JATIMNET.COM, Surabaya – Puluhan organisasi Masyarakat (Ormas) meminta Kontras berimbang dalam memberikan informasi ke masyarakat. Kedatangannya ke kantor Kontras membantah pernyataan kuasa hukum Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Veronica Koman yang menuduh sejumlah Ormas membawa bambu runcing saat terjadi demo mahasiswa Papua Sabtu, 1 Desember 2018.

“Itu tidak benar, dan ada upaya pemelintiran peristiwa. Kejadian sebenarnya kami tidak membawa bambu runcing, apalagi membuat mahasiswa Papua terluka di kepala," kata Perwakilan dari Ormas Laskar Merah Putih Surabaya, Bahrudin Muhdar, Kamis, 6 Desember 2018.

Bahrudin berharap Kontras dapat memberikan informasi yang benar dengan meminta konfirmasi atau kronologi sebenarnya dari kedua belah pihak. Dia meminta agar tidak menggunakan kacamata kuda saat memberikan penilaian terhadap suatu masalah.

BACA JUGA: FRONT NAS Minta AMP Angkat Kaki dari Surabaya

Kedatangan Ormas ini untuk menanyakan kebijakan hukum dan batasan Kontras terkait isu Papua Merdeka. “Mengapa Kontras sepertinya memberikan ruang kepada AMP, yang jelas-jelas ingin memerdekakan Papua," ucapnya.

Dalam aksi yang berjalan di Jalan Pemuda 1 Desember lalu, Bahrudin menilai AMP menyanyikan lagu Bintang Kejora dan anti NKRI. Menurutnya lagu tersebut benar-benar ada upaya makar dari AMP, dengan menyanyikan lagu Bintang Kejora serta adanya pernyataan sikap Papua merdeka.

Sementara itu, Sekjen Federasi Kontras Indonesia Andi Irfan membantah keterangan Veronica Koman bersumber dari Kontras. “Itu pernyataannya sendiri, bukan kami. Kami ini hanya memberikan fasilitas untuk menggelar rilis, dan kami hanya memberikan pendampingan,” katanya.

BACA JUGA: Puluhan Massa Ormas Datangi Kantor Kontras

Andi menegaskan posisi Kontras sejak 2003 melakukan pendampingan hukum tentang hak sipil dan politik. “Kami hanya melakukan pendampingan, dan dalam dialog tadi semua sudah berjalan baik,” tutupnya.