Neraca Perdangan April Defisit 2,5 Miliar Dolar AS

Rochman Arief

Rabu, 15 Mei 2019 - 17:57

JATIMNET.COM, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 defisit 2,5 miliar dolar AS, yang disebabkan defisit sektor migas dan nonmigas masing-masing sebesar 1,49 miliar dolar AS dan 1,01 miliar dolar AS.

Kepala BPS Suharyanto dalam paparannya mengatakan bahwa pada April 2019, ekspor mencapai 12,6 miliar dolar AS, turun 10,80 persen dibandingkan Maret 2019 yang senilai 14,12 miliar dolar AS.

“Kalau dibandingkan posisi April 2018, ekspor turun sebesar 13,10 persen dari 14,5 miliar dolar AS," katanya.

Sementara itu, impor April 2019 yang tercatat 15,10 miliar dolar AS, naik dari Maret 2019 sebesar 12,25 persen senilai 13,45 miliar dolar AS. Kenaikan terjadi di impor migas sebesar 46,99 persen dan nonmigas sebesar 7,82 persen.

BACA JUGA: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 0,33 Miliar Dolar AS

Meski demikian, Suharyanto menyebut capaian impor April 2019 itu masih lebih kecil dibandingkan dengan nilai impor April 2018 sebesar 16,16 miliar dolar AS.

“Artinya memang ada beberapa komoditas yang dapat dikendalikan impornya sehingga nilai impor April 2019 lebih kecil dibandingkan April 2018," katanya.

Secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang Januari-April 2019 defisit 2,56 miliar dolar AS. Defisit terjadi karena migas defisit 2,7 miliar dolar AS karena hasil minyak yang turun. Sementara nonmigas masih surplus sebesar 204,7 juta dolar AS.

BACA JUGA: Indonesia Butuh Kilang Minyak untuk Tekan Defisit Neraca Perdagangan

“Tentu kita berharap ke depan neraca perdagangan akan membaik,” katanya.

Meski tidak mengamini secara gamblang, defisit neraca perdagangan pada April 2019 ditengarai menjadi yang terdalam setelah Juli 2013 dengan defisit 2,3 miliar dolar AS.

“Kalau data yang ada, Juli 2013 memang defisit mencapai 2,3 miliar dolar AS,” katanya.

Sejumlah hal yang mempengaruhi kondisi saat ini diantaranya perekonomian global yang masih cenderung melambat, harga komoditas yang masih berfluktuasi, perang dagang antara AS dan Tiongkok yang semakin memanas, juga faktor geopolitik yang berpengaruh. (ant)

Baca Juga

loading...