Puluhan Hektar Sawah Tercemar akibat Pencucian Pasir

Gayuh Satria Wicaksono

Rabu, 20 Maret 2019 - 13:59

JATIMNET.COM, Ponorogo – Sejumlah warga di Desa Desa Sraten, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo tidak bisa menikmati aliran air yang disebabkan tersumbatnya irigasi akibat terjadi penumpukan pasir.

Penyumbatan ini sudah dirasakan warga sekitar sejak tiga bulan terakhir yang diduga berasal dari pencucian pasir di Desa Semanding, Kecamatan Jenangan dan beberapa desa di Kecamatan Ngebel.

Sejumlah warga mengeluh karena air dari sumber tidak bisa mengalir dengan lancar menuju persawahan akibat tebalnya pasir. Biasanya aliran air dari hulu sampai ke persawahan dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun saat ini aliran air bisa mencapai persawahan antara empat sampai enam jam.

“Kondisi seperti ini sudah dialami warga sekitar lima tahunan, sedimentasi paling parah waktu musim hujan seperti saat ini,” kata Kepala Desa Sraten Edi Purnomo (38), Rabu 20 Februari 2019.

BACA JUGA: Ponorogo dan Empat Kiamat Lain yang Kontroversial

Ditambahkan Edi, sedimentasi akan lebih banyak menumpuk yang disebabkan warga jarang menggunakan saluran irigasi karena lebih mengandalkan air hujan. Sehingga limbah pasir akan lebih banyak menumpuk pada saluran air.

Sebaliknya pada musim kemarau banyak warga yang menggunakan air melalui irigasi sehingga banyak limbah pasir yang masuk ke persawahan.

Edi menuturkan selain menutup saluran irigasi warga, limbah pasir ini juga berakibat buruk bagi pertumbuhan tanaman petani. Tidak jarang tanaman petani yang teraliri air dari saluran irigasi tercemar dari pencucian pasir.

“Utamanya pada tanaman yang baru ditanam, kalau padi umur di bawah satau bulan akan semakin sulit muncul anakkannya, karena lengket dengan pasir,” tuturnya.

BACA JUGA: Belasan Warga Ponorogo Jual Harta Benda Hindari Kiamat

Ia menerangkan bukan hanya Desa Sraten saja yang terdampak dari limbah pencucian pasir ini. Ada tiga desa yang terdampak, yakni Jenangan, Panjeng, dan Sedah.

Sementara untuk luasan lahan Sraten paling luas. Di desa ini saja sudah sekitar 80 hektar lahan yang tercemari limbah pasir ini, disusul Desa Panjeng 30 hektar, Sedah 30 hektar, dan Jenangan 20 hektar.

Menurut Edi limbah pasir ini tidak akan separah ini jika para pelaku usaha pencucian pasir tidak menggunakan air irigasi warga. Ia menduga para pelaku usaha melakukan ini untuk menekan biaya produksi.

Hal ini diperparah pengolahan limbah pasir juga ada yang tidak sesuai. Dia menjelaskan berdasar aturan, minimal tiga kolam pencucian baru air di buang ke sungai. Namun yang terjadi selama ini baru satu kolam pencucian, air limbah sudah dibaung ke saluran irigasi warga.

Baca Juga

loading...