Logo

Sibuk Seharian Bikin Kita Lupa Minum? Ini Penjelasan Psikologisnya

Saat perhatian terkunci pada pekerjaan, tubuh sering kalah prioritas dibanding target yang harus diselesaikan.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 30 May 2026 11:00 UTC

Sibuk Seharian Bikin Kita Lupa Minum? Ini Penjelasan Psikologisnya

Ilustrasi: Terlalu fokus bekerja. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Lupa minum air putih terdengar seperti kebiasaan sepele. Namun bagi banyak orang, terutama pekerja kantoran, mahasiswa, freelancer, hingga pekerja digital, kondisi ini terjadi hampir setiap hari.

 

Pagi dimulai dengan secangkir kopi, lalu rapat beruntun, mengejar tenggat pekerjaan, membalas pesan, dan tiba-tiba waktu sudah menunjukkan sore hari tanpa satu gelas air pun diminum dengan cukup.

 

Fenomena ini bukan sekadar masalah disiplin atau kebiasaan buruk. Dalam psikologi perilaku, manusia memang cenderung mengabaikan kebutuhan biologis tertentu ketika perhatian dan sumber daya mental sedang terpusat pada tugas yang dianggap lebih mendesak. Akibatnya, sinyal sederhana seperti haus sering tertunda untuk direspons.

 

Padahal, kekurangan cairan ringan dapat memengaruhi energi, fokus, suasana hati, dan produktivitas. Ironisnya, efek tersebut justru dapat memperburuk kemampuan seseorang menyelesaikan pekerjaan yang sedang dikejarnya.

 

 

Otak Memiliki Kapasitas Perhatian yang Terbatas

 

Salah satu penjelasan paling kuat datang dari konsep limited attentional capacity atau kapasitas perhatian yang terbatas. Dalam ilmu psikologi kognitif, perhatian manusia merupakan sumber daya yang tidak tak terbatas.

 

Ketika seseorang sedang fokus pada tugas tertentu, sebagian besar kapasitas mental dialokasikan untuk aktivitas tersebut. Akibatnya, rangsangan lain yang sebenarnya penting dapat terabaikan. Fenomena ini dikenal sebagai inattentional blindness, yaitu kondisi ketika seseorang gagal menyadari informasi yang sebenarnya ada di hadapannya karena fokus terlalu terserap pada tugas utama.

 

Eksperimen klasik yang dilakukan psikolog Christopher Chabris dan Daniel Simons menunjukkan bahwa sekitar 50 persen peserta gagal melihat objek yang sangat mencolok ketika perhatian mereka sedang difokuskan pada tugas tertentu. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti paling terkenal tentang keterbatasan perhatian manusia.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, efek serupa dapat terjadi ketika seseorang tenggelam dalam pekerjaan, rapat daring, desain grafis, pemrograman, atau bahkan permainan video. Gelas minum ada di meja, tetapi otak tidak memberikan prioritas pada sinyal tersebut.

 

 

Haus Tidak Selalu Menjadi Alarm yang Kuat

 

Banyak orang beranggapan bahwa tubuh akan otomatis meminta air ketika membutuhkannya. Kenyataannya tidak sesederhana itu. 

 

Menurut penelitian dari University of Queensland yang dipublikasikan melalui School of Human Movement and Nutrition Sciences, rasa haus bukan indikator yang selalu akurat untuk mendeteksi status hidrasi tubuh. Dalam sejumlah kondisi, seseorang dapat mengalami dehidrasi ringan sebelum sensasi haus muncul secara jelas.

 

Kondisi ini menjadi semakin kompleks ketika perhatian sedang tersita oleh aktivitas lain. Otak cenderung memprioritaskan penyelesaian tugas yang dianggap penting dibanding sinyal fisiologis yang tidak terasa mendesak.

 

Akibatnya, seseorang baru menyadari kebutuhan minum setelah muncul gejala lain seperti mulut kering, sakit kepala ringan, atau rasa lelah yang meningkat menjelang sore hari.

 

 

Dehidrasi Ringan Bisa Mengganggu Produktivitas

 

Ironisnya, kebiasaan mengabaikan kebutuhan cairan justru dapat menurunkan performa kerja yang sedang dikejar. Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Nutrition Reviews menemukan bahwa kehilangan cairan tubuh sekitar 1–2 persen dari berat badan dapat memengaruhi fungsi kognitif dan suasana hati.

 

Dampak yang dilaporkan meliputi penurunan konsentrasi, peningkatan rasa lelah, berkurangnya kewaspadaan, serta gangguan memori jangka pendek.

 

Bagi seseorang dengan berat badan 70 kilogram, kehilangan cairan sebesar 1 persen setara dengan sekitar 700 mililiter cairan tubuh. Jumlah tersebut dapat terjadi dalam aktivitas normal tanpa olahraga berat, terutama ketika asupan cairan tidak mencukupi selama beberapa jam.

 

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition menemukan bahwa dehidrasi ringan pada perempuan muda sehat dapat meningkatkan persepsi kesulitan tugas, memperburuk suasana hati, serta mengurangi kemampuan konsentrasi.

 

Dengan kata lain, semakin lama seseorang menunda minum, semakin besar kemungkinan produktivitasnya ikut terdampak.

 

 

Budaya Kerja Modern Turut Membentuk Kebiasaan Ini

 

Selain faktor psikologis, lingkungan kerja modern juga ikut memperkuat kebiasaan lupa minum. Laporan Microsoft Work Trend Index beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pekerja pengetahuan (knowledge workers) menghadapi peningkatan volume rapat, pesan digital, dan interupsi kerja sepanjang hari. Banyak pekerja berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa jeda yang cukup.

 

Dalam situasi seperti ini, kebutuhan biologis sederhana sering dianggap sebagai aktivitas yang dapat ditunda. Tidak sedikit pekerja yang menahan keinginan ke toilet, menunda makan siang, atau mengabaikan rasa haus demi menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.

 

Fenomena serupa juga terjadi pada mahasiswa saat mengerjakan tugas, gamer yang bermain berjam-jam, maupun kreator digital yang sedang mengejar tenggat produksi konten.

 

Semakin tinggi keterlibatan seseorang dalam sebuah aktivitas, semakin besar kemungkinan ia kehilangan kesadaran terhadap kebutuhan tubuh yang sebenarnya sedang berlangsung.

 

 

Cara Mengatasi Kebiasaan Lupa Minum

 

Karena akar masalahnya berkaitan dengan perhatian dan perilaku, solusi yang efektif bukan hanya mengandalkan niat. Psikolog perilaku sering menekankan pentingnya menciptakan environmental cues atau petunjuk lingkungan yang mempermudah terbentuknya kebiasaan sehat.

 

Dalam konteks hidrasi, keberadaan botol minum yang terlihat jelas dapat menjadi pengingat visual yang membantu mengaktifkan perilaku minum.

 

Menghubungkan kebiasaan minum dengan rutinitas tertentu juga terbukti lebih efektif dibanding mengandalkan ingatan semata. Misalnya minum setelah rapat selesai, setelah membalas sejumlah email, atau setiap kali berdiri dari kursi kerja.

 

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine merekomendasikan total asupan air harian sekitar 3,7 liter untuk pria dewasa dan 2,7 liter untuk wanita dewasa dari seluruh sumber makanan dan minuman. Angka tersebut tidak harus dipenuhi sekaligus, melainkan secara bertahap sepanjang hari.

 

Bagi banyak orang, strategi sederhana seperti membawa tumbler, memasang pengingat di ponsel, atau meletakkan air dalam jangkauan tangan sering menjadi cara paling realistis untuk menjaga hidrasi.

 

Lupa minum air putih saat sibuk bukan semata-mata karena malas atau tidak peduli terhadap kesehatan. Otak manusia memang memiliki keterbatasan perhatian yang membuat kebutuhan biologis dapat tersisih ketika fokus terkunci pada pekerjaan tertentu.

 

Namun, memahami mekanisme psikologis tersebut memberi satu pelajaran penting: menjaga hidrasi bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga bagian dari menjaga kualitas fokus, energi, dan produktivitas setiap hari.