Logo

Perjalanan Sore Hari Memberi Suasana Berbeda Dibanding Pagi

Perjalanan pulang bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga menjadi jeda sebelum kembali ke rumah.
Reporter:,Editor:

Selasa, 14 July 2026 13:00 UTC

Perjalanan Sore Hari Memberi Suasana Berbeda Dibanding Pagi

Ilustrasi: Menutup hari dengan tenang. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Mobilitas harian memiliki karakter yang berbeda antara pagi dan sore. Jika pagi identik dengan ritme yang cepat dan tuntutan ketepatan waktu, perjalanan sore menawarkan kesempatan untuk menurunkan tempo setelah menjalani berbagai aktivitas.

 

Perubahan suasana ini dirasakan oleh jutaan pekerja, pelajar, hingga pelaku usaha di kota-kota besar seperti Surabaya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 58 persen penduduk Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan.

 

Aktivitas ekonomi yang terkonsentrasi di kawasan kota membuat mobilitas berlangsung hampir tanpa henti sejak pagi hingga malam.

 

Di sisi lain, TomTom Traffic Index dalam beberapa tahun terakhir menempatkan sejumlah kota besar di Indonesia sebagai wilayah dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi pada jam pulang kerja.

 

Kondisi tersebut menjadikan perjalanan sore sebagai bagian penting dari keseharian masyarakat urban.

 

Bagi sebagian orang, perjalanan pulang bahkan menjadi satu-satunya waktu untuk menikmati suasana kota tanpa tekanan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

 

 

Ritme Jalanan Berubah Menjelang Senja

 

 

Suasana jalan raya pada sore hari memiliki dinamika yang berbeda dibanding pagi. Arus kendaraan datang dari berbagai arah secara bersamaan. Pekerja meninggalkan kawasan perkantoran, pelajar pulang sekolah, sementara aktivitas perdagangan mulai meningkat menjelang malam.

 

Di Surabaya, ruas jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Raya Darmo, hingga kawasan pusat bisnis biasanya menunjukkan peningkatan volume kendaraan pada akhir jam kerja. Kepadatan tersebut merupakan konsekuensi alami dari tingginya mobilitas masyarakat.

 

Meski perjalanan menjadi lebih lambat, banyak orang justru memanfaatkan waktu tersebut untuk mendengarkan musik, podcast, atau sekadar menikmati perubahan suasana kota yang mulai dipenuhi cahaya senja.

 

Perjalanan yang semula terasa melelahkan dapat berubah menjadi momen transisi sebelum memasuki aktivitas bersama keluarga di rumah.

 

 

Tubuh Membutuhkan Waktu untuk Beradaptasi

 

 

Aktivitas sejak pagi membuat tubuh dan pikiran bekerja dalam intensitas yang cukup tinggi. Ketika pekerjaan selesai, tubuh memerlukan waktu untuk menurunkan tingkat kewaspadaan secara bertahap.

 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik sedang sedikitnya 150 hingga 300 menit setiap minggu.

 

Salah satu cara sederhana untuk mencapainya adalah dengan berjalan kaki dalam sebagian perjalanan pulang apabila kondisi memungkinkan.

 

Sebagian pekerja mulai memilih memarkir kendaraan sedikit lebih jauh dari pintu masuk kantor atau turun satu halte lebih awal agar memiliki kesempatan berjalan kaki beberapa menit sebelum tiba di rumah.

 

Kebiasaan tersebut bukan sekadar menambah aktivitas fisik, tetapi juga membantu mengurangi ketegangan setelah berjam-jam duduk di depan komputer atau berkendara.

 

 

Perjalanan Pulang Bisa Menjadi Ruang Refleksi

 

Tidak semua waktu produktif harus diisi dengan pekerjaan. Perjalanan sore sering memberikan ruang untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan sepanjang hari tanpa tekanan target yang harus segera dicapai.

 

Sebagian orang memanfaatkan perjalanan pulang untuk menyusun rencana esok hari. Ada pula yang memilih menghubungi keluarga, tentu setelah berhenti di tempat yang aman atau ketika menggunakan transportasi umum.

 

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan penetrasi internet nasional mencapai 79,5 persen.

 

Kondisi ini membuat akses terhadap informasi, hiburan, maupun komunikasi menjadi sangat mudah selama perjalanan. Tantangannya adalah menggunakan teknologi tersebut secara bijak tanpa mengurangi perhatian terhadap keselamatan.

 

Membiarkan pikiran beristirahat sejenak sering memberikan manfaat yang tidak kalah penting dibanding terus menerima informasi baru sepanjang perjalanan.

 

 

Menutup Hari dengan Perjalanan yang Lebih Nyaman

 

 

Perjalanan sore memang tidak selalu berjalan mulus. Cuaca dapat berubah, lalu lintas bisa lebih padat dari perkiraan, dan waktu tempuh kadang bertambah cukup panjang. Meski demikian, cara seseorang menyikapi perjalanan sering menentukan bagaimana

suasana hati saat tiba di rumah.

 

Berangkat dengan kendaraan yang telah diperiksa kondisinya, menjaga jarak aman, menghindari kebiasaan terburu-buru, serta memilih rute yang paling sesuai merupakan langkah sederhana yang membantu perjalanan tetap nyaman.

 

Kota seperti Surabaya terus berkembang dengan pembangunan infrastruktur transportasi, jalur pedestrian, dan ruang publik yang semakin baik. Perubahan tersebut memberi lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk menjalani mobilitas secara aman sekaligus efisien.

 

Perjalanan sore bukan hanya penutup aktivitas harian. Momen ini menjadi penghubung antara kesibukan pekerjaan dan kehidupan di rumah. Ketika dijalani dengan lebih tenang, perjalanan pulang dapat membantu mengembalikan energi sebelum memulai hari berikutnya.