Logo

PMII Tuban Gelar Nobar “Pesta Babi”, Soroti Krisis Sosial-Ekologi Hingga Militerisme

Reporter:,Editor:

Jumat, 22 May 2026 02:00 UTC

PMII Tuban Gelar Nobar “Pesta Babi”, Soroti Krisis Sosial-Ekologi Hingga Militerisme

Nobar dan diskusi film Pesta Babi yang digelar oleh PC PMII Tuban Kamis, 21 Mei 2026 di Graha PMII Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding. Foto: PC PMII Tuban.

JATIMNET.COM, Tuban — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi pada Kamis malam, 21 Mei 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Graha PMII, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding itu menjadi ruang refleksi bersama atas berbagai persoalan sosial dan ekologis yang terjadi di Indonesia.

Acara dimulai sejak pukul 18.30 WIB hingga sekitar 23.00 WIB. Tidak hanya menayangkan film garapan Dandhy Dwi Laksono, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pementasan teater, pembacaan puisi, hingga orasi dari mahasiswa.

Puluhan peserta dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum nampak menghadiri kegiatan tersebut. Suasana diskusi berjalan kondusif hingga acara selesai.

BACA: Polemik Film Pesta Babi Meluas ke Isu Demokrasi Kampus

Ketua PC PMII Tuban, Rofiq Wahyudin mengatakan bahwa pemutaran film itu sengaja digelar sebagai upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap kondisi sosial-ekologi yang saat ini terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

“Untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat dan mahasiswa tentang kondisi saat ini,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Menurutnya, forum nobar dan diskusi tidak hanya berhenti pada tontonan semata. Ia berharap hasil pembahasan dalam forum itu dapat menjadi pisau analisa bagi mahasiswa dalam membaca berbagai persoalan di daerahnya masing-masing.

Dalam diskusi tersebut, Rofiq juga menyinggung kondisi Kabupaten Tuban yang dinilainya mulai mengalami pergeseran ruang hidup masyarakat.

Ia merasa khawatir wilayah yang dikenal sebagai Bumi Wali itu suatu saat dapat mengalami persoalan serupa seperti yang terjadi di Papua maupun Kalimantan. Hal ini ketika ruang hidup masyarakat berhadapan dengan kepentingan industri dan eksploitasi sumber daya alam.

“Jangan sampai Tuban mengalami kondisi seperti Papua atau Kalimantan, ketika lahan dan ruang hidup masyarakat terus bergeser untuk kepentingan korporasi,” katanya.

BACA: Larangan Nobar Film “Pesta Babi”, Komnas HAM: Langgar UUD dan HAM Internasional

Selain persoalan lingkungan, ia juga menyoroti pendekatan militerisme yang dinilai masih kerap digunakan pemerintah dalam menghadapi konflik maupun persoalan agraria di sejumlah daerah.

"Seperti di Papua dalam film Pesta Babi, kenapa pemerintah selalu menggunakan pendekatan militerisme? Bahkan sampai 60 tahun," imbuhnya

Meski demikian, Rofiq berharap pemutaran film Pesta Babi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran kritis terhadap isu lingkungan, demokrasi, dan hak-hak masyarakat.

“Harapannya film ini bisa berdampak positif bagi masyarakat di Tuban bahkan secara lebih luas di Indonesia,” imbuhnya.

Pemuda asal Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban itu menuturkan, kegiatan ini diskusi dan nobar ini akan berlanjut ke sesi-sesi berikutnya dengan film yang berbeda.

"Rencana kami mau mengadakan nobar dan diskusi lagi yang isi filmnya bentuk kritik sosial," pungkasya

BACA: Kritik Film Papua Jadi Alarm Evaluasi Proyek Strategis

Sementara itu, diskusi dalam kegiatan tersebut menghadirkan tiga pemantik. Mereka adalah Wawan Purwadi penulis buku Amplop-Amplop Demokrasi, Athoilah selaku Redaktur Jawa Pos Radar Tuban sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro.

Kemudian, Moh. Zidni Ilman Nafia, jurnalis Jatimnet.com sekaligus anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA).

Dalam forum itu, para narasumber membahas berbagai isu mulai dari krisis lingkungan, demokrasi, peran media, hingga gerakan masyarakat sipil dalam merespons perubahan sosial yang terjadi di berbagai daerah.