JATIMNET.COM, Surabaya - Penangkapan dosen dan aktivis HAM Robertus Robert memantik kecaman dari beragam pegiat demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam siaran persnya mengecam lantaran penangkapan Robert melanggar konstitusi.

Kritik Robert terhadap rencana pemerintah menempatkan kembali prajurit aktif TNI di jabatan sipil dijamin undang-undang 1945 pasal 28E ayat 3 UUD 1945 sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia.

Hal itu juga dibenarkan oleh Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) dan LBH Pers. Dalam siaran persnya, dua lembaga itu menilai Robet sedang mengekspresikan ide dan hal itu dilindungi oleh undang-undang sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia.

BACA JUGA: Dituduh Menghina TNI, Ini Penjelasan Robertus Robet

Sehingga pembungkaman atas kritiknya adalah pelanggaran hukum serius.

Selain itu dua lembaga menilai menjerat Robet menggunakan UU ITE tidak memiliki dasar lantaran pendapat disampaikan secara offline dan tidak melalui perangkat elektronik.

Sehingga penangkapan menggunakan UU ITE adalah upaya kriminalisasi pada Robet.

Selanjutnya jeratan aparat menggunakan pasal berita bohong juga tidak beralasan. Nyanyian yang dibawakan Robert tidak memenuhi tiga unsur dalam pasal tersebut, yaitu pemberitaan, keonaran di masyarakat dan dugaan jika berita itu bohong.

BACA JUGA: Penangkapan Robertus Robet Dianggap Tak Punya Dasar Hukum

ICJR dan LBH Pers juga menyebut penggunaan Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap kekuasan untuk menjerat Robet tidak tepat. Sebab harus ada laporan pengaduan dari objek yang dihina, yaitu Panglima TNI atau Kapolri.

ICJR dan LBH pers menyebut tindakan intimidasi dan kriminalisasi kepolisian berupaya menimbulkan iklim ketakutan dan kebebasan berekspresi di tengah masyarakat.

Sementara SETARA Institute mengingatkan agar elit politik yang terlibat dalam Pilpres tak mempolitisasi kasus dengan narasi yang mengarah pada konservatisasi keagamaan dan etnonasionalisme untuk kepentingan pilpres.

Dalam siaran persnya, SETARA juga meminta aparat melindungi keselamatan Robet yang terancam akibat beragam provokasi di media sosial.

Robertus Robet ditangkap di rumahnya pada Rabu, 6 Maret 2019 sekitar pukul 23.45 WIB oleh kepolisian. Robet telah ditetapkan tersangka karena dituding menghina TNI saat berorasi di aksi Kamisan, 28 Februari 2019 lalu.