Logo

Pertamax Turun, Harganya Masih 30 Persen di Atas Harga Juni 2026

Koreksi Rp300 per liter belum menghapus lonjakan harga Pertamax yang terjadi kurang dari dua bulan sebelumnya.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 01 August 2026 03:00 UTC

Pertamax Turun, Harganya Masih 30 Persen di Atas Harga Juni 2026

Ilustrasi: Pengendara mengantre mengisi BBM di stasiun pengisian Pertamina. (Pict: Dx Gen-ai)

JATIMNET.COM, Surabaya – Penurunan harga Pertamax mulai 1 Agustus 2026 belum sepenuhnya mengurangi tekanan biaya bahan bakar yang dihadapi konsumen.

 

Meski harganya turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter, posisi tersebut masih sekitar 30 persen lebih tinggi dibanding harga sebelum kenaikan besar pada Juni 2026.

 

PT Pertamina Patra Niaga memberlakukan harga baru BBM nonsubsidi mulai Sabtu, 1 Agustus 2026. Pertamax turun Rp300 per liter atau sekitar 1,85 persen dibanding Juli. Penyesuaian juga terjadi pada Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo.

 

Namun, jika dibandingkan dengan posisi sebelum 10 Juni, koreksi tersebut baru menghapus sebagian kecil lonjakan harga yang sebelumnya dibebankan kepada konsumen.

 

Sebelum penyesuaian pada 10 Juni 2026, Pertamax dijual Rp12.300 per liter. Harganya kemudian melonjak Rp3.950 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar 32 persen.

 

Setelah penurunan Agustus, konsumen tetap harus membayar Rp3.650 lebih mahal untuk setiap liter Pertamax dibanding posisi awal Juni.

 

Perbandingan tersebut memberikan konteks berbeda terhadap pengumuman penurunan harga. Bagi pengguna yang mengisi 40 liter, misalnya, koreksi Agustus mengurangi pengeluaran sekitar Rp12 ribu dibanding Juli. Namun, dengan volume sama, biaya membeli Pertamax masih sekitar Rp146 ribu lebih tinggi dibanding harga sebelum kenaikan 10 Juni.

 

Pertamina menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mengikuti mekanisme yang berlaku, termasuk mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

 

“Penyesuaian harga BBM Non-Subsidi dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi di Surabaya, Sabtu, 1 Agustus 2026. 

 

Selain Pertamax, Pertamax Green 95 turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter. Pertamax Turbo terkoreksi lebih besar dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter. Sementara itu, Dexlite tetap Rp19.700 dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter.

 

Pertalite juga tetap dijual Rp10.000 per liter. Dengan harga Pertamax Rp15.950, selisih antara kedua jenis bensin tersebut mencapai Rp5.950 per liter. Jarak harga itu menjadi penting karena kenaikan Pertamax sebelumnya telah memengaruhi pilihan sebagian konsumen di Jawa Timur.

 

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus pada Juli mencatat adanya pergeseran konsumsi dari Pertamax menuju Pertalite sekitar 7 hingga 10 persen di Jawa Timur. Perubahan terutama terlihat di wilayah dengan kepadatan kendaraan dan mobilitas masyarakat tinggi.

 

“Secara rata-rata di wilayah Jawa Timur terdapat peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite sekitar 7–10 persen,” kata Ahad. 

 

Pergeseran itu menunjukkan konsumen merespons kenaikan harga bukan hanya dengan menanggung tambahan pengeluaran, tetapi juga mengubah pilihan produk. Kondisi tersebut menjadi relevan karena Pertalite merupakan Jenis BBM Khusus Penugasan yang volume penyalurannya ditetapkan pemerintah.

 

Pertamina sebelumnya menyebut kuota Pertalite untuk Jawa Timur hingga akhir 2026 berada di kisaran 3,96 juta kiloliter. Jika perpindahan konsumen dari Pertamax berlangsung dalam skala lebih besar dan bertahan lama, perubahan pola konsumsi perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pasokan BBM penugasan di daerah.

 

Dampak kenaikan BBM nonsubsidi pada Juni juga tercatat dalam indikator ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi bulanan 2,29 persen pada Juni 2026 dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi.

Komoditas bensin sendiri memberikan andil 0,21 persen terhadap inflasi kelompok transportasi.

 

“Kemudian, pada tanggal 10 Juni 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

 

Tekanan tersebut muncul ketika inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 tercatat 3,36 persen secara tahunan. Secara bulanan, inflasi provinsi ini mencapai 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender berada pada 1,74 persen.

 

Situasi itu membuat perubahan biaya transportasi tetap relevan terhadap pengeluaran masyarakat, terutama kelompok dengan mobilitas harian tinggi.

 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Rahma Gafmi sebelumnya menilai lonjakan harga Pertamax dapat memengaruhi ruang konsumsi kelas menengah. Kebutuhan transportasi yang relatif sulit dihindari membuat rumah tangga berpotensi menyesuaikan pengeluaran lain ketika biaya bahan bakar meningkat.

 

“Akan berdampak pada penundaan belanja non-esensial seperti liburan, hiburan, makan di luar, hingga pembelian barang elektronik,” kata Rahma dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026. 

 

Kondisi itu memperlihatkan bahwa dampak perubahan harga Pertamax tidak berhenti pada biaya pengisian bahan bakar. Kenaikan pengeluaran transportasi dapat mengurangi pendapatan yang tersedia untuk konsumsi lain, sementara pilihan berpindah ke Pertalite berpotensi mengubah pola konsumsi BBM di tingkat daerah.

 

Penurunan harga pada Agustus juga terjadi di tengah pergerakan harga BBM swasta yang tidak seragam. BP 92 turun menjadi Rp16.130 per liter dan BP Ultimate menjadi Rp16.760.

 

Sebaliknya, sejumlah produk diesel justru mengalami kenaikan, menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM pada awal Agustus berbeda menurut produk dan badan usaha.

 

Dengan demikian, penurunan Pertamax sebesar Rp300 per liter belum mengembalikan beban konsumen ke posisi sebelum lonjakan Juni. Harga Rp15.950 masih sekitar 29,7 persen di atas Rp12.300 per liter yang berlaku sebelum 10 Juni.

 

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada pergerakan harga minyak, nilai tukar rupiah serta kebijakan penetapan harga BBM pada periode selanjutnya.

 

Bagi Jawa Timur, perubahan pola konsumsi Pertamax ke Pertalite juga menjadi indikator penting untuk melihat apakah koreksi harga Agustus cukup kuat mengembalikan konsumen ke BBM nonsubsidi atau pergeseran konsumsi akan terus bertahan.