Logo

Pengiriman Limbah Cair di Areal Sawah Dihentikan, Sampel Diuji

Reporter:,Editor:

Jumat, 03 July 2026 13:30 UTC

Pengiriman Limbah Cair di Areal Sawah Dihentikan, Sampel Diuji

Limbah cair dari PT Enero sengaja dibuang di areal persawahan pertanian di Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Foto: Wanto

JATIMNET.COM, Mojokerto – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto menghentikan pengiriman limbah cair dari PT Energi Agro Nusantara (PT Enero) ke lahan pertanian di Dusun Sambikerep, Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari.

Kepala DLH Kabupaten Mojokerto Rachmat Suharyono mengatakan bahwa penghentian pengiriman limbah cair itu berdasarkan hasil verifikasi petugas di areal persawahan dusun tersebut, Jumat, 3 Juli 2026.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari laporan warga terkait bau menyengat dampak dari pembuangan limbah cair yang diduga jenis tets atau molase.

"Setelah menerima laporan masyarakat, kami langsung melakukan verifikasi ke lokasi dan memerintahkan penghentian pengiriman limbah," ujar Rachmat.

Hasil verifikasi menunjukkan pembuangan limbah cair berlangsung selama tiga hari, yakni sejak 1 hingga 3 Juli 2026, di lahan pertanian seluas sekitar 2.000 meter persegi. Selama periode tersebut, sebanyak 13 rit truk tangki limbah cair dikirim ke lokasi.

Menurut Rachmat, pemanfaatan limbah cair tersebut dilakukan atas permintaan sejumlah petani di Dusun Sambikerep. Mereka bermaksud memanfaatkan limbah cair dari PT Energi Agro Nusantara (PT Enero) sebagai penyubur tanaman.

Meski demikian, DLH masih mengkaji mekanisme pemanfaatan limbah tersebut sekaligus mendalami potensi dampaknya terhadap lingkungan.

Untuk memastikan jenis dan kandungan limbah yang dibuang, DLH telah mengambil sampel dari lokasi untuk diuji di laboratorium.

Selama proses pemeriksaan berlangsung, pengiriman limbah cair dari PT Enero ke area persawahan dihentikan sementara.

Selain itu, DLH juga berkoordinasi dengan Direktur PT Energi Agro Nusantara. Dari hasil komunikasi tersebut, perusahaan mengakui limbah cair yang dibuang di area persawahan berasal dari aktivitas usahanya.

Sementara itu, Sri Utami,52 tahun, pemilik warung makan di sekitar lokasi, mengaku aktivitas usahanya terganggu akibat aroma tidak sedap yang muncul sejak pembuangan limbah dilakukan.

"Yang terdampak bukan hanya warung saya. Ada sejumlah warung di dekat sini juga terdampak bau menyengat," katanya.

Sri mengatakan pembuangan limbah telah berlangsung selama tiga hari. Bahkan pada hari sebelumnya, lahan pertanian tersebut dipenuhi cairan limbah hingga menyerupai kolam.

"Kemarin lahan itu seperti kolam karena penuh dengan tetes, dan baunya sangat tidak sedap," ujarnya.