Peringati 13 Tahun Lumpur Lapindo

Warga Terdampak Desak Selesaikan Ganti Rugi

Baehaqi Almutoif

Rabu, 29 Mei 2019 - 15:56

JATIMNET.COM, Surabaya – Tepat hari ini, 29 Mei 2006, peringatan bencana banjir lumpur panas Sidoarjo yang belakangan dikenal dengan lumpur lapindo keluar.

Tepat 13 tahun semburan lumpur, warga terdampak bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur Jalan Pahlawan Surabaya, Rabu 29 Mei 2019.

“Aksi ini dilakukan perempuan korban Lumpur Lapindo. Mereka mendatangi Gubernur Jawa Timur yang juga seorang perempuan untuk mengadukan bahwa situasi di lumpur lapindo jauh dari selesai," ujar Direktur Walhi Jawa Timur, Rere Christianto.

13 tahun berlalu, Walhi menilai situasi sekitar semburan lumpur lapindo masih jauh dari kata layak. Dampak lingkungan yang muncul belum tertangani hingga kini. Kerusakan lingkungan kerap dirasakan warga.

BACA JUGA: Lestarikan Gunung dan Hindari Kerusakan Tambang dalam Gambar

“Yang bisa merasakan paling dekat adalah perempuan. Air misalnya, di sekitar lumpur lapindo tidak bagus. Kebutuhan air sangat penting, pagi sudah menyentuh air untuk memasak, mencuci, memandikan anak dan aktivitas lain,” tuturnya.

Walhi mencatat, sejak pertama kali semburan lumpur lapindo banyak kerusakan yang berdampak pada masyarakat. Kualitas air dan udara menurun akibat kandungan logam berat dan PH yang di atas ambang batas.

Dampak dari logam berat ini, lanjut Rere, sangat parah jika masuk di dalam tubuh. “Misalnya merusak organ-organ internal, seperti ginjal, jantung, paru-paru yang dalam waktu lama kemudian akan berdampak pada kesehatan yang serius,” tuturnya.

Dia berharap pemerintah serius menangani korban semburan lumpur lapindo. Tidak hanya ganti rugi material. Sebab uang tersebut bakal habis untuk mengonati penyakit. Walhi meminta tidak memberikan izin baru untuk eksplorasi tambang.

BACA JUGA: Semburan Mirip Lapindo di Doplang Blora, Begini Kata Sutopo

“Kemudian pemerintah bisa memastikan, mana peta keselamatan, mana peta ancaman. Seberapa luas sebaran logam berat di situ, sebaran gas h2s, seberapa luas subsiden di daerah itu,” tandasnya.

Sementara itu, warga Jatirejo Muawanah berharap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya kembali normal. Kembali bisa ditempati. Meski sudah tinggal jauh dari semburan lumpur, ia mengaku ingin kembali.

“Segera dilunasi (ganti rugi) warga yang sebagian dekat dengan lumpur Lapindo. Saya berharap pemerintah bisa memberi air bersih, tidak seperti sekarang ini,” kata Muawanah.

Baca Juga

loading...