JATIMNET.COM, Surabaya – Puluhan Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kota Surabaya juga menggelar aksi bersama Forum Komunitas warga Dolly-Jarak (Forkaji) di depan Pengadilan Negeri Surabaya.

Aksi yang mereka lakukan itupun tidak jauh berbeda dengan Forkaji, menolak class action yang dilayangkan dari Front Pekerja Lokalisasi (FPL) dan Komunitas Pemuda Independen (Kopi) mengenai ganti rugi Rp 270 miliar atas perampasan hak ekonomi masyarakat, pasca penuntupan lokalisasi.

Menurut Wakil Ketua GP Anshor Kota Surabaya, M Hasyim Asyhari, aksi yang dilakukannya itu sebagai bentuk solidaritas mencegah adanya rumah musik dan memberantas bisnis prostitusi di eks lokalisasi Dolly Jarak.

Seuai dengan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Prostitusi. “Tidak hanya mencegah, kami minta kepada penegak hukum untuk konsisten terhadap keputusan yang telah kita buat bersama antara Walikota, Masyarakat, TNI dan Polri” ujar Hasyim Ashari, Kamis, 30 Agustus 2018.

Seandainya gugatan diterima, lanjut Hasyim, Ia akan melakukan upaya lainnya. “Ada beberapa tahapan yang kita lakukan, sampai persoalan ini ada keputusan bahwa permohonan itu ditolak” ujar dia.

Mengenai aksi tersebut, juru bicara Pengadilan Negeri Surabaya Sigit Sutriono SH MH mengatakan, jika ada pihak yang keberatan terhadap gugatan class action itu adalah haknya mereka semua.

“Ada yang keberatan terhadap gugatan class action karena merasa menguntungkan masyarakat sana yang menurut mereka tidak baik” ujar Sigit usai menerima kedatangan warga Dolly-Jarak yang bertempat diruang Pertemuan PN Surabaya.