Jumat, 06 November 2026 11:30 UTC

Ilustrasi: Memeriksa masa simpan makanan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Tanggal kedaluwarsa pada kemasan makanan sering diperiksa sekilas sebelum produk dimasukkan ke keranjang belanja. Padahal, informasi tersebut menentukan batas waktu produsen menjamin mutu pangan dalam kondisi penyimpanan yang telah ditetapkan.
Kesalahan membaca tanggal atau mengabaikan petunjuk penyimpanan dapat membuat makanan terbuang sebelum digunakan, bahkan meningkatkan risiko mengonsumsi produk yang sudah tidak layak.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika konsumen menemukan berbagai istilah pada kemasan, seperti best before, expiration date, dan baik digunakan sebelum. Tidak semua istilah memiliki fungsi yang sama dalam praktik pelabelan internasional. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan ketentuan khusus mengenai pencantuman keterangan kedaluwarsa pada pangan olahan.
Memahami informasi tersebut tidak hanya penting ketika berbelanja. Cara menyimpan, membuka, dan menggunakan produk juga memengaruhi kualitas makanan selama berada di rumah.
Apa Arti Tanggal Kedaluwarsa pada Makanan?
BPOM melalui Peraturan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, sebagaimana telah diubah terakhir melalui Peraturan Nomor 6 Tahun 2024, mengatur pencantuman keterangan kedaluwarsa sebagai bagian dari informasi wajib pada label pangan olahan.
Keterangan kedaluwarsa menunjukkan batas akhir suatu pangan dijamin mutunya, sepanjang penyimpanannya mengikuti petunjuk produsen. Artinya, tanggal yang tercantum tidak dapat dipisahkan dari kondisi penyimpanan yang disyaratkan.
BPOM mengatur bahwa pangan olahan dengan masa simpan paling lama tiga bulan harus mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun. Untuk produk dengan masa simpan lebih dari tiga bulan, produsen dapat menggunakan format tanggal, bulan, dan tahun atau bulan dan tahun.
Ketentuan tersebut penting karena konsumen terkadang menganggap semua produk wajib mencantumkan tanggal lengkap. Padahal, format bulan dan tahun juga diperbolehkan untuk kategori masa simpan tertentu.
Tulisan "baik digunakan sebelum" merupakan bentuk keterangan kedaluwarsa yang digunakan dalam ketentuan pelabelan pangan olahan Indonesia. Konsumen tidak sebaiknya menafsirkan tulisan tersebut sebagai izin otomatis untuk mengonsumsi makanan setelah tanggal yang tercantum.
BPOM menegaskan bahwa mutu produk yang melewati batas kedaluwarsa tidak lagi dijamin. Karena itu, pilihan paling aman adalah tidak mengonsumsi produk yang telah melewati batas tersebut.
Mengapa Makanan Bisa Rusak Sebelum Kedaluwarsa?
Tanggal kedaluwarsa ditetapkan berdasarkan karakteristik produk, proses pengolahan, kemasan, serta kondisi penyimpanan yang ditentukan produsen. Jaminan mutu tersebut tidak berarti makanan akan selalu bertahan sampai tanggal terakhir dalam kondisi apa pun.
Suhu penyimpanan yang terlalu tinggi dapat mempercepat perubahan mutu sejumlah bahan pangan. Kelembapan juga dapat memengaruhi tekstur produk kering, terutama apabila kemasannya tidak tertutup rapat.
Biskuit yang disimpan di tempat lembap, misalnya, dapat kehilangan kerenyahannya sebelum mencapai batas kedaluwarsa. Pada produk lain, perubahan suhu atau kerusakan kemasan berpotensi menimbulkan persoalan keamanan pangan yang lebih serius.
Produk yang memerlukan pendinginan membutuhkan perhatian tambahan. BPOM menjelaskan bahwa pangan olahan beku tertentu harus dipertahankan pada suhu minus 18 derajat Celsius sepanjang rantai distribusi dan penyimpanannya.
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa suhu bukan sekadar persoalan kenyamanan penyimpanan. Suhu merupakan bagian dari sistem pengendalian mutu dan keamanan produk.
Makanan yang telah dibuka juga memiliki kondisi berbeda dibandingkan produk yang masih tersegel. Kontak dengan udara, kelembapan, peralatan, dan tangan dapat memperbesar kemungkinan kontaminasi.
Karena itu, tanggal kedaluwarsa pada kemasan yang belum dibuka tidak boleh langsung dianggap sebagai jaminan masa simpan setelah kemasan dibuka. Petunjuk khusus dari produsen harus menjadi acuan.
Kesalahan Penyimpanan Bisa Menambah Sampah Makanan
Kesalahan mengelola persediaan pangan memiliki dampak lebih luas daripada sekadar kehilangan satu atau dua produk di dapur.
Kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas yang diterbitkan pada 2021 memperkirakan timbulan kehilangan dan pemborosan pangan Indonesia selama periode 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton setiap tahun.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Perhitungan Bappenas juga memperkirakan kerugian ekonomi akibat kehilangan dan pemborosan pangan mencapai Rp213–551 triliun setiap tahun, atau sekitar 4–5 persen produk domestik bruto pada periode kajian.
Angka tersebut mencakup kehilangan pangan sepanjang rantai pasok serta pemborosan pada tahap distribusi dan konsumsi. Dengan demikian, seluruh jumlah tersebut tidak dapat dianggap sebagai makanan yang dibuang langsung oleh rumah tangga.
Meski begitu, besarnya nilai kerugian menunjukkan bahwa pengelolaan makanan merupakan persoalan ekonomi sekaligus lingkungan. Produk yang dibuang setelah dibeli berarti kehilangan biaya pembelian, sementara sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya juga tidak memberikan manfaat konsumsi.
Salah satu penyebab pemborosan di rumah adalah kebiasaan menyimpan makanan tanpa mengetahui kapan produk dibeli atau harus digunakan. Barang baru sering diletakkan di depan, sedangkan persediaan lama tertinggal di bagian belakang lemari.
Kebiasaan sederhana seperti memeriksa tanggal sebelum menyusun bahan makanan dapat membantu mengurangi risiko tersebut.
Cara Mengatur Persediaan Makanan di Rumah
Pengelolaan persediaan makanan dapat dimulai dengan menerapkan prinsip first expired, first out, yaitu menggunakan produk yang lebih dahulu mencapai batas kedaluwarsa.
Prinsip ini berbeda dari sekadar menggunakan barang yang pertama dibeli. Produk yang dibeli belakangan mungkin memiliki tanggal kedaluwarsa lebih dekat karena perbedaan masa produksi atau lama penyimpanan sebelum dijual.
Sebagai contoh, sebuah keluarga memiliki tiga kemasan susu dengan batas kedaluwarsa 15 November, 28 November, dan 10 Desember 2026. Produk yang berakhir pada 15 November sebaiknya digunakan terlebih dahulu, selama seluruh kemasan masih dalam kondisi baik dan disimpan sesuai petunjuk.
Pengelompokan bahan makanan juga membantu. Produk kering dapat ditempatkan pada rak khusus, sedangkan bahan yang memerlukan pendinginan harus segera disimpan pada suhu yang sesuai.
Untuk makanan yang telah dibuka, konsumen dapat menuliskan tanggal pembukaan pada wadah. Informasi sederhana ini memudahkan anggota keluarga mengetahui berapa lama produk telah digunakan.
Namun, pencatatan tanggal pembukaan tidak menggantikan petunjuk masa simpan setelah dibuka. Jika produsen menetapkan produk harus dihabiskan dalam waktu tertentu, ketentuan tersebut tetap perlu diikuti.
Kemasan yang menggembung, bocor, rusak, atau menunjukkan tanda kontaminasi juga perlu diwaspadai. Makanan tidak otomatis aman hanya karena tanggal kedaluwarsanya masih lama.
Sebaliknya, makanan yang terlihat normal belum tentu aman setelah melewati batas kedaluwarsa atau mengalami penyimpanan yang tidak sesuai. Perubahan warna dan bau bukan satu-satunya indikator keamanan pangan.
Membeli Sesuai Kebutuhan Lebih Efektif daripada Menimbun
Kebiasaan membeli makanan dalam jumlah besar sering dianggap menghemat waktu dan biaya. Namun, pembelian berlebihan dapat meningkatkan risiko pemborosan apabila konsumsi rumah tangga tidak sebanding dengan persediaan.
Misalnya, keluarga membeli 12 kemasan makanan ringan untuk kebutuhan satu bulan. Jika rata-rata hanya delapan kemasan yang dikonsumsi, empat kemasan lainnya berpotensi tertinggal hingga melewati masa simpan apabila kebiasaan tersebut terus berulang.
Perhitungan kebutuhan sebaiknya mempertimbangkan jumlah anggota keluarga, frekuensi konsumsi, kapasitas penyimpanan, dan masa simpan produk. Pembelian dalam jumlah besar lebih masuk akal untuk makanan yang memang rutin digunakan dan dapat disimpan dengan aman.
Ketika berbelanja, konsumen juga perlu memeriksa kondisi fisik kemasan dan memastikan tanggal kedaluwarsa masih terbaca jelas. Produk dengan tanggal yang dihapus, ditimpa, atau sulit dikenali sebaiknya tidak dibeli.
Pemeriksaan label dapat dilakukan bersamaan dengan membaca komposisi, informasi nilai gizi, nomor izin edar, dan petunjuk penyimpanan. Kebiasaan tersebut membantu pembeli memahami produk secara lebih menyeluruh.
Tanggal kedaluwarsa pada akhirnya bukan hanya angka kecil yang tercetak di bagian belakang kemasan. Informasi tersebut merupakan bagian dari perlindungan konsumen yang berkaitan langsung dengan mutu dan keamanan pangan.
Memahami tanggal kedaluwarsa, menggunakan persediaan berdasarkan urutan masa simpan, serta membeli makanan sesuai kebutuhan dapat membantu keluarga mengurangi pemborosan tanpa mengorbankan keselamatan. Pengelolaan pangan yang baik dimulai dari keputusan sederhana sebelum makanan dibeli, disimpan, dan disajikan.
