Rabu, 06 May 2026 04:00 UTC

Menu MBG perdana di salah satu MI di Kabupaten Pasuruan tidak ada sayurnya alias keringan, Selasa, 5 Mei 2026. Sayur diganti mentimum satu iris. Dok: siswa
JATIMNET.COM - Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditunggu-tunggu siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif NU Ngering, Dusun Ngering, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, akhirnya datang.
Sebelumnya, para guru meminta para siswa membawa wadah atau tempat makan untuk wadah MBG yang tidak habis.
Namun, MBG yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang meski para siswa sudah siap membawa wadah untuk sisa makanan.
Selang sekitar seminggu, mobil MBG yang ditunggu-tunggu pun datang pada Selasa, 5 Mei 2026.
Saat itu tidak semua siswa masuk karena kelas 6 sedang menjalani Ujian Madrasah (UM). Siswa yang masuk hanya siswa kelas 2, 3, dan 6.
Siswa pun gembira menyambut MBG datang. Mobil pengangkut MBG pun parkir di halaman sekolah dan wadah atau ompreng MBG dikeluarkan dan dibagikan ke tiga kelas berisi siswa yang sedang sekolah dan ujian.
Setelah bersama-sama membaca doa, ompreng pun dibuka. Sayangnya, menu perdana itu dianggap sejumlah wali murid kurang memenuhi syarat.
Menu yang disajikan terdiri dari nasi, lauk berupa ayam goreng, sambal atau saus, tempe 1 iris, mentimun 1 iris, dan jeruk 1 buah.
Bisa dibilang menu yang disajikan “keringan” atau dalam bahasa Jawa disebut “garingan” karena tanpa sayur tumis atau kuah.
Padahal menurut ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertanggung jawab pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG, menu MBG harus terdiri dari nasi, lauk, sayur, dan buah.
Menu perdana yang diterima siswa MI Ma’arif NU Ngering tersebut bisa dianggap tidak ada sayurnya dan diduga sayur diganti dengan mentimun satu iris.
Namun, pada menu MBG yang dibagikan Rabu, 6 Mei 2026, sudah terdapat sayur dan semua siswa kelas 1 sampai kelas 6 di MI setempat menerima jatah MBG.
“Saya berharap SPPG konsisten menyajikan menu sebagaimana aturan dari pemerintah atau BGN (Badan Gizi Nasional). Kita berhak komplain jika ada yang kurang baik atau tidak memenuhi syarat,” kata salah satu wali murid yang enggan disebut namanya.
Wali murid juga berharap pihak sekolah berani menolak untuk menandatangani persetujuan menu MBG yang dikirim jika memang tidak memenuhi syarat.
“Sekolah jangan hanya menerima begitu saja. Anggaran pemerintah untuk MBG juga diambilkan dari pajak masyarakat termasuk pajak dari gaji guru-guru. Jadi harus kompak antara wali murid dan guru,” katanya.
Menurut informasi dari pihak sekolah, MBG tersebut diproduksi SPPG Yayasan Ponpes Roudlotun Nafi’iyah yang beralamat di Jalan Raya Tempel, Dusun Tempel, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. SPPG ini baru diresmikan Senin, 4 Mei 2026,
Saat dikonfirmasi, Kepala SPPG Roudlotun Nafi’iyah, Rif’a Maulana, membenarkan jika menu MBG yang dibagikan pada Selasa, 5 Mei 2026, tidak ada sayur di dalamnya.
“Memang enggak ada sayurnya, di menunya enggak ada, itu khan dari ahli gizinya menunya, bukan dari saya,” katanya saat dikonfirmasi.
Rif’a malah meminta wartawan mengonfirmasi ke Babinsa atau Koramil yang selama ini memberikan arahan.
“Silakan hubungi Pak Babinsa, karena kami berjalan lewat situ, Dari Koramil kami diarahkan dari situ, kami mengikuti arahan Babinsa,” ujarnya.
Padahal seharusnya, kelayakan menu MBG sesuai aturan menjadi tanggung jawab SPPG sebagai mitra BGN.
Rif’a mengatakan SPPG Roudlotun Nafi’iyah yang berada di Ponpes Roudlotun Nafi’iyah itu melayani 800 siswa dari 21 sekolah mulai TK hingga SD/MI dan dilakukan secara bertahap.
