Kamis, 05 November 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Cermat membaca label pangan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Membaca label gizi makanan kemasan sering dianggap merepotkan karena dipenuhi angka, satuan, dan istilah yang tidak selalu dipahami. Padahal, informasi tersebut membantu konsumen mengetahui kandungan gula, garam, lemak, dan energi sebelum memutuskan membeli suatu produk.
Kemasan makanan biasanya menampilkan berbagai klaim menarik, seperti rendah lemak, tinggi serat, atau tanpa tambahan gula. Namun, klaim tersebut tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kandungan gizi. Produk yang rendah lemak, misalnya, belum tentu memiliki kandungan gula atau energi yang rendah.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan Peraturan Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Peraturan yang diundangkan pada 17 Juni 2026 tersebut memperbarui ketentuan pencantuman informasi gizi agar konsumen memperoleh keterangan yang lebih terstandar.
Melalui pemahaman sederhana terhadap label, masyarakat dapat membandingkan produk berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata harga, rasa, atau tampilan kemasan. Kebiasaan ini penting karena makanan kemasan telah menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari, mulai dari camilan hingga bahan pelengkap masakan.
Memahami Takaran Saji Sebelum Membaca Angka Gizi
Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika membaca label gizi adalah menganggap seluruh angka berlaku untuk satu kemasan. Padahal, sebagian produk memiliki lebih dari satu sajian sehingga kandungan gizi sebenarnya bergantung pada jumlah yang dikonsumsi.
Takaran saji menunjukkan jumlah makanan atau minuman yang menjadi dasar perhitungan informasi gizi. Satuannya dapat berupa gram, mililiter, atau ukuran rumah tangga seperti sendok, gelas, dan keping.
Sebagai ilustrasi, sebungkus biskuit memiliki berat bersih 120 gram dengan takaran saji 30 gram. Artinya, satu kemasan berisi empat sajian. Jika label menunjukkan energi 140 kilokalori per sajian, menghabiskan seluruh kemasan berarti memperoleh sekitar 560 kilokalori.
Perhitungan tersebut merupakan contoh untuk menjelaskan cara membaca label, bukan data kandungan gizi merek tertentu. Angka sebenarnya harus diperiksa langsung pada kemasan produk yang dibeli.
Keterangan jumlah sajian menjadi penting karena seseorang mungkin menghabiskan satu bungkus makanan tanpa menyadari bahwa nilai gizi yang tercantum hanya mewakili sebagian isinya.
BPOM melalui ketentuan tahun 2026 juga mengatur penyajian informasi takaran saji menggunakan satuan metrik dan, apabila relevan, ukuran rumah tangga. Dengan demikian, konsumen dapat lebih mudah menghubungkan angka pada label dengan porsi yang biasa dimakan.
Perhatikan Kandungan Gula, Garam, dan Lemak
Tiga komponen yang perlu mendapat perhatian ketika membaca label gizi adalah gula, garam, dan lemak. Ketiganya memiliki fungsi dalam makanan, tetapi konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu.
Kementerian Kesehatan menggunakan anjuran batas konsumsi harian gula sebanyak 50 gram, garam 5 gram, dan lemak 67 gram bagi orang dewasa sebagai pedoman umum. Jumlah tersebut sering diperkenalkan melalui prinsip GGL untuk membantu masyarakat mengendalikan asupan sehari-hari.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menganjurkan konsumsi natrium orang dewasa kurang dari 2.000 miligram per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam. Asupan natrium yang terlalu tinggi berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai batas konsumsi total dari berbagai sumber makanan dalam sehari, bukan batas untuk setiap produk. Garam yang berasal dari lauk, makanan ringan, bumbu, dan saus tetap harus diperhitungkan secara keseluruhan.
Misalnya, satu porsi makanan kemasan mengandung 600 miligram natrium. Jika seseorang mengonsumsi dua porsi, asupannya menjadi 1.200 miligram natrium. Jumlah itu setara dengan 60 persen dari batas 2.000 miligram yang dianjurkan WHO bagi orang dewasa.
Konsumen juga perlu membedakan natrium dan garam. Natrium merupakan salah satu komponen garam, sehingga angka dalam miligram natrium tidak boleh langsung dianggap sama dengan berat garam dapur.
Untuk lemak, perhatikan perbedaan antara lemak total dan lemak jenuh. Produk dengan kandungan lemak total tertentu dapat memiliki proporsi lemak jenuh yang berbeda. Informasi tersebut membantu konsumen mempertimbangkan kualitas komposisi makanan, bukan hanya jumlah lemaknya.
Arti Persentase Angka Kecukupan Gizi
Selain kandungan zat gizi dalam gram atau miligram, label pangan juga menampilkan persentase Angka Kecukupan Gizi atau AKG. Informasi ini menunjukkan kontribusi satu sajian terhadap acuan kebutuhan gizi harian.
Persentase AKG membantu pembeli menilai apakah suatu makanan memberikan kontribusi kecil atau besar terhadap kebutuhan zat gizi tertentu. Namun, angka tersebut bukan gambaran kebutuhan individual yang berlaku sama untuk semua orang.
Kebutuhan energi dan zat gizi dapat berbeda menurut usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan keadaan fisiologis. Karena itu, angka pada kemasan berfungsi sebagai panduan pembanding, bukan pengganti penilaian kebutuhan gizi pribadi.
Sebagai contoh, apabila suatu produk mencantumkan lemak jenuh sebesar 20 persen AKG per sajian, satu porsi makanan tersebut menyumbang sekitar seperlima dari nilai acuan harian untuk lemak jenuh.
Jika produk dikonsumsi dua kali lipat dari takaran saji, kontribusinya juga meningkat menjadi sekitar 40 persen AKG. Perhitungan sederhana ini memperlihatkan mengapa ukuran porsi tidak boleh dipisahkan dari informasi persentase.
Konsumen sebaiknya tidak hanya mencari produk dengan angka persentase paling rendah. Protein, vitamin, mineral, dan serat juga memiliki peran penting dalam pola makan. Penilaian yang lebih tepat dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan zat gizi sesuai kebutuhan.
Jangan Terkecoh Klaim pada Bagian Depan Kemasan
Bagian depan kemasan dirancang agar produk mudah dikenali dan menarik perhatian. Produsen dapat menampilkan informasi mengenai rasa, bahan utama, kandungan zat gizi tertentu, atau keunggulan produk sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, istilah seperti rendah gula dan tinggi protein memiliki konteks berbeda. Klaim mengenai satu zat gizi tidak otomatis menjadikan keseluruhan produk lebih sesuai untuk semua konsumen.
Produk tanpa tambahan gula, misalnya, masih dapat mengandung gula yang secara alami berasal dari bahan penyusunnya. Konsumen perlu memeriksa informasi gula total serta daftar komposisi untuk memahami sumber kandungannya.
Demikian pula produk dengan klaim tinggi serat. Kandungan serat yang baik tidak menghilangkan kebutuhan untuk memeriksa energi, gula, lemak jenuh, atau garam. Semua komponen tersebut perlu dinilai secara bersamaan.
Daftar komposisi memberikan informasi tambahan yang tidak selalu terlihat dalam tabel gizi. Bahan pangan umumnya dicantumkan berdasarkan urutan jumlah yang digunakan, dari yang paling banyak hingga paling sedikit, sesuai ketentuan pelabelan.
Perhatian khusus juga diperlukan bagi konsumen yang memiliki alergi makanan. Keterangan mengenai bahan seperti susu, telur, kedelai, atau kacang tertentu dapat membantu menghindari paparan alergen yang berisiko.
Karena itu, membaca bagian belakang kemasan sebaiknya menjadi kebiasaan sebelum membeli produk yang belum pernah dikonsumsi, terutama untuk anak-anak atau anggota keluarga dengan kebutuhan makanan khusus.
Membandingkan Produk dengan Cara yang Tepat
Membandingkan dua produk sebaiknya dilakukan menggunakan dasar takaran yang sama. Perbandingan langsung dapat menyesatkan apabila satu produk mencantumkan kandungan gizi per 25 gram, sedangkan produk lainnya menggunakan takaran 40 gram.
Sebagai contoh, makanan A mengandung 150 miligram natrium per 25 gram, sedangkan makanan B mengandung 200 miligram natrium per 40 gram. Sekilas makanan A terlihat lebih rendah kandungan natriumnya.
Namun, setelah disetarakan menjadi 100 gram, makanan A mengandung 600 miligram natrium dan makanan B mengandung 500 miligram. Dengan dasar perbandingan yang sama, makanan B justru memiliki konsentrasi natrium lebih rendah.
Perbandingan per 100 gram membantu melihat konsentrasi kandungan gizi, sedangkan perbandingan berdasarkan porsi yang benar-benar dimakan membantu memperkirakan asupan nyata. Keduanya berguna untuk tujuan berbeda.
BPOM juga memberikan masa penyesuaian selama 24 bulan sejak pengundangan peraturan tahun 2026 bagi produk yang telah memperoleh perizinan sebelum aturan baru berlaku. Oleh karena itu, konsumen masih dapat menemukan variasi tampilan informasi gizi pada produk yang beredar selama masa transisi.
Kebiasaan membaca label gizi tidak harus dimulai dengan menghafal seluruh istilah. Cukup periksa takaran saji, jumlah sajian, energi, gula, garam, lemak jenuh, dan komposisi bahan yang paling relevan dengan kebutuhan.
Pada akhirnya, cara membaca label gizi yang benar membantu masyarakat memilih makanan secara lebih sadar. Informasi pada kemasan menjadi berguna ketika dipahami dalam konteks jumlah konsumsi, pola makan keseluruhan, dan kebutuhan masing-masing individu.
