Minggu, 04 October 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Tetangga berbagi ruang hidup. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kucing liar mudah ditemukan di lingkungan permukiman. Ada yang hanya melintas, menetap di sekitar warung, tidur di teras kosong, hingga rutin datang karena mengetahui ada warga yang menyediakan makanan.
Masalah mulai muncul ketika jumlahnya bertambah. Ada kotoran di halaman, suara perkelahian pada malam hari, sampah makanan berserakan, atau anak kucing baru bermunculan. Sebagian warga ingin memberi makan, sementara tetangga lain merasa terganggu.
Situasi semacam ini membutuhkan pendekatan yang lebih matang daripada sekadar memilih antara “kasihan” atau “usir saja”. Kucing jalanan hidup dalam ruang yang sama dengan manusia sehingga cara menanganinya juga berkaitan dengan kebersihan, kesehatan, reproduksi, dan kenyamanan lingkungan.
Data kesehatan menunjukkan mengapa interaksi dengan hewan yang status kesehatannya tidak diketahui tetap perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan mencatat 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia sepanjang 2024 dengan 122 kematian akibat rabies. Hingga minggu ke-31 tahun 2025, jumlah kasus gigitan yang dilaporkan bahkan mencapai 112.092 kasus.
Bukan berarti kucing liar harus ditakuti. Angka tersebut justru menunjukkan pentingnya membangun hubungan manusia dan hewan secara bertanggung jawab.
Memberi Makan Saja Ternyata Belum Cukup
Menaruh makanan merupakan respons paling spontan ketika melihat kucing kelaparan. Niatnya baik, tetapi kebiasaan memberi makan tanpa pengelolaan dapat menimbulkan persoalan baru.
Sisa makanan yang dibiarkan semalaman bisa mengundang lalat, tikus, atau hewan lain. Wadah kotor menjadi sumber bau, sementara beberapa kucing akan berkumpul pada titik yang sama karena mengetahui makanan tersedia secara rutin.
Jika ingin memberi makan, buatlah tempat dan waktu yang jelas. Gunakan wadah yang dapat dicuci, berikan porsi secukupnya, kemudian bersihkan sisa makanan.
Air bersih sering justru terlupakan. Padahal menyediakan air dalam wadah bersih merupakan bentuk bantuan sederhana yang tidak menghasilkan banyak sampah.
Lokasinya juga penting. Hindari meletakkan makanan tepat di depan rumah tetangga, jalan kendaraan, tempat bermain anak, atau area yang digunakan bersama.
Dengan begitu, kepedulian terhadap kucing tidak memindahkan konsekuensinya kepada orang lain.
Persoalan Besarnya Justru Reproduksi
Satu atau dua kucing mungkin tidak menimbulkan persoalan berarti. Kondisinya berubah ketika reproduksi berlangsung tanpa pengendalian.
Anak kucing kemudian lahir ketika belum tentu tersedia manusia yang mampu merawatnya. Sebagian bertahan hidup, sebagian sakit, dan sebagian lagi akhirnya kembali menghasilkan generasi berikutnya.
Karena itu, pendekatan terhadap kucing komunitas sebaiknya tidak berhenti pada pemberian makanan.Sterilisasi dapat dibicarakan dengan dokter hewan, fasilitas kesehatan hewan pemerintah daerah, atau komunitas kesejahteraan hewan yang memiliki prosedur jelas.
Tujuannya bukan menghilangkan kucing dari lingkungan, melainkan mengendalikan pertambahan populasi secara lebih manusiawi.
Pendekatan semacam ini juga membuat bantuan warga lebih terukur. Biaya yang sebelumnya terus digunakan untuk menghadapi kelahiran baru dapat diarahkan pada perawatan hewan yang sudah ada.
Masyarakat pun perlu menghindari tindakan ekstrem seperti membuang kucing ke lingkungan lain. Memindahkan masalah bukanlah menyelesaikan masalah.
Tetap Hati-hati dengan Gigitan dan Cakaran
Kucing yang terbiasa menerima makanan belum tentu sama dengan kucing rumahan. Hewan dapat bereaksi defensif ketika takut, sakit, terluka, melindungi anak, atau merasa terpojok.
Anak-anak perlu diajari agar tidak langsung menggendong kucing yang tidak dikenal. Jangan menarik ekor, mengejar, mengganggu saat makan, atau memegang anak kucing ketika induknya berada di dekatnya. Biarkan hewan mendekat atas kemauannya sendiri.
Kewaspadaan semakin penting karena gigitan dan cakaran dapat membuka jalan bagi infeksi.
Kementerian Kesehatan menyebut rabies dapat ditularkan melalui gigitan, cakaran yang terkontaminasi saliva, maupun jilatan pada kulit yang terluka atau selaput lendir. Bila terjadi paparan berisiko, luka dianjurkan segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama 15 menit, kemudian korban perlu mendatangi fasilitas kesehatan untuk memperoleh penanganan sesuai indikasi.
Jawa Timur memang termasuk 12 dari 38 provinsi yang dinyatakan bebas rabies dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan tahun 2025. Sebanyak 26 provinsi lainnya masih dikategorikan endemis.
Status bebas tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan, terutama karena manusia dan hewan dapat berpindah antardaerah.
Ketika Kucing Menjadi Urusan Satu Kampung
Persoalan kucing liar sebenarnya menarik karena menunjukkan bagaimana ruang hidup bersama dikelola. Bayangkan sebuah gang memiliki sepuluh kucing.
Tiga rumah rutin memberi makan, lima rumah tidak keberatan, tetapi dua rumah terganggu karena kucing sering membuang kotoran di halaman. Tidak ada pihak yang otomatis salah.
Warga yang memberi makan sedang menunjukkan kepedulian. Warga yang meminta lingkungannya tetap bersih juga memiliki kepentingan yang wajar. Solusinya justru dapat muncul ketika keduanya berbicara.
Tentukan lokasi pemberian makanan yang tidak mengganggu. Bersihkan wadah setelah digunakan. Identifikasi kucing yang sudah dan belum disterilkan. Perhatikan hewan yang terlihat sakit atau terluka.
Bila memungkinkan, buat catatan sederhana. Tidak perlu aplikasi khusus. Foto dan ciri fisik sudah cukup membantu mengenali kucing yang sama.
Cara seperti ini juga menghindarkan warga dari kesalahan memperkirakan jumlah hewan. Seekor kucing yang berkeliaran dari satu gang ke gang lain bisa dianggap sebagai beberapa kucing berbeda.
Dari Rasa Kasihan Menjadi Kepedulian
Hari Hewan Sedunia yang diperingati setiap 4 Oktober dapat menjadi momentum melihat kembali hubungan manusia dengan hewan yang berada paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak semuanya tinggal di kebun binatang atau kawasan konservasi. Sebagian justru tidur di bawah motor, menunggu di belakang warung, atau berjalan di pagar rumah setiap pagi. Kucing liar di sekitar rumah adalah salah satu contohnya.
Kepedulian kepada mereka tidak harus diwujudkan dengan membawa setiap kucing masuk ke rumah. Tidak semua orang mempunyai ruang, waktu, biaya, atau kondisi keluarga yang memungkinkan untuk memelihara hewan.
Tindakan yang lebih realistis adalah membuat keberadaan mereka dapat dikelola bersama. Berikan makanan secara tertib bila memang memilih melakukannya. Sediakan air bersih. Jangan meninggalkan sampah. Hindari kontak yang berisiko. Dorong sterilisasi melalui pihak yang kompeten. Jangan membuang atau menyakiti hewan hanya karena dianggap mengganggu.
Cara tersebut mengubah hubungan dengan kucing jalanan dari sekadar rasa kasihan menjadi tanggung jawab lingkungan.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai kucing liar di sekitar rumah bukan hanya tentang siapa yang menyukai atau tidak menyukai kucing.
Persoalannya adalah bagaimana manusia bersedia berbagi ruang hidup tanpa mengorbankan kesehatan, kebersihan, kenyamanan tetangga, maupun kesejahteraan hewan.
