Logo

Jangan Buru-Buru Buang Barang Lama di Rumah

Barang yang tak lagi kita gunakan belum tentu kehilangan nilai; persoalannya adalah menentukan ke mana ia seharusnya pergi.
Reporter:,Editor:

Senin, 05 October 2026 08:00 UTC

Jangan Buru-Buru Buang Barang Lama di Rumah

Ilustrasi: Barang Lama, Keputusan Baru. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Barang lama mudah menumpuk di rumah karena keputusan tentang nasibnya terus ditunda. Pakaian yang sudah jarang dipakai, perangkat elektronik rusak, wadah plastik, buku sekolah, furnitur kecil hingga peralatan dapur akhirnya berpindah ke gudang atau sudut tersembunyi

Membuangnya memang cara tercepat membuat rumah terasa kosong. Namun, dari sudut pandang lingkungan, keputusan itu belum tentu menjadi pilihan terbaik.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan besarnya persoalan tersebut. Berdasarkan data 2025 yang masuk dari 278 kabupaten/kota, timbulan sampah tercatat sekitar 29,20 juta ton per tahun.

Sekitar 67,1 persen dari jumlah yang dilaporkan tersebut tercatat belum terkelola. Data SIPSN bersifat dinamis mengikuti pelaporan pemerintah daerah.

Karena itu, merapikan rumah sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “apa yang harus dibuang?”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah “apa keputusan terbaik untuk setiap barang?”

 

Mulai dari Fungsi, Bukan Perasaan Bersalah

Banyak barang bertahan di rumah bukan karena masih digunakan, tetapi karena pemiliknya merasa sayang. Ada pakaian yang ukurannya sudah tidak sesuai tetapi mengingatkan pada suatu peristiwa.

Ada hadiah yang tidak pernah digunakan, namun terasa tidak sopan jika dilepaskan. Ada pula peralatan rusak yang terus disimpan karena suatu hari mungkin akan diperbaiki. Nilai emosional seperti itu wajar.

Masalah muncul ketika hampir semua barang diberi alasan yang sama. Akhirnya, ruang penyimpanan dipenuhi benda yang tidak lagi memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Cara sederhana untuk mengujinya adalah memisahkan nilai fungsi dan nilai sentimental.

Tanyakan kapan terakhir barang tersebut digunakan. Apakah kondisinya masih baik? Apakah ada barang lain dengan fungsi sama? Jika barang itu hilang hari ini, apakah kita benar-benar akan membelinya kembali?

Pertanyaan terakhir sering menjadi penyaring yang efektif. Jika jawabannya tidak, mungkin barang tersebut sudah tidak terlalu dibutuhkan.

Namun, tidak dibutuhkan bukan berarti harus langsung masuk tempat sampah.

 

Ada Pilihan Selain Membuang

Setidaknya ada beberapa jalur yang bisa dipertimbangkan ketika sebuah barang keluar dari rumah: digunakan kembali, diperbaiki, diberikan kepada orang lain, dijual, didaur ulang, atau baru kemudian dibuang jika memang tidak memiliki pilihan lain.

Pakaian layak pakai, misalnya, dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan. Buku dapat dialihkan ke taman baca atau orang lain yang tertarik. Furnitur kecil mungkin masih berguna bagi keluarga lain. Barang elektronik membutuhkan perhatian berbeda.

Kementerian Lingkungan Hidup memasukkan limbah elektronik atau e-waste ke dalam kategori yang membutuhkan pengelolaan khusus karena dapat mengandung bahan berbahaya.

Peralatan elektronik yang sudah tidak digunakan sebaiknya tidak diperlakukan sama seperti sampah rumah tangga biasa. Skalanya juga terus membesar secara global.

Global E-waste Monitor 2024 yang diterbitkan International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) memperkirakan dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton limbah elektronik pada 2022. Hanya 22,3 persen yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara formal.

Laporan tersebut memperkirakan timbulan e-waste global dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 jika kecenderungannya berlanjut.
Jadi, telepon lama, charger rusak, kipas, baterai, komputer, atau peralatan elektronik kecil yang ditemukan ketika membersihkan rumah tidak semestinya langsung dicampurkan dengan sampah lainnya.

 

Barang Rusak Belum Tentu Menjadi Sampah

Kebiasaan memperbaiki barang sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai kota dan desa masih mudah ditemukan tukang servis kipas angin, penjahit, reparasi sepatu, bengkel elektronik, tukang las, hingga pengrajin furnitur.
Ekosistem sederhana ini memperpanjang usia barang.

Kipas angin yang mati mungkin hanya membutuhkan penggantian komponen kecil. Celana dengan ritsleting rusak dapat kembali digunakan setelah diperbaiki. Kursi kayu yang goyah mungkin cukup diperkuat sambungannya. Keputusan memperbaiki juga memiliki dimensi ekonomi.

BPS mencatat pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam struktur Produk Domestik Bruto Indonesia. Pada 2025, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB nasional.

Artinya, keputusan konsumsi yang dilakukan jutaan rumah tangga memiliki bobot besar dalam perekonomian. Namun konsumsi tidak selalu berarti mengganti barang lama dengan barang baru.

Membayar jasa reparasi juga merupakan aktivitas ekonomi. Bedanya, uang yang dikeluarkan sekaligus memperpanjang umur barang yang sudah dimiliki. Tentu tidak semua benda layak diperbaiki.

Jika biaya perbaikan mendekati harga barang baru, suku cadangnya sulit ditemukan, atau penggunaannya sudah tidak aman, penggantian bisa menjadi keputusan yang lebih masuk akal.

Yang penting adalah keputusan tersebut dibuat setelah menilai kondisi barang, bukan semata karena ada model baru di pasaran.
Hati-hati dengan Kotak “Nanti”

Saat membereskan rumah, biasanya muncul satu kategori berbahaya: barang yang akan diputuskan nanti. Kotak “nanti” mudah menjadi gudang baru.

Enam bulan kemudian, kotak itu masih tertutup. Pemilik bahkan mungkin lupa apa isinya. Jika belum mampu mengambil keputusan, berikan batas waktu.

Tuliskan tanggal pada kotak penyimpanan. Jika barang di dalamnya tidak pernah dicari selama beberapa bulan, lakukan evaluasi kembali. Ada pengecualian untuk barang musiman.

Jas hujan tidak perlu digunakan setiap minggu. Peralatan mudik, dekorasi hari raya, koper, perlengkapan berkemah, atau dokumen tertentu memang memiliki frekuensi penggunaan berbeda. Karena itu, frekuensi bukan satu-satunya ukuran.

Pertimbangkan juga apakah barang memiliki fungsi yang jelas pada waktu tertentu.

 

Jangan Sampai Decluttering Memindahkan Masalah

Ada ironi yang sering terjadi ketika seseorang ingin mengurangi barang. Ia membeli kotak penyimpanan baru, rak baru, organizer baru, gantungan baru, dan berbagai perlengkapan untuk mengatur barang lama. Rumah memang terlihat lebih rapi, tetapi jumlah bendanya justru bertambah.

Karena itu, proses memilah sebaiknya dilakukan sebelum membeli perlengkapan penyimpanan. Ketahui dahulu barang apa yang akan tetap berada di rumah. Setelah jumlahnya jelas, barulah tentukan apakah benar-benar membutuhkan tempat penyimpanan tambahan.
Prinsip yang sama berlaku ketika memberikan barang kepada orang lain.

Jangan menganggap semua barang yang tidak kita inginkan pasti dibutuhkan orang lain. Pakaian sobek, perangkat elektronik rusak, wadah tanpa pasangan, atau benda yang tidak layak digunakan bukan donasi yang bermanfaat.

Memberikan barang seharusnya memindahkan manfaat, bukan memindahkan sampah.

 

Satu Lemari Bisa Menjadi Titik Awal

Tidak perlu mengeluarkan seluruh isi rumah dalam satu akhir pekan. Mulailah dari satu lemari. Buat empat kelompok sederhana: tetap digunakan, diperbaiki, dialihkan kepada orang lain, dan tidak dapat digunakan lagi.

Setelah selesai, lakukan hal yang sama pada satu rak atau satu sudut rumah pada kesempatan berikutnya. Cara bertahap membuat keputusan lebih mudah dan mengurangi kemungkinan barang tercampur kembali. Lebih penting lagi, perhatikan apa yang paling banyak ditemukan.

Jika banyak pakaian hampir tidak pernah digunakan, mungkin pola membeli pakaian perlu dievaluasi. Jika banyak makanan kedaluwarsa ditemukan di dapur, persoalannya mungkin terletak pada pola belanja. Jika kabel dan perangkat lama mendominasi laci, kebiasaan mengganti perangkat perlu diperhatikan.

Dengan cara itu, merapikan rumah berubah menjadi proses membaca pola konsumsi keluarga. Tujuannya bukan membuat rumah kosong.

Tujuannya adalah memastikan benda yang masih berguna tetap memberikan manfaat selama mungkin, sementara barang yang benar-benar harus keluar diarahkan ke tempat yang tepat.

Sebab barang lama tidak otomatis menjadi sampah hanya karena kita sudah tidak membutuhkannya. Kadang-kadang, yang diperlukan hanyalah satu keputusan baru tentang perjalanan berikutnya.