Minggu, 08 November 2026 13:30 UTC

Ilustrasi: Seni menyatukan warga. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Seni tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipentaskan ketika ada perayaan. Di banyak lingkungan masyarakat Indonesia, kegiatan seperti latihan tari, karawitan, hadrah, dan pertunjukan rakyat menjadi kesempatan bagi warga untuk bertemu, bekerja sama, serta mengenalkan kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Keberadaan kelompok seni di kampung mempunyai fungsi sosial yang sering luput dari perhatian. Anak-anak belajar disiplin melalui latihan, remaja memperoleh ruang berekspresi, sedangkan orang dewasa membangun hubungan dengan tetangga melalui persiapan pertunjukan.
Kegiatan semacam ini menjadi penting ketika interaksi masyarakat semakin beragam. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas individual membuat kesempatan berkumpul tidak selalu mudah ditemukan. Latihan kesenian menawarkan pertemuan yang memiliki tujuan bersama sekaligus memberi pengalaman menyenangkan.
Data Badan Pusat Statistik dalam publikasi Statistik Sosial Budaya 2024 menunjukkan bahwa 47,56 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas pernah menonton pertunjukan seni secara langsung. Sebanyak 27,90 persen menonton secara tidak langsung, sedangkan 24,54 persen tidak menonton pertunjukan seni dalam periode pengamatan survei tersebut.
Angka ini memperlihatkan bahwa kesenian masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat, meskipun pengalaman menikmati pertunjukan tidak selalu diikuti keterlibatan sebagai pelaku.
Seni Tradisional Menjadi Ruang Pertemuan Warga
Kegiatan seni di lingkungan masyarakat biasanya melibatkan lebih banyak orang daripada mereka yang tampil di panggung. Ada warga yang menyiapkan tempat, mengatur perlengkapan, membantu kostum, menyediakan konsumsi, hingga mengurus jadwal latihan.
Pembagian tugas tersebut menciptakan hubungan sosial yang tidak selalu terbentuk melalui pertemuan formal. Warga dari kelompok usia dan latar belakang pekerjaan berbeda dapat saling mengenal karena memiliki tanggung jawab dalam kegiatan yang sama.
Di sejumlah daerah Jawa Timur, misalnya, latihan karawitan, ludruk, jaranan, atau tari tradisional dapat menjadi bagian dari aktivitas komunitas. Bentuk penyelenggaraannya berbeda-beda, bergantung pada kebiasaan masyarakat, keberadaan pelatih, dan dukungan lingkungan.
Anak-anak yang mengikuti latihan berkesempatan mengenal tetangga yang lebih tua. Mereka juga mempelajari cara menghargai orang lain ketika menunggu giliran, mendengarkan arahan, atau menyesuaikan gerakan dengan anggota kelompok.
Hubungan tersebut memberikan manfaat yang lebih luas daripada kemampuan berkesenian. Anak memperoleh pengalaman berinteraksi dengan masyarakat di luar keluarga dan sekolah, sementara warga dewasa mempunyai kesempatan meneruskan pengetahuan yang dikuasainya.
Kesenian juga dapat menjadi ruang pertemuan yang relatif terbuka. Seseorang tidak harus memiliki kemampuan menari atau memainkan alat musik untuk terlibat. Membantu persiapan pertunjukan merupakan bentuk partisipasi yang sama pentingnya bagi keberlangsungan kegiatan.
Banyak Penonton, tetapi Pelaku Seni Masih Terbatas
Besarnya jumlah masyarakat yang menikmati pertunjukan belum tentu menunjukkan tingginya keterlibatan dalam kegiatan seni. BPS mencatat bahwa pada 2024 hanya sekitar 3,47 persen penduduk berusia lima tahun ke atas yang pernah terlibat sebagai pelaku atau pendukung pertunjukan maupun pameran seni dalam periode pengamatan survei.
Persentase keterlibatan perempuan mencapai 3,86 persen, sedangkan laki-laki sebesar 3,08 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan variasi partisipasi berdasarkan jenis kelamin, tetapi tidak menjelaskan secara langsung penyebabnya.
Kesenjangan antara penonton dan pelaku perlu diperhatikan karena keberlanjutan tradisi membutuhkan orang yang bersedia mempelajari, mengajarkan, dan menyelenggarakan kegiatan.
Seseorang mungkin menikmati pertunjukan tari, tetapi tidak mengetahui tempat latihan yang dapat diikuti. Ada pula anak yang tertarik memainkan gamelan, namun belum memperoleh kesempatan mencoba instrumen tersebut.
Hambatan lain dapat berupa keterbatasan waktu, biaya perjalanan, perlengkapan, atau ketersediaan pelatih. Kondisinya berbeda antara satu lingkungan dan lingkungan lainnya sehingga pendekatan pengembangannya tidak bisa disamaratakan.
Kelompok seni masyarakat dapat mengurangi hambatan tersebut dengan membuka latihan pengenalan, memperkenalkan alat musik kepada anak-anak, atau menyediakan kesempatan membantu kegiatan sebelum seseorang memutuskan menjadi anggota tetap.
Pendekatan sederhana ini membuat kesenian lebih mudah diakses tanpa harus menuntut kemampuan sejak awal.
Mengenalkan Budaya Melalui Pengalaman Langsung
Pelestarian seni tradisional tidak cukup dilakukan dengan meminta generasi muda menghafal nama tarian, alat musik, atau sejarah pertunjukan.
Pengalaman langsung memberikan kesempatan memahami bagaimana sebuah karya budaya dibentuk. Ketika anak mencoba memainkan gamelan, misalnya, mereka belajar bahwa setiap instrumen mempunyai peran dan harus dimainkan dengan memperhatikan irama bersama.
Pada latihan tari, peserta tidak hanya menghafal gerakan. Mereka juga mengenal hubungan antara musik, ekspresi, kostum, serta makna yang terkandung dalam penyajian suatu tarian.
Proses pembelajaran semacam ini memungkinkan pengetahuan budaya diteruskan melalui praktik, bukan hanya penjelasan lisan.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menetapkan sepuluh objek pemajuan kebudayaan, meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.
Kerangka tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak terbatas pada pertunjukan. Berbagai pengetahuan dan kebiasaan masyarakat juga merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dikembangkan.
Sekolah, komunitas, dan keluarga dapat mengambil peran berbeda. Sekolah menyediakan kesempatan pengenalan, komunitas menghadirkan ruang praktik, sedangkan keluarga membantu anak menghargai aktivitas budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan generasi muda akan lebih bermakna ketika mereka diberi kesempatan bertanya, mencoba, bahkan mengembangkan cara penyajian yang sesuai dengan kebutuhan zaman tanpa menghilangkan karakter utama tradisi.
Kegiatan Seni Juga Memiliki Nilai Ekonomi
Selain mempererat hubungan masyarakat, kegiatan seni dapat menciptakan aktivitas ekonomi bagi lingkungan sekitarnya. Sebuah pertunjukan membutuhkan beragam kebutuhan, mulai dari busana, perlengkapan panggung, tata suara, dokumentasi, hingga konsumsi. Sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pelaku usaha setempat.
Pengrajin kostum memperoleh peluang pesanan, penyedia jasa dokumentasi dapat menawarkan layanan, sedangkan usaha makanan berpotensi mendapatkan tambahan pelanggan ketika kegiatan menghadirkan pengunjung.
Namun, manfaat ekonomi tersebut tidak muncul secara otomatis. Besarnya peluang bergantung pada skala kegiatan, jumlah pengunjung, kemampuan penyelenggara, serta keterlibatan usaha lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, Badan Pusat Statistik mencatat sektor ekonomi kreatif Indonesia menyerap sekitar 26,48 juta tenaga kerja pada 2024 atau 18,30 persen dari keseluruhan penduduk bekerja.
Sementara itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melaporkan nilai ekspor subsektor kriya mencapai sekitar 6,26 miliar dolar AS pada 2023.
Kedua angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi kreatif nasional, bukan nilai ekonomi khusus pertunjukan seni tradisional. Meski demikian, keduanya menunjukkan bahwa kreativitas dan keterampilan memiliki dimensi ekonomi yang penting.
Kelompok seni masyarakat dapat mengembangkan peluang secara bertahap melalui pertunjukan berkala, kerja sama dengan penyelenggara kegiatan, atau pelatihan keterampilan bagi anggota.
Pengembangan tersebut perlu mempertimbangkan kemampuan kelompok agar kegiatan budaya tidak semata-mata diarahkan menjadi produk komersial. Nilai pendidikan, hubungan sosial, dan kebebasan berekspresi tetap perlu dijaga.
Menjaga Tradisi Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Membangun kegiatan seni tidak selalu membutuhkan gedung pertunjukan atau perlengkapan mahal. Balai warga, aula sekolah, maupun ruang komunitas dapat dimanfaatkan apabila memenuhi kebutuhan latihan dan keselamatan peserta.
Langkah awal dapat berupa pemetaan sederhana mengenai keterampilan yang dimiliki warga. Mungkin terdapat pensiunan pemain musik tradisional, pengrajin kostum, atau orang tua yang pernah menjadi anggota kelompok tari.
Mereka dapat diajak berbagi pengetahuan melalui kegiatan berkala yang disesuaikan dengan waktu masyarakat. Jadwal yang konsisten lebih bermanfaat daripada kegiatan besar yang hanya berlangsung sesekali. Latihan satu kali setiap pekan, misalnya, dapat menjadi pilihan apabila sesuai dengan ketersediaan pelatih dan peserta.
Dokumentasi juga penting. Rekaman latihan, catatan sejarah kelompok, dan penjelasan mengenai asal-usul kesenian membantu anggota baru memahami perjalanan komunitas.
Penggunaan teknologi untuk mendokumentasikan aktivitas tidak harus menggantikan pengalaman langsung. Rekaman dapat menjadi bahan belajar, sementara latihan bersama tetap menjadi tempat utama membangun keterampilan dan hubungan sosial.
Keberlanjutan kelompok seni pada akhirnya bergantung pada kemampuan masyarakat menyediakan ruang bagi anggota lama dan baru. Generasi senior membawa pengalaman, sedangkan generasi muda menghadirkan energi dan kemungkinan pengembangan.
Seni tradisional akan tetap relevan ketika masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan memang menjadi bagian yang terlihat, tetapi proses latihan, kerja sama, dan pewarisan pengetahuan merupakan fondasi yang membuat tradisi terus hidup.
