Logo

Muktamar NU Dipersiapkan Jadi Etalase Ekonomi Umat, Bazar Digelar Selama 12 Hari

Persiapan Muktamar ke-35 NU tidak hanya difokuskan pada agenda organisasi, tetapi juga diarahkan menjadi ruang pemberdayaan ekonomi pesantren, UMKM, dan pelaku usaha warga Nahdliyin.
Reporter:,Editor:

Jumat, 31 July 2026 06:30 UTC

Muktamar NU Dipersiapkan Jadi Etalase Ekonomi Umat, Bazar Digelar Selama 12 Hari

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. (Pict: Repro Dx Gen-ai)

JATIMNET.COM, Jombang – Kurang dari satu bulan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), panitia tidak hanya mengebut penyelesaian kebutuhan teknis penyelenggaraan forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.

Di balik agenda pemilihan kepemimpinan dan pembahasan arah kebijakan NU lima tahun ke depan, panitia juga menyiapkan kawasan bazar yang akan berlangsung selama 12 hari sebagai bagian dari upaya menghadirkan dampak ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha, khususnya di Jawa Timur.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Namun, aktivitas ekonomi melalui area bazar dirancang berlangsung lebih panjang agar dapat mengakomodasi peserta, tamu, warga Nahdliyin, hingga masyarakat umum yang diperkirakan memadati kawasan pesantren selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf, sebelumnya memastikan seluruh perangkat kepanitiaan terus mematangkan persiapan agar pelaksanaan muktamar berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Persiapan tidak hanya mencakup ruang sidang, akomodasi peserta, parkir, dan keamanan, tetapi juga fasilitas penunjang yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah area bazar. Berdasarkan hasil rapat panitia yang dipublikasikan NU Online, bazar akan digelar selama 12 hari, lebih lama dibanding pelaksanaan sidang muktamar.

Skema tersebut menunjukkan bahwa panitia tidak sekadar memandang bazar sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai ruang interaksi ekonomi yang dapat mempertemukan pelaku usaha pesantren, UMKM, produk warga Nahdliyin, dan pengunjung dari berbagai daerah.

"Area bazar akan berlangsung selama 12 hari," demikian salah satu poin hasil pematangan persiapan yang disampaikan panitia dalam rapat koordinasi menjelang Muktamar ke-35 NU.

Durasi penyelenggaraan yang lebih panjang membuka peluang terjadinya perputaran ekonomi di sekitar lokasi kegiatan. Ribuan peserta muktamar, peninjau, tamu undangan, relawan, hingga masyarakat yang datang diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan terhadap makanan, penginapan, transportasi lokal, jasa parkir, hingga produk-produk UMKM.

Bagi Kabupaten Jombang sebagai tuan rumah, kondisi tersebut berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian lokal. Hotel, rumah penginapan, pelaku kuliner, pedagang kaki lima, koperasi pesantren, hingga usaha mikro di sekitar kawasan Tambakberas berpeluang memperoleh tambahan aktivitas ekonomi selama rangkaian muktamar berlangsung.

Namun, besarnya potensi ekonomi tersebut juga menghadirkan tantangan bagi panitia. Arus pengunjung yang diperkirakan meningkat selama hampir dua pekan menuntut kesiapan infrastruktur penunjang, mulai dari pengaturan lalu lintas, kapasitas lahan parkir, kebersihan lingkungan, sanitasi, hingga pengamanan kawasan.

Tanpa pengelolaan yang baik, manfaat ekonomi justru dapat dibayangi persoalan kemacetan, penumpukan sampah, maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat sekitar.

Karena itu, panitia terus mempercepat penyelesaian berbagai kebutuhan teknis. Selain area bazar, sejumlah fasilitas yang dipersiapkan meliputi dapur umum, kantong parkir, jalur mobilitas peserta, pusat layanan kesehatan, hingga sistem keamanan terpadu.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga kelancaran pelaksanaan muktamar sekaligus memberikan kenyamanan bagi peserta maupun masyarakat yang hadir.

Di sisi lain, badan otonom NU juga mulai mengintensifkan konsolidasi organisasi menjelang muktamar. Pimpinan Pusat Pagar Nusa, misalnya, memperkuat koordinasi internal sebagai bagian dari kesiapan menyukseskan agenda lima tahunan NU.

Konsolidasi tersebut memperlihatkan bahwa persiapan muktamar tidak hanya berlangsung di tingkat kepanitiaan, tetapi juga melibatkan berbagai elemen organisasi yang berada di bawah naungan NU.

Secara organisatoris, Muktamar ke-35 akan menjadi forum tertinggi untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menetapkan kebijakan strategis, serta memilih kepengurusan baru PBNU.

Namun, dari sisi sosial dan ekonomi, skala kegiatan tersebut menjadikan muktamar sebagai momentum yang dapat menggerakkan aktivitas masyarakat di daerah penyelenggara.

Fenomena tersebut juga mencerminkan perubahan karakter penyelenggaraan muktamar yang tidak lagi dipandang semata sebagai forum internal organisasi.

Dengan melibatkan bazar, pelayanan publik, serta partisipasi pelaku UMKM, penyelenggaraan muktamar diarahkan memiliki dampak yang lebih luas terhadap pemberdayaan ekonomi warga.

Model seperti ini juga sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu agenda pengembangan di lingkungan NU.

Meski demikian, besarnya potensi ekonomi itu akan sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan. Keberhasilan bazar tidak hanya diukur dari banyaknya stan yang terisi, tetapi juga dari sejauh mana pelaku usaha lokal memperoleh manfaat, transaksi ekonomi berlangsung secara sehat, dan penyelenggaraan tetap tertib tanpa mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.

Dengan waktu persiapan yang semakin singkat, panitia kini berpacu menyelesaikan seluruh kebutuhan teknis sebelum ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah mulai berdatangan ke Jombang.

Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi forum pengambilan keputusan strategis organisasi, tetapi juga berpotensi menjadi etalase ekonomi umat yang memperlihatkan sinergi antara pesantren, UMKM, dan masyarakat dalam satu agenda nasional.