet, telepon seluler menjadi perangkat dominan dengan proporsi 99,08 persen.
Menariknya, perubahan teknologi tersebut tidak selalu membutuhkan semakin banyak barang di rumah. Justru sebaliknya. Rumah yang mampu menampung banyak aktivitas membutuhkan penataan yang lebih selektif agar ruang tidak habis oleh benda yang jarang digunakan.
Rumah Berubah Menjadi Ruang Multifungsi
Gagasan rumah praktis sering disalahartikan sebagai rumah minimalis dengan furnitur mahal, warna tertentu, atau ruangan yang terlihat seperti katalog interior.
Padahal, prinsip dasarnya jauh lebih sederhana: ruang harus mengikuti kebutuhan penghuninya. BPS Jawa Timur melalui Statistik Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Timur 2025 menggunakan data Susenas Maret 2025 untuk menggambarkan kondisi hunian masyarakat.
Data perumahan menjadi penting karena kualitas tempat tinggal berkaitan langsung dengan kesejahteraan rumah tangga.
Secara nasional, BPS juga mencatat sekitar 85,07 persen rumah tangga pada 2025 menempati rumah milik sendiri. Angka itu menunjukkan rumah merupakan aset sekaligus ruang hidup utama bagi sebagian besar keluarga Indonesia.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar rumah yang dimiliki. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah seberapa efektif setiap meter ruang digunakan.
Satu meja, misalnya, dapat menjadi meja makan pada pagi hari, tempat anak belajar pada sore hari, dan tempat menyelesaikan pekerjaan pada malam hari. Lemari dengan pembagian ruang yang baik juga bisa menggantikan beberapa tempat penyimpanan terpisah.
Semakin Banyak Barang Belum Tentu Semakin Nyaman
Ada kecenderungan sederhana dalam kehidupan rumah tangga: ruang kosong perlahan mengundang barang baru. Rak kosong diisi. Sudut kosong diberi meja.
Lemari bertambah, kemudian benda di dalamnya ikut bertambah. Barang yang sebenarnya jarang digunakan tetap disimpan karena dianggap mungkin diperlukan suatu hari nanti. Masalahnya, setiap barang membutuhkan ruang.
Ketika jumlah benda bertambah tanpa evaluasi, rumah mulai kehilangan fleksibilitas. Permukaan meja penuh, akses lemari terhalang, barang sulit ditemukan, sementara sebagian ruang hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan.Rumah praktis mencoba membalik pola tersebut.
Alih-alih bertanya, “Apa lagi yang perlu dibeli?”, penghuni rumah dapat bertanya, “Apa yang sebenarnya paling sering digunakan?”
Pertanyaan sederhana itu dapat diterapkan mulai dari dapur, kamar tidur hingga ruang keluarga.
Barang yang digunakan setiap hari ditempatkan paling mudah dijangkau. Barang berkala dapat disimpan lebih dalam. Sementara benda yang sudah lama tidak digunakan perlu dievaluasi.
Bukan berarti semuanya harus dibuang. Barang layak pakai bisa diberikan kepada orang lain, dijual kembali, diperbaiki, atau dialihkan fungsinya.
Penyimpanan Bukan Solusi untuk Semua Barang
Kotak penyimpanan, rak tambahan dan kabinet sering menjadi solusi pertama ketika rumah mulai penuh. Padahal menambah tempat penyimpanan tanpa mengurangi barang dapat memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Ada cara sederhana untuk mengujinya.
Ambil satu area kecil, misalnya satu laci dapur. Keluarkan seluruh isinya. Pisahkan benda yang digunakan hampir setiap hari, digunakan sesekali, rusak, duplikat, serta tidak pernah digunakan selama berbulan-bulan. Dari satu laci saja biasanya mulai terlihat pola konsumsi rumah tangga.
Ada beberapa gunting tetapi hanya satu yang digunakan. Wadah makanan kehilangan tutupnya. Kabel lama tersimpan tanpa perangkatnya. Gelas promosi bertumpuk sementara keluarga selalu memakai gelas yang sama.
Pendekatan semacam ini membuat penataan rumah bukan sekadar aktivitas membersihkan. Penghuni mulai memahami hubungan antara kebiasaan membeli, menyimpan, menggunakan, dan membuang barang.Persoalan terakhir menjadi semakin penting jika dilihat dari data sampah nasional.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, berdasarkan data yang masuk dari 278 kabupaten/kota pada 2025, timbulan sampah mencapai sekitar 29,20 juta ton per tahun.
Dari jumlah yang tercatat tersebut, sekitar 32,9 persen telah terkelola, sedangkan 67,1 persen tercatat belum terkelola. Angka SIPSN bersifat dinamis karena bergantung pada data yang dilaporkan pemerintah daerah.
Artinya, keputusan kecil mengenai barang di dalam rumah pada akhirnya memiliki dimensi yang lebih besar daripada persoalan kerapian.
Coba Aturan Masuk Satu, Evaluasi Satu
Rumah praktis juga membutuhkan kebiasaan setelah proses merapikan selesai. Tanpa perubahan pola konsumsi, ruang yang sudah lega dapat kembali penuh beberapa bulan kemudian. Salah satu kebiasaan yang mudah dicoba adalah aturan “masuk satu, evaluasi satu”.
Ketika membeli pakaian baru, lihat kembali pakaian lama dengan fungsi serupa. Ketika membeli alat dapur baru, periksa apakah ada alat lama yang sudah tidak digunakan. Begitu pula dengan tas, sepatu, wadah makanan, mainan anak hingga perangkat elektronik.
“Evaluasi” tidak selalu berarti membuang.
Benda lama bisa tetap disimpan jika memang masih diperlukan. Namun keputusan menyimpannya menjadi sadar, bukan sekadar karena malas menentukan nasib barang tersebut.
Kebiasaan membeli pun dapat diberi jeda. Untuk barang nonmendesak, menunggu satu atau beberapa hari sebelum transaksi memberi kesempatan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan sesaat.
Cara ini semakin relevan ketika belanja dapat dilakukan dari rumah. BPS mencatat 98 persen rumah tangga pengguna internet pada 2024 mengakses internet dari rumah sendiri.
Rumah kini bukan hanya tempat barang disimpan, tetapi juga salah satu tempat keputusan konsumsi dibuat. Rumah Praktis Dimulai dari Kebiasaan, Bukan Renovasi
Membuat rumah lebih nyaman tidak selalu membutuhkan renovasi, membeli lemari baru, atau mengganti seluruh furnitur. Mulailah dari satu permukaan yang paling sering digunakan. Meja makan, misalnya. Sisakan hanya benda yang memang memiliki fungsi di sana. Setelah itu pindah ke satu laci, satu rak, kemudian satu lemari.
Perubahan kecil seperti ini lebih mudah dipertahankan dibanding membongkar seluruh rumah dalam satu hari. Ukuran keberhasilannya pun bukan apakah rumah terlihat kosong.
Rumah tetap boleh memiliki buku, foto keluarga, mainan anak, koleksi, peralatan memasak, atau benda dengan nilai sentimental. Yang berubah adalah hubungan penghuninya dengan benda tersebut.
Rumah praktis akhirnya bukan rumah yang memiliki paling sedikit barang. Ia adalah rumah yang setiap ruangnya mudah digunakan, setiap benda relatif mudah ditemukan, dan barang yang disimpan mempunyai alasan untuk tetap berada di sana.
Ketika rumah bekerja mengikuti kehidupan penghuninya, kenyamanan tidak lagi bergantung pada seberapa banyak barang yang bisa dimiliki. Justru ruang yang tersisa memberi keluarga kesempatan lebih besar untuk bergerak, berkumpul, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sederhana.
