PCINU Malaysia Nilai Politik Luar Negeri Indonesia Cukup Berperan

Rochman Arief

Sabtu, 30 Maret 2019 - 23:09

JATIMNET.COM, Kuala Lumpur – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Malaysia menilai politik luar negeri Indonesia sudah cukup berperan dalam membantu menyelesaikan konflik internasional.

“Sejauh ini sudah cukup berperan. Kalau dilihat pasca konflik Arab Spring, banyak negara Timur Tengah belajar tentang menyatukan konsep Islam dan Kebangsaan kepada pemerintah dan ormas-ormas di Indonesia," ujar Wakil Ketua PCINU Malaysia Muhammad Taufiq Ahaz, di Kuala Lumpur, Sabtu 30 Maret 2019.

Ketua Forum Kandidat Doktor (FKD) NU Malaysia ini mengharapkan agar politik Indonesia ke depan lebih berperan secara aktif dalam menangani masalah internasional.

BACA JUGA: NU Jatim Ingatkan Semua Pihak untuk Jaga Lisan

“Harapan saya tentang politik luar negeri Indonesia ke depannya lebih berperan aktif dalam penyelesaian konflik di internasional, terutama isu ekstremisme dan terorisme. Selain itu, harus merangkul negara lain untuk melakukan upaya preventif agar tidak terjadi konflik, paham ekstrimisme dan aksi terorisme," katanya pula.

Kandidat doktor di International Islamic University Malaysia ini tidak menyebut rinci tentang peran politik luar negeri Indonesia dalam menyelesaikan konflik internasional. Namun dia menyebutkan tentang sejumlah seminar yang pernah diselenggarakan.

“Untuk akademisi sudah diadakan seminar moderatisme baik di Indonesia, Belanda, Turki, dan negara lainnya. Belum lagi di kalangan diplomat sudah ada beberapa pertemuan diplomasi untuk membahas konflik dan perdamaian," kata Alumni Al-Ahgaff University Yaman tersebut.

BACA JUGA: PWNU Ingatkan Pengurus Tak Gunakan Lembaga untuk Arahkan Dukungan

Tentang upaya merangkul negara lain, dia mengatakan, bisa dilakukan secara bertahap dan berskala misalnya dimulai dari ASEAN, Asia, Organisasi Konferensi Islam (OKI) hingga PBB.

Taufiq mengatakan dirinya selaku Pengurus Pusat Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) di Timur Tengah, juga pernah mendesak PBNU untuk membentuk Komite Jazirah melihat kondisi beberapa negara di Timur Tengah, yang bertahun-tahun terus dilanda konflik.

Komite Jazirah, lanjut Taufiq, sebagai langkah PBNU untuk ikut serta dalam usaha mencari dan merealisasikan jalan rekonsiliasi Timur Tengah.

Atas nama LPTNU dan pelajar yang studi di Yaman, mereka saat itu menyampaikan lima poin resolusi disampaikan untuk PBNU. (ant)

Baca Juga

loading...