Logo

Soekarno Cup 2026 Jadi Panggung Talenta Muda dari 16 Provinsi

Reporter:,Editor:

Senin, 10 August 2026 00:00 UTC

Soekarno Cup 2026 Jadi Panggung Talenta Muda dari 16 Provinsi

Juru bicara Soekarno Cup 2026, Anang Ma'ruf (kiri) bersama Yusuf Ekodono (kanan) saat di wawancarai, Minggu, 9 Agustus 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya – Sebanyak 400 pesepakbola muda dari 16 provinsi di Indonesia ambil bagian dalam Soekarno Cup 2026.

Turnamen yang digelar untuk ketiga kalinya secara berturut-turut ini dinilai menjadi ruang penting untuk menemukan talenta-talenta muda yang belum terpantau melalui kompetisi usia dini lainnya.

Juru bicara Soekarno Cup 2026, Anang Ma'ruf mengatakan pembinaan pemain usia muda merupakan investasi penting bagi masa depan sepak bola Indonesia.

Ia menilai kompetisi seperti Soekarno Cup dapat membuka peluang bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka.

"Suatu kehormatan bagi saya dan Coach Yusuf Ekodono bergabung di Soekarno Cup ini, karena saya percaya pembinaan usia muda adalah investasi terbesar bagi sepak bola, khususnya masa depan sepak bola Indonesia," kata Anang saat ditemui di sela Gala Dinner Soekarno Cup 2026 di Kota Tua Surabaya, Minggu, 9 Agustus 2026.

Mantan pemain Persebaya Surabaya itu optimistis turnamen tersebut dapat melahirkan pemain-pemain muda yang nantinya berkembang hingga level nasional.

"Di samping kita memang mencari talenta-talenta muda dan bakat-bakat muda untuk ke depannya bisa bermunculan lagi pemain-pemain yang bisa mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia," ujarnya.

Hal senada disampaikan pelatih Yusuf Ekodono. Menurut dia, konsistensi penyelenggaraan Soekarno Cup menjadi nilai penting karena memberikan kesempatan kepada pemain yang belum mendapat perhatian dari kompetisi seperti Piala Soeratin maupun Elite Pro Academy (EPA).

"Alhamdulillah dengan digelarnya Soekarno Cup ini, tidak hanya tahun ini saja, tetapi sebelumnya sudah digelar juga di Jakarta dan Bali. Berarti ini termasuk komitmen dan konsistensi dari penyelenggara untuk memberi ruang kepada anak-anak yang tidak terpantau di kompetisi Soeratin Cup atau di EPA," kata Yusuf.

Ia berharap cakupan turnamen tersebut semakin luas sehingga dapat menjangkau pemain-pemain dari daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap kompetisi sepak bola.

"Mudah-mudahan anak-anak dari pelosok Tanah Air, dari desa, dari kampung-kampung bisa bermunculan untuk menjadi pemain besar di Indonesia," ujarnya.

Yusuf mengatakan pengalaman mengikuti kompetisi sejak usia muda turut berperan dalam perkembangan seorang pemain. Ia mencontohkan perjalanan dua anaknya, Fandi Eko dan Subo Seto, yang kini pernah merasakan persaingan di level Liga 1 Indonesia.

"Memang Fandi, Subo dulu juga mengikuti event-event seperti ini, mulai dari event pelajar, termasuk Porprov, PON, juga Piala Soeratin. Alhamdulillah Fandi, Subo, anak saya ini juga bisa berkembang dan menjadi pemain di Liga 1 Indonesia," katanya.

Menurut Yusuf, keberlanjutan Soekarno Cup setiap tahun perlu diikuti evaluasi agar kualitas turnamen maupun kemampuan pemain terus meningkat.

"Kalau potensi, memang dari konsistensi tadi. Jadi begitu konsisten digelarnya Soekarno Cup dari tahun ke tahun, akan berusaha untuk memperbaiki dari tahun ke tahun," katanya.

Ia berharap proses tersebut dapat menghasilkan pemain dengan kemampuan teknis yang semakin baik dan pada akhirnya mampu memperkuat Timnas Indonesia.

"Mudah-mudahan nanti dari perbaikan itu akan menciptakan kemampuan skill yang lebih bagus lagi. Dan mudah-mudahan anak-anak dari Soekarno Cup ini nanti bisa menjadi tulang punggung Timnas Indonesia," ujar Yusuf.

Selain kemampuan di lapangan, Yusuf mengingatkan para pemain untuk menjaga sportivitas dan kebersamaan. Menurut dia, para peserta datang dari berbagai daerah dengan karakter dan latar belakang berbeda sehingga turnamen juga menjadi ruang untuk membangun persaudaraan.

"Yang terpenting adalah kekeluargaan, kebersamaan, dan jaga sportivitas. Memang kita berbeda dari provinsi-provinsi di seluruh Indonesia yang punya karakter berbeda-beda juga, ada yang keras, ada yang lembut. Tetapi setelah itu tetap kita adalah keluarga dan kebersamaan ini harus tetap kita jaga," katanya.

Anang juga berpesan agar para pemain menjadikan sportivitas sebagai bagian penting selama mengikuti kompetisi.

"Yang perlu dijaga adalah sportivitas. Bagaimanapun kita berbeda-beda, intinya cuma satu, Indonesia," katanya.