Logo

Vision Fest Myopia Care Dorong Kolaborasi Cegah Mata Minus Anak

Reporter:,Editor:

Rabu, 12 August 2026 09:00 UTC

Vision Fest Myopia Care Dorong Kolaborasi Cegah Mata Minus Anak

Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli disela sela membuka acara peluncuran gerakan sosial Vision Fest Myopia Care–Natamata, Rabu, 12 Agustus 2026. Foto: Agus Salim.

JATIMNET.COM, Gresik – Kemampuan anak mengikuti proses belajar tidak hanya bergantung pada materi dan metode pembelajaran. Kondisi penglihatan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Gangguan penglihatan, termasuk mata minus atau myopia, dapat membuat anak kesulitan melihat tulisan di papan kelas, membaca buku maupun mengikuti aktivitas belajar dengan nyaman.

Karena itu, kesehatan mata anak menjadi perhatian dalam gerakan sosial Vision Fest Myopia Care–Natamata yang diperkenalkan Eyelink Group bersama 15 sekolah dari Kabupaten Gresik dan Lamongan di Hotel Aston Gresik, Rabu, 12 Agustus 2026.

Direktur Optik Natamata Muhammad Rijaal Alhaq mengatakan, kesehatan mata merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan kenyamanan anak saat belajar. Pengendalian myopia pun tidak bisa hanya mengandalkan layanan kesehatan.

Orang tua, kata dia, memiliki peran untuk mengenali perubahan penglihatan anak. Sementara sekolah dapat ikut memantau kenyamanan siswa ketika mengikuti pembelajaran.

“Penglihatan yang optimal merupakan fondasi penting bagi anak untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi,” ujar Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli.

Dokter Spesialis Mata Eyelink Group dr. Ria Sandy Deneska mengatakan, perubahan penglihatan pada anak perlu diketahui sedini mungkin. Deteksi dini menjadi penting agar perkembangan myopia dapat dikendalikan.

“Penanganannya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing anak,” katanya.

Menurut Ria, pengendalian mata minus dapat dilakukan melalui beberapa metode. Di antaranya penggunaan kacamata yang tepat, lensa defocus, obat tetes khusus, Orthokeratology (Ortho-K), hingga EDOF softlens.

Pilihan penanganan tersebut tidak bisa disamaratakan karena kondisi mata setiap anak berbeda. Pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan metode yang sesuai.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Puspitasari Wardani menilai upaya menjaga kesehatan mata anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Kami berharap gerakan ini menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan penyedia layanan kesehatan dalam menjaga kualitas penglihatan anak,” ujarnya.

Gerakan Vision Fest Myopia Care–Natamata mendorong orang tua, sekolah, pemerintah, dan layanan kesehatan bersama-sama memperhatikan kesehatan mata anak, terutama melalui edukasi dan pemeriksaan sejak dini.

Program tersebut didukung ekosistem layanan kesehatan mata Eyelink Group, yakni RS dan Klinik Mata KMU, National Eye Center (NEC), serta Optik Natamata.