Logo

Wisata Petik Melon Hidroponik Jadi Primadona Baru di Probolinggo

Reporter:,Editor:

Sabtu, 16 May 2026 01:00 UTC

Wisata Petik Melon Hidroponik Jadi Primadona Baru di Probolinggo

Pengunjung wisata petik melon di Greenhouse Tanjoeng Farm, Paiton, Kabupaten Probolinggo. Foto: Zulafif.

JATIMNET.COM, Probolinggo – Kabupaten Probolinggo memiliki primadona baru di sektor pariwisata. Greenhouse Tanjoeng Farm sukses menarik perhatian warga lewat wisata petik melon hidroponik langsung dari pohonnya.

Konsep agrowisata modern ini memberi pengalaman berbeda bagi pengunjung. Mereka bisa melihat budidaya melon di dalam greenhouse, edukasi pertanian hingga memetik buah dengan cita rasa manis dan segar dari pohon.

Buah melon yang ditawarkan merupakan varietas unggulan, yakni Lavender dan Intanon yang didatangkan dari Belanda, Thailand, dan Taiwan.

Dua jenis tersebut dibudidayakan dengan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique), yakni metode aliran air tipis yang terus mengalir ke akar tanaman.

Hasil panennya, varietas Lavender memiliki karakteristik buah berukuran besar dengan warna oranye di bagian luar maupun dalam. Teksturnya crunchy dengan rasa manis yang khas.

BACA:  Serunya Petik Melon Premium di Tempuran Mojokerto

‎‎‎‎Sementara, jenis Intanon yang dihasilkan memiliki tekstur lebih lembut, berwarna hijau luar dalam, serta aroma yang harum.

‎‎Imelda, salah seorang pengunjung Greenhouse Tanjoeng Farm merasa tertarik dengan konsep wisata yang ditawarkan Greenhouse Tanjoeng Farm. Selain langsung memetik buah langsung dari pohon, juga bisa belajar cara budidaya melon hidroponik

 “Di sini bisa memetik sekaligus belajar menanam buah melon. Tempatnya menarik dan cocok buat Gen Z yang ingin belajar budidaya melon. Rasanya juga manis dan ada crunchy-nya,” ujar  pengununjung asal Situbondo itu, Sabtu, 16 Mei 2026.

Hasyim, pengunjung lainnya mengatakan bahwa pengalaman memetik melon langsung dari pohon memberikan sensasi berbeda dibanding membeli buah di pasaran.

‎‎“Sangat menarik karena bisa memetik langsung dari tanamannya. Bentuk melonnya juga bagus dan rasanya segar saat dicoba. Saya rencananya beli untuk dimakan langsung karena terasa lebih fresh,” ujarnya.

BACA: Tanam 3.500 Bibit Melon Tiga Varian di Lahan Desa Balongwono, Ini Hasilnya

‎‎Pengelola wisata petik buah Tanjoeng Farm, Nahrawi menjelaskan lahan greenhouse yang dikembangkan seluas 16 x 32 meter persegi itu mampu menampung sekitar 1.400 tanaman melon. Budidaya tersebut dapat dipanen hingga empat kali dalam setahun.

Menurutnya, dalam satu kali masa tanam selama sekitar 70 hari, omzet yang diperoleh bisa mencapai puluhan juta rupiah.

‎‎“Sekitar 80 persen hasil panen kami pasarkan ke gudang buah nasional. Sedangkan 20 persennya untuk kebutuhan wisata petik buah,” jelas Nahrawi.

‎‎Untuk harga, melon premium di Tanjoeng Farm dijual sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Selain menjadi destinasi wisata edukasi, greenhouse melon hidroponik ini diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap pertanian modern yang bernilai ekonomi tinggi.