Senin, 08 June 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Perjalanan lebih hemat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Menghemat biaya transportasi saat traveling menjadi salah satu tantangan terbesar bagi backpacker pemula. Banyak orang fokus mencari penginapan murah atau promo makanan, tetapi lupa bahwa pengeluaran transportasi justru sering menjadi komponen terbesar selama perjalanan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Wisatawan Nusantara 2024 menunjukkan rata-rata pengeluaran wisatawan domestik mencapai Rp2,31 juta per perjalanan. Dari jumlah tersebut, biaya transportasi menjadi pos terbesar dengan rata-rata Rp513,94 ribu atau sekitar 22 persen dari total pengeluaran perjalanan.
Angka tersebut menunjukkan satu hal penting. Semakin efisien seseorang mengelola transportasi, semakin besar peluang menghemat anggaran tanpa harus mengurangi kualitas pengalaman wisata.
Bagi backpacker berpengalaman, strategi transportasi bukan sekadar mencari harga termurah. Tujuannya adalah menemukan kombinasi terbaik antara biaya, waktu, dan kenyamanan.
Memesan Tiket Jauh Sebelum Hari Keberangkatan
Salah satu kebiasaan yang hampir selalu dilakukan traveler berpengalaman adalah merencanakan transportasi sejak awal. Harga tiket pesawat, kereta api, maupun bus umumnya lebih stabil dan kompetitif ketika dipesan jauh sebelum tanggal keberangkatan.
Maskapai penerbangan internasional melalui organisasi industri penerbangan global IATA juga berulang kali mencatat bahwa pola pemesanan lebih awal sering memberikan pilihan harga dan jadwal yang lebih baik dibanding pembelian mendekati hari keberangkatan.
Bagi backpacker, selisih harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah dari satu tiket dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti akomodasi atau tiket destinasi wisata.
Karena itu, itinerary dan pemesanan transportasi sebaiknya disusun bersamaan, bukan dilakukan secara terpisah.
Mengelompokkan Destinasi dalam Satu Kawasan
Kesalahan umum saat traveling adalah terlalu sering berpindah lokasi dalam waktu singkat. Banyak wisatawan membuat daftar destinasi yang tersebar di berbagai sudut kota tanpa mempertimbangkan jarak antarlokasi.
Akibatnya, waktu habis di perjalanan dan biaya transportasi terus bertambah. Backpacker berpengalaman biasanya mengelompokkan objek wisata berdasarkan area geografis. Semua lokasi yang berdekatan dikunjungi pada hari yang sama.
Strategi sederhana ini mampu mengurangi frekuensi perpindahan kendaraan dan membuat jadwal perjalanan lebih efisien.
Selain lebih hemat, tenaga yang dikeluarkan juga jauh lebih sedikit.
Memanfaatkan Transportasi Umum Secara Maksimal
Bank Dunia dan berbagai studi mobilitas perkotaan menunjukkan bahwa transportasi umum memiliki efisiensi biaya yang jauh lebih baik dibanding penggunaan kendaraan pribadi atau layanan transportasi individual untuk perjalanan rutin di kawasan perkotaan.
Karena itu, banyak backpacker menjadikan kereta lokal, bus kota, MRT, LRT, atau angkutan publik lain sebagai pilihan utama.
Selain lebih murah, transportasi umum sering memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Di berbagai kota wisata besar, satu kartu transportasi bahkan dapat digunakan untuk beberapa moda sekaligus sehingga memudahkan mobilitas wisatawan.
Sebelum berangkat, luangkan waktu mempelajari jalur dan jadwal transportasi lokal. Persiapan kecil ini sering menghasilkan penghematan yang cukup besar selama perjalanan.
Memilih Penginapan Berdasarkan Lokasi
Banyak backpacker pemula hanya membandingkan harga penginapan. Padahal, lokasi penginapan sering memiliki dampak lebih besar terhadap total biaya perjalanan.
Hostel atau guest house yang sedikit lebih mahal tetapi dekat dengan pusat aktivitas dapat mengurangi kebutuhan transportasi harian.
Sebaliknya, penginapan murah yang berada jauh dari area wisata sering menambah biaya perjalanan setiap hari. Dalam jangka beberapa hari, total pengeluaran transportasi tambahan bisa melampaui selisih harga kamar.
Karena itu, backpacker berpengalaman biasanya menghitung biaya perjalanan secara keseluruhan, bukan hanya melihat tarif penginapan semata.
Berjalan Kaki untuk Jarak Pendek
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut aktivitas berjalan kaki sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan dan bermanfaat bagi kesehatan. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu.
Bagi traveler, berjalan kaki tidak hanya menyehatkan tetapi juga membantu menghemat pengeluaran. Banyak kawasan wisata sebenarnya dapat dijelajahi tanpa kendaraan apabila destinasi yang dipilih berada dalam satu area.
Selain mengurangi biaya, berjalan kaki memberi kesempatan menikmati detail kota yang sering terlewat ketika menggunakan kendaraan.
Tidak sedikit backpacker yang menemukan tempat makan lokal, toko unik, atau spot foto menarik justru saat berjalan santai dari satu lokasi ke lokasi lain.
Menyisihkan Dana Cadangan Transportasi
Meskipun perencanaan sudah matang, kondisi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Cuaca buruk, keterlambatan transportasi, perubahan jadwal, atau kebutuhan mendadak dapat muncul kapan saja.
Karena itu, backpacker berpengalaman hampir selalu menyiapkan dana cadangan khusus transportasi. Dana ini tidak harus besar, tetapi cukup untuk mengantisipasi perubahan rute atau kebutuhan mendadak tanpa mengganggu anggaran utama perjalanan.
Keputusan sederhana tersebut sering menjadi pembeda antara perjalanan yang tetap nyaman dan perjalanan yang berakhir penuh stres.
Menghemat biaya transportasi saat traveling bukan berarti memilih opsi paling murah dalam setiap situasi. Yang lebih penting adalah memahami pola perjalanan, meminimalkan perpindahan yang tidak perlu, serta memilih moda transportasi yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Ketika transportasi direncanakan dengan baik, backpacker dapat menikmati lebih banyak pengalaman tanpa harus membebani anggaran perjalanan. Itulah alasan mengapa traveler berpengalaman selalu menempatkan strategi transportasi sebagai bagian penting dari setiap itinerary.
